"Janganlah kebencian sesuatu kaum mendorong kamu bertindak tidak adil. Berlakulah adil; itu lebih dekat kepada takwa.”

(Al-Maidah ayat 8).

Minggu, 06 April 2014


Wonosobo, 8/4/2011 telah diadakan forum sarasehan sobat umat beriman (FSUB) se-Jateng di Ponpes Larangan Lor, kecamatan Garung.  Bupati, FUB Wonosobo, para tokoh lintas agama hadir meramaikan acara itu.  Tidak ketinggalan Jemaat Ahmadiyah Wonosobo pun hadir, diantaranya Mln. Erik Ahmad Fatih, Sajid Ahmad Sutikno, Yarso Tunggal Moro (anggota Wadaslintang), Afton dan M. Sabar (anggota Madukara Banjarnegara). Dalam kesempatan malam itu, perwakilan Ahmadiyah diminta member sambutan dan menjawab semua pertanyaan peserta FSUB [SAS].






Sehubungan dengan kegiatan penelitian keharmonisan sosial oleh  Abdurrahman Wahid Centre (AWC) UI Depok for Inter-faith Dialogue and Peace di Wonosobo, panitia AWC telah mengadakan Focus Group Discussion (FGD) "Kerukunan Antar Umat Beragama di Wonosobo, Studi Kebijakan Pemerintah Daerah Bagi kalangan Rentan dan Minoritas". Forum diskusi bertempat di ruang pertemuan Lantai dasar Perpusda Wonosobo, pada Rabu, 26/3/14 pukul 13.00-16.30 WIB.
Di kesempatan sore itu panitia menghadirkan para tokoh atau aktifis lintas iman dan kepercayaan. Diantaranya: AWC UI (Ahmad Suaedy-ketua AWC, 2 orang peneliti M. Salehudin dan Dikcy); ketua FKUB Drs. Zaenal Sukawi; koordinator FUB dan Budayawan Akhmad Baihaqi, S.Ag (atau dipanggil Haqqi Al-Ansori); dari Muslim NU diwakili ketua Lakpesdam dan Intelektual muda NU Nurul Mubin, M.Si; dari Muslim Ahmadiyah diwakili 4 orang (Maulana Nurhadi -mubaligh wilayah Jateng II/ Wonosobo dan Banjarnegara; Maulana Sulaiman Ahmad -mubaligh lokal Binangun Watumalang; Sajid Ahmad Sutikno -mubaligh lokal Wonosobo; dan Kyai Sis Ahmad Afandi DPD JAI); dari Muslim Syiah/IJABI (M.Arman Jauhari); Konghucu (Hasan Akli); Budha (Suryo); Tao (Salim), dari Hindu dan Katholik tidak dapat hadir; dari Kristen (GKJ Wonosobo Pdt. Agus Agung Prabowo, S.Th dan GKJ Bendungan, Selomerto Pdt. Agus Suprihana); penghayat kepercayaan Tunggul Sabdo Jati (Kusnandar, sekaligus sebagai tokoh Islam menganut peng-kalenderan Jawa Aboge); wakil Tionghoa; mahasiswa Unsiq; dan perwakilan LKis Jogjakarta. 
Mengawali pembukaan acara, pihak AWC memberi sambutannya dan menyampaikan bahwa pihaknya dalam waktu kurang lebih sebulan ini sudah adakan kunjungan dan wawancara kepada Bupati dan sejumlah pemuka agama, kelompok-kelompok minoritas, para tokoh budaya dan masyarakat, kepada warga, para pedagang, kunjungi beberapa kampung multi-kultural, dll hingga live in di beberapa komunitas seperti Ahmadiyah, live in di kampung Buntu dll. AWC mengatakan, bahwa FGD diselenggarakan di sore ini bertujuan untuk mendiskusikan kembali secara terbuka hal-hal terkait penelitian yang telah dilakukan AWC selama hampir sebulan, dengan harapan dapat menemukan kesimpulan yang relevan. Selanjutnya, akan dijadikan sebuah buku acuan untuk bahan kajian UI dll. Dalam kesempatan tsb, AWC menyampaikan, pihaknya tertarik mengadakan penelitian lapangan adalah "karena ada sejumlah pemimpin lokal yang telah mencoba untuk memperkenalkan kebijakan-kebijakan publik yang menginklusi kelompok-kelompok minoritas dan rentan (vulnerable) ke dalam kepemimpinannya seperti yang terjadi di Wonosobo". Dimana di sejumlah daerah lain telah terjadi peristiwa-peristiwa kekerasan, diskriminasi, pengucilan, dan bahkan pengusiran terhadap kelompok minoritas seperti yang dialami muslim Ahmadiyah dan Syiah, serta Kristen. Dan yang terjadi di Wonosobo adalah sebaliknya, yaitu kehidupan antar umat beragama dan berkeyakinan cukup harmonis.  Hal itu dimungkinkan, diantaranya tidak lepas dari peran aktif kepala daerahnya.
Ketertarikan penelitian AWC bermula dari berita di media Tempo bulan Desember 2012 tentang "kiprah Bupati Wonosobo diakui oleh berbagai kalangan, diantaranya Syiah, Ahmadiyah, Kristen dan lainnya di kabupaten tsb. Yaitu, Bupati (pemda) lebih perhatian dan serius dalam membangun dan mensolidkan masyarakat Wonosobo yang plural".  AWC berupaya menggali "dinamika kerukunan beragama dan peran serta  pimpinan daerah yang mampu menciptakan suatu sistem pemerintah yang merangkul semua lapisan (inklusi), dan melindungi kaum minoritas". Hasil penