Loading...

KAPAN IDUL FITRI 1430 H/SEPTEMBER 2009?

Diposkan oleh Sajid Ahmad Sutikno | 02:49 | | 0 komentar »

Jakarta (ANTARA News)- Pada Idul Fitri 1430 Hijriah sebenarnya ormas-ormas kemungkinan besar akan kompak alias tidak beridul fitri dengan tanggal yang berbeda-beda.


Hal itu karena kondisi hilal (bulan) dan faktor-faktor perhitungan (hisab) lainnya tidak dalam kondisi kritis, di mana bulan cukup tinggi, lebih dari empat derajat di seluruh wilayah Indonesia, sehingga sangat mungkin untuk dirukyat (dilihat).

Seperti tahun-tahun sebelumnya Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah juga sudah menetapkan hari-hari besar Islam jauh-jauh hari sebelumnya yang melalui Maklumat Nomor: 06/MLM/I.0/E/2009 mengumumkan penetapan Idul Fitri jatuh pada Minggu 20 September dan diedarkan ke seluruh pimpinan daerah Muhammadiyah.

Ketua Umum Pimpinan Daerah Muhammadiyah Pamekasan, Imam Santoso membenarkan hal itu, penetapan 1 Syawal 1430 Hijriah itu berdasarkan hisab sebagaimana memang sudah menjadi pegangan Ormas Muhammadiyah dalam menentukan awal Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha, bukan dengan sistem rukyat atau melihat bulan secara langsung.

Pendekatan yang dilakukan adalah dengan pendekatan astronomis bahwa hilal adalah penampakan bulan yang paling kecil yang menghadap bumi beberapa saat setelah ijtimak.

Inilah yang kemudian menjadi kriteria hisab Muhammadiyah bahwa awal bulan baru ditandai dengan wujudnya hilal yang tandanya adalah bila matahari terbenam lebih dahulu daripada bulan.

Cara pandang ini berbeda dengan ormas terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama maupun kebiasaan ormas-ormas Islam lainnya termasuk Departemen Agama (pemerintah) bahkan ulama negera-negara Islam lain.

Dalam hal penentuan awal bulan, mereka menetapkan Idul Fitri harus dengan rukyatul hilal bil fi`li, dengan melihat hilal secara langsung, sementara hisab hanya sebagai alat bantu.

Salah Interpretasi

Semula faktor ini yang menyebabkan perkiraan masyarakat pada Idul Fitri 1430 Hijriah terjadi perbedaan lagi di antara ormas Islam, karena dalam kalender Idul Fitri 1430 Hijriah jatuh pada Senin, 21 September.

Tetapi ternyata para pembuat kalenderlah yang salah menginterpretasikan penetapan libur bersama pada lebaran 2009.

"Selama ini kalendernya salah menyebutkan, yang benar Senin-Selasa 21-22 September adalah `libur` Idul Fitri karena Idul Fitri jatuh pada Minggu, tanggal merah," kata Peneliti Utama Astronomi-Astrofisika LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) Dr. Thomas Djamaluddin.

Ia menuturkan, berdasarkan perhitungan astronomi Idul Fitri jatuh pada Minggu, 20 September. Ini sama dengan perhitungan astronomi yang dilakukan Muhammadiyah.

Anggota Badan Hisab Rukyat (BHR) Depag RI ini mencontohkan, hari besar Maulid Nabi yang jatuh pada Minggu kemudian hari liburnya akan digeser ke Senin di keesokan harinya. Ini menimbulkan salah interpretasi para pembuat kalender.

Menurut dia, ijtima? awal Syawal terjadi pada 19 September 2009 pukul 01:45 WIB sehingga pada saat maghrib 19 September 2009, bulan cukup tinggi, lebih dari empat derajat di seluruh wilayah Indonesia, sehingga hilal sangat mungkin untuk dirukyat.

Dengan demikian pada 20 September sudah memasuki bulan baru yakni bulan Syawal, dan Idul Fitri 1430 H bertepatan dengan 1 Syawal 20 September 2009.

Namun demikian masih tetap harus ada sidang itsbat para tokoh ormas Islam pada Sabtu, 19 September untuk memastikannya serta pengumuman Menteri Agama yang mensahkannya.

Sidang itsbat akan dihadiri perwakilan berbagai ormas Islam, para pakar hisab-rukyat, dan instansi terkait seperti LAPAN, Observatorium Bosscha ITB , Planetarium Jakarta, BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika), serta Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal).

Menurut dia, untuk wilayah Indonesia ketinggian hilal empat sampai enam derajat menurut pengalaman akan berhasil diamati, apa lagi ada 40 titik pengamatan di seluruh Indonesia, baik yang digelar oleh Depag, maupun dari ormas Islam seperti Nahdlatul Ulama (NU) hingga masyarakat seperti Masjid Salman ITB.

"Dari kondisi cuaca, bulan cukup memungkinkan untuk dilihat pada saat sidang itsbat meskipun ada kemungkinan mendung dan tertutup awan," katanya.

Pakar astronomi ini mengakui, saat ini meskipun di wilayah barat Indonesia umur bulan cukup tua dan jelas untuk dilihat, namun kecenderungan awan di wilayah barat ini cukup banyak untuk menutupi bulan terkait Madden?Julian oscillation (MJO) yang sedang aktif dan akan mengganggu rukyat.

Sedangkan di timur meski umur bulan muda dan bulan terlihat tipis, kondisinya relatif kering dan tak berawan sehingga diharapkan bisa berpotensi untuk terlihat.

Ditanya, jika ternyata di 40 titik seluruh Indonesia tak ada yang bisa melihat bulan, menurut Djamal, sidang itsbat akan mempertimbangkan Fatwa Majelis ulama Indonesia (MUI) tahun 1981.

Fatwa itu menyebut: saat hilal tak terlihat tapi secara perhitungan sebelumnya biasanya hilal bisa diamati, maka tetap akan dijadikan patokan awal bulan.

Minggu 20 September

Sementara itu, Pemerintah juga mengindikasikan bahwa Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1430 Hijriyah akan jatuh pada Minggu (20 September), sama dengan perkiraan Muhammadiyah, berbeda dengan dua tanggal merah Idul Fitri di kalender-kalender.

Namun Menteri Agama Muhammad Maftuh Basyuni, mengatakan, untuk memastikan 1 Syawal bertepatan dengan hari Minggu (20/9), akan dilakukan sidang isbath yang dihadiri para ahli hisab dan ru`yat di Departemen Agama Jakarta, pada Sabtu (19/9) petang.

"Sidang Isbath diselenggarakan setelah para petugas yang ditentukan untuk melihat hilal di seluruh wilayah Indonesia melaporkan hasilnya," kata Maftuh Basyuni ketika menghadiri pengesahan rancangan undang-undang (RUU) tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji di gedung DPR, 14 September.

Maftuh memperkirakan, pada Minggu mendatang bulan sudah berada di atas ufuk jadi sudah bisa dilihat oleh petugas yang telah ditunjuk oleh Departemen Agama, kecuali jika cuaca mendung sehingga hilal tidak terlihat.

Perkiraan tersebut didasarkan pada 29 Ramadhan atau Sabtu (19/9) bulan sudah berada di atas ufuk dengan ketinggian 3-5 derajat sehingga sudah bisa dilihat.

"Kalau hilal sudah terlihat pada tanggal 19 September petang, maka akan diumumkan 1 Syawal 1430 Hijriyah bertepatan dengan tanggal 20 September," katanya menegaskan.

Maftuh berharap, pada Sabtu (19/9) udara cerah sehingga para petugas rukyat bisa melihat hilal secara jelas sehingga penentuan bulan baru semakin mudah.

Menurut dia, untuk melihat hilal selain petugasnya yang memiliki pengetahuan juga didukung dengan peralatan canggih seperti teleskop yang memadai.

Dengan demikian, tampaknya pada Idul Fitri 1430 Hijriah, ormas-ormas Islam kompak beridul fitri Minggu 20 September dan masyarakat diharapkan tidak bingung lagi membaca kalender. (*)(Sumber: http://ramadhan.antaranews.com/news/1522/idul-fitri-dan-salah-interpretasi-pembuat-kalender)

BACA SELENGKAPNYA......

ASSALAMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH

تقبل الله منا ومنك



ATAS NAMA KELUARGA BESAR JEMAAT ISLAM AHMADIYAH INDONESIA KABUPATEN WONOSOBO-JAWA TENGAH MENGUCAPAKN ID MUBAARAK, SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1 SYAWAL 1430 H/20 SEPTEMBER 2009 KEPADA KAUM MUSLIMIN MUSLIMAT DI SELURUH INDONESIA DAN MASYARAKAT WONOSOBO. MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN, TAQOBALLAHAHU MINNA WA MINKUM WA SHIAMANA WA SHIAMAKUM wa MINAL AIDIN WAL FAIDZIN. SEMOGA SEGALA AMAL IBADAH KITA DI TERIMA ALLAH SWT. DAN SUKSES MENJADI UMAT NABI KITA MUHAMMAD SAW., AMIN YA ROBBAL ALAMIN, KULLU'AAMIN WA ANTUM BIKHAIR. BARAKALLAHULAKUM WA JAZAKUMULLAHU AHSANAL JAZA.

WASSALAM
PENGURUS CABANG JAI WONOSOBO A/N MUBALIGH SAJID AHMAD SUTIKNO, MUBALIGH NURHADI

BACA SELENGKAPNYA......

ISRA' MI'RAJ NABI MUHAMMAD SAW OLEH JEMAAT AHMADIYAH

Diposkan oleh Sajid Ahmad Sutikno | 00:44 | | 0 komentar »

Wonosobo (19 Juli 2009), tepatnya di dusun Lengkong, desa Binangun kecamatan Watumalang telah diadakan peringatan Isra' mi'raj Nabi Muhammad saw.


Dalam kesempatan itu panitia telah mengundang pembicara tunggal dari Lakpesdam NU Wonosobo, Nurul Mubin, M.si. Peserta yang hadir mencapai lebih dari 400 orang laki-laki dan perempuan. Setelah tilawatil Quran dan lantunan qasidah berisikan sanjungan terhadap Nabi Muhammad saw. acara diisi dengang sambutan-sambutan: dari mubaligh Nurhadi, Kades Binangun, ketua panitia dan ketua jemaat Ahmadiyah Wonosobo- H. Musholim. Kemudian dilanjutkan acara inti, pemaparan materi peringatan Isra' Mi'raj oleh Nurul Mubin, M.si. Banyak hal yang ia sampaikan dalam kesempatan tersebut, meliputi: sejarah Isra' Mi'raj, kisah-kisah pengalaman kerohanian Rasulullah saw dll hingga penyampaian pentingnya saling tashamuh dan ukhuwah Islamiyah diantara kaum muslimin dalam berbagai golongan termasuk Ahmadiyah. Ia pun menyampaikan peristiwa manusia pertama yang mendarat di bulan, Nil Amstrong. Nil Amstrong di bulan mendengar suara adzan dari suatu masjid di Eropa. Tandasnya, dan satu-satunya masjid yang ada di eropa (Inggris) saat itu hanyalah masjid yang di bangun komunitas Jemaat Ahmadiyah (Masjid Fadhl Umar).

BACA SELENGKAPNYA......

Selama 20 tahun terakhir, jumlah kaum Muslim di dunia telah meningkat secara perlahan. Angka statistik tahun 1973 menunjukkan bahwa jumlah penduduk Muslim dunia adalah 500 juta; sekarang, angka ini telah mencapai 1,5 miliar. Kini, setiap empat orang salah satunya adalah Muslim. Bukanlah mustahil bahwa jumlah penduduk Muslim akan terus bertambah dan Islam akan menjadi agama terbesar di dunia.


Peningkatan yang terus-menerus ini bukan hanya dikarenakan jumlah penduduk yang terus bertambah di negara-negara Muslim, tapi juga jumlah orang-orang mualaf yang baru memeluk Islam yang terus meningkat, suatu fenomena yang menonjol, terutama setelah serangan terhadap World Trade Center pada tanggal 11 September 2001. Serangan ini, yang dikutuk oleh setiap orang, terutama umat Muslim, tiba-tiba saja telah mengarahkan perhatian orang (khususnya warga Amerika) kepada Islam. Orang di Barat berbicara banyak tentang agama macam apakah Islam itu, apa yang dikatakan Al Qur’an, kewajiban apakah yang harus dilaksanakan sebagai seorang Muslim, dan bagaimana kaum Muslim dituntut melaksanakan urusan dalam kehidupannya. Ketertarikan ini secara alamiah telah mendorong peningkatan jumlah warga dunia yang berpaling kepada Islam. Demikianlah, perkiraan yang umum terdengar pasca peristiwa 11 September 2001 bahwa “serangan ini akan mengubah alur sejarah dunia”, dalam beberapa hal, telah mulai nampak kebenarannya. Proses kembali kepada nilai-nilai agama dan spiritual, yang dialami dunia sejak lama, telah menjadi keberpalingan kepada Islam.

Hal luar biasa yang sesungguhnya sedang terjadi dapat diamati ketika kita mempelajari perkembangan tentang kecenderungan ini, yang mulai kita ketahui melalui surat-surat kabar maupun berita-berita di televisi. Perkembangan ini, yang umumnya dilaporkan sekedar sebagai sebuah bagian dari pokok bahasan hari itu, sebenarnya adalah petunjuk sangat penting bahwa nilai-nilai ajaran Islam telah mulai tersebar sangat pesat di seantero dunia. Di belahan dunia Islam lainnya, Islam berada pada titik perkembangan pesat di Eropa. Perkembangan ini telah menarik perhatian yang lebih besar di tahun-tahun belakangan, sebagaimana ditunjukkan oleh banyak tesis, laporan, dan tulisan seputar “kedudukan kaum Muslim di Eropa” dan “dialog antara masyarakat Eropa dan umat Muslim.” Beriringan dengan berbagai laporan akademis ini, media massa telah sering menyiarkan berita tentang Islam dan Muslim. Penyebab ketertarikan ini adalah perkembangan yang terus-menerus mengenai angka populasi Muslim di Eropa, dan peningkatan ini tidak dapat dianggap hanya disebabkan oleh imigrasi. Meskipun imigrasi dipastikan memberi pengaruh nyata pada pertumbuhan populasi umat Islam, namun banyak peneliti mengungkapkan bahwa permasalahan ini dikarenakan sebab lain: angka perpindahan agama yang tinggi. Suatu kisah yang ditayangkan NTV News pada tanggal 20 Juni 2004 dengan judul “Islam adalah agama yang berkembang paling pesat di Eropa” membahas laporan yang dikeluarkan oleh badan intelejen domestik Prancis. Laporan tersebut menyatakan bahwa jumlah orang mualaf yang memeluk Islam di negara-negara Barat semakin terus bertambah, terutama pasca peristiwa serangan 11 September. Misalnya, jumlah orang mualaf yang memeluk Islam di Prancis meningkat sebanyak 30 hingga 40 ribu di tahun lalu saja.

Gereja Katolik dan Perkembangan Islam

Gereja Katolik Roma, yang berpusat di kota Vatican, adalah salah satu lembaga yang mengikuti fenomena tentang kecenderungan perpindahan agama. Salah satu pokok bahasan dalam pertemuan bulan Oktober 1999 muktamar gereja Eropa, yang dihadiri oleh hampir seluruh pendeta Katolik, adalah kedudukan Gereja di milenium baru. Tema utama konferensi tersebut adalah tentang pertumbuhan pesat agama Islam di Eropa. The National Catholic Reporter melaporkan sejumlah orang garis keras menyatakan bahwa satu-satunya cara mencegah kaum Muslim mendapatkan kekuatan di Eropa adalah dengan berhenti bertoleransi terhadap Islam dan umat Islam; kalangan lain yang lebih objektif dan rasional menekankan kenyataan bahwa oleh karena kedua agama percaya pada satu Tuhan, sepatutnya tidak ada celah bagi perselisihan ataupun persengketaan di antara keduanya. Dalam satu sesi, Uskup Besar Karl Lehmann dari Jerman menegaskan bahwa terdapat lebih banyak kemajemukan internal dalam Islam daripada yang diketahui oleh banyak umat Nasrani, dan pernyataan-pernyataan radikal seputar Islam sesungguhnya tidak memiliki dasar.

Mempertimbangkan kedudukan kaum Muslim di saat menjelaskan kedudukan Gereja di milenium baru sangatlah tepat, mengingat pendataan tahun 1999 oleh PBB menunjukkan bahwa antara tahun 1989 dan 1998, jumlah penduduk Muslim Eropa meningkat lebih dari 100 persen. Dilaporkan bahwa terdapat sekitar 13 juta umat Muslim tinggal di Eropa saat ini: 3,2 juta di Jerman, 2 juta di Inggris, 4-5 juta di Prancis, dan selebihnya tersebar di bagian Eropa lainnya, terutama di Balkan. Angka ini mewakili lebih dari 2% dari keseluruhan jumlah penduduk Eropa.

Kesadaran Beragama di Kalangan Muslim Meningkat di Eropa

Penelitian terkait juga mengungkap bahwa seiring dengan terus meningkatnya jumlah Muslim di Eropa, terdapat kesadaran yang semakin besar dalam menjalankan agama di kalangan para mahasiswa. Menurut survei yang dilakukan oleh surat kabar Prancis Le Monde di bulan Oktober 2001, dibandingkan data yang dikumpulkan di tahun 1994, banyak kaum Muslims terus melaksanakan sholat, pergi ke mesjid, dan berpuasa. Kesadaran ini terlihat lebih menonjol di kalangan mahasiswa universitas.

Dalam sebuah laporan yang didasarkan pada media masa asing di tahun 1999, majalah Turki Aktüel menyatakan, para peneliti Barat memperkirakan dalam 50 tahun ke depan Eropa akan menjadi salah satu pusat utama perkembangan Islam.

Islam adalah Bagian Tak Terpisahkan dari Eropa

Bersamaan dengan kajian sosiologis dan demografis ini, kita juga tidak boleh melupakan bahwa Eropa tidak bersentuhan dengan Islam hanya baru-baru ini saja, akan tetapi Islam sesungguhnya merupakan bagian tak terpisahkan dari Eropa.

Eropa dan dunia Islam telah saling berhubungan dekat selama berabad-abad. Pertama, negara Andalusia (756-1492) di Semenanjung Iberia, dan kemudian selama masa Perang Salib (1095-1291), serta penguasaan wilayah Balkan oleh kekhalifahan Utsmaniyyah (1389) memungkinkan terjadinya hubungan timbal balik antara kedua masyarakat itu. Kini banyak pakar sejarah dan sosiologi menegaskan bahwa Islam adalah pemicu utama perpindahan Eropa dari gelapnya Abad Pertengahan menuju terang-benderangnya Masa Renaisans. Di masa ketika Eropa terbelakang di bidang kedokteran, astronomi, matematika, dan di banyak bidang lain, kaum Muslim memiliki perbendaharaan ilmu pengetahuan yang sangat luas dan kemampuan hebat dalam membangun.

Bersatu pada Pijakan Bersama: “Monoteisme”

Perkembangan Islam juga tercerminkan dalam perkembangan dialog antar-agama baru-baru ini. Dialog-dialog ini berawal dengan pernyataan bahwa tiga agama monoteisme (Islam, Yahudi, dan Nasrani) memiliki pijakan awal yang sama dan dapat bertemu pada satu titik yang sama. Dialog-dialog seperti ini telah sangat berhasil dan membuahkan kedekatan hubungan yang penting, khususnya antara umat Nasrani dan Muslim. Dalam Al Qur’an, Allah memberitahukan kepada kita bahwa kaum Muslim mengajak kaum Ahli Kitab (Nasrani dan Yahudi) untuk bersatu pada satu pijakan yang disepakati bersama:

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” (QS. Ali ‘Imran, 3: 64)

Ketiga agama yang meyakini satu Tuhan tersebut memiliki keyakinan yang sama dan nilai-nilai moral yang sama. Percaya pada keberadaan dan keesaan Tuhan, malaikat, Nabi, Hari Akhir, Surga dan Neraka, adalah ajaran pokok keimanan mereka. Di samping itu, pengorbanan diri, kerendahan hati, cinta, berlapang dada, sikap menghormati, kasih sayang, kejujuran, menghindar dari berbuat zalim dan tidak adil, serta berperilaku mengikuti suara hati nurani semuanya adalah sifat-sifat akhak terpuji yang disepakati bersama. Jadi, karena ketiga agama ini berada pada pijakan yang sama, mereka wajib bekerja sama untuk menghapuskan permusuhan, peperangan, dan penderitaan yang diakibatkan oleh ideologi-ideologi antiagama. Ketika dilihat dari sudut pandang ini, dialog antar-agama memegang peran yang jauh lebih penting. Sejumlah seminar dan konferensi yang mempertemukan para wakil dari agama-agama ini, serta pesan perdamaian dan persaudaraan yang dihasilkannya, terus berlanjut secara berkala sejak pertengahan tahun 1990-an.

Kabar Gembira tentang Datangnya Zaman Keemasan

Dengan mempertimbangkan semua fakta yang ada, terungkap bahwa terdapat suatu pergerakan kuat menuju Islam di banyak negara, dan Islam semakin menjadi pokok bahasan terpenting bagi dunia. Perkembangan ini menunjukkan bahwa dunia sedang bergerak menuju zaman yang sama sekali baru. Yaitu sebuah zaman yang di dalamnya, insya Allah, Islam akan memperoleh kedudukan penting dan ajaran akhlak Al Qur’an akan tersebar luas. Penting untuk dipahami, perkembangan yang sangat penting ini telah dikabarkan dalam Al Qur’an 14 abad yang lalu:

Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai. (QS. At Taubah, 9: 32-33)

Tersebarnya akhlak Islami adalah salah satu janji Allah kepada orang-orang yang beriman. Selain ayat-ayat ini, banyak hadits Nabi kita SAW menegaskan bahwa ajaran akhlak Al Qur’an akan meliputi dunia. Di masa-masa akhir menjelang berakhirnya dunia, umat manusia akan mengalami sebuah masa di mana kezaliman, ketidakadilan, kepalsuan, kecurangan, peperangan, permusuhan, persengketaan, dan kebobrokan akhlak merajalela. Kemudian akan datang Zaman Keemasan, di mana tuntunan akhlak ini mulai tersebar luas di kalangan manusia bagaikan naiknya gelombang air laut pasang dan pada akhirnya meliputi seluruh dunia. Sejumlah hadits ini, juga ulasan para ulama mengenai hadits tersebut, dipaparkan sebagaimana berikut:

Selama [masa] ini, umatku akan menjalani kehidupan yang berkecukupan dan terbebas dari rasa was-was yang mereka belum pernah mengalami hal seperti itu. [Tanah] akan mengeluarkan panennya dan tidak akan menahan apa pun dan kekayaan di masa itu akan berlimpah. (Sunan Ibnu Majah)

… Penghuni langit dan bumi akan ridha. Bumi akan mengeluarkan semua yang tumbuh, dan langit akan menumpahkan hujan dalam jumlah berlimpah. Disebabkan seluruh kebaikan yang akan Allah curahkan kepada penduduk bumi, orang-orang yang masih hidup berharap bahwa mereka yang telah meninggal dunia dapat hidup kembali. (Muhkhtasar Tazkirah Qurtubi, h. 437)

Bumi akan berubah seperti penampan perak yang menumbuhkan tumbuh-tumbuhan … (Sunan Ibnu Majah)

Bumi akan diliputi oleh kesetaraan dan keadilan sebagaimana sebelumnya yang diliputi oleh penindasan dan kezaliman. (Abu Dawud)

Keadilan akan demikian jaya sampai-sampai semua harta yang dirampas akan dikembalikan kepada pemiliknya; lebih jauh, sesuatu yang menjadi milik orang lain, sekalipun bila terselip di antara gigi-geligi seseorang, akan dikembalikan kepada pemiliknya… Keamanan meliputi seluruh Bumi dan bahkan segelintir perempuan bisa menunaikan haji tanpa diantar laki-laki. (Ibn Hajar al Haitsami: Al Qawlul Mukhtasar fi `Alamatul Mahdi al Muntazar, h. 23)

Berdasarkan pernyataan-pernyataan di atas, Zaman Keemasan akan merupakan suatu masa di mana keadilan, kemakmuran, keberlimpahan, kesejahteraan, rasa aman, perdamaian, dan persaudaraan akan menguasai kehidupan umat manusia, dan merupakan suatu zaman di mana manusia merasakan cinta, pengorbanan diri, lapang dada, kasih sayang, dan kesetiaan. Dalam hadits-haditsnya, Nabi kita SAW mengatakan bahwa masa yang diberkahi ini akan terjadi melalui perantara Imam Mahdi, yang akan datang di Akhir Zaman untuk menyelamatkan dunia dari kekacauan, ketidakadilan, dan kehancuran akhlak. Ia akan memusnahkan paham-paham yang tidak mengenal Tuhan dan menghentikan kezaliman yang merajalela. Selain itu, ia akan menegakkan agama seperti di masa Nabi kita SAW, menjadikan tuntunan akhlak Al Qur’an meliputi umat manusia, dan menegakkan perdamaian dan menebarkan kesejahteraan di seluruh dunia.

Kebangkitan Islam yang sedang dialami dunia saat ini, serta peran Turki di era baru merupakan tanda-tanda penting bahwa masa yang dikabarkan dalam Al Qur’an dan dalam hadits Nabi kita sangatlah dekat. Besar harapan kita bahwa Allah akan memperkenankan kita menyaksikan masa yang penuh berkah ini.

(Sumber : www.eramuslim.com)Di kutip dari:efrialdy.wordpress.com/2009/07/23/islam-agama-yang-berkembang-paling-pesat-di-eropa

BACA SELENGKAPNYA......

Imam Jemaat Ahmadiyah se-dunia; Hadhrat Khalifatul masih IV atba; Hadhrat Mirza Masroor Ahmad kembali melebarkan sayap dakwah Islam di Eropa serta menambah Rumah Allah Ta’ala di Eropa. Beliau atba. Beberapa waktu yang lalu, telah meletakan batu pertama Masjid Darul Amman di Manchester, United Kingdom.

Hingga tahun 2008, MTA Internasional menyebutkan bahwa – Mosques: 299 were added this year, (raising the total to over 15000) — Masjid [yang dikelola Jemaat Ahmadiyah] bertambah hingga 299 Masjid; dan jika ditotal, saat ini Jemaat Ahmadiyah telah mengelola masjid sebanyak lebih dari 15.000 masjid di dunia. (Di kutip dari isamujahidislam.wordpress.com)

Selengkapnya, lihat disini.

BACA SELENGKAPNYA......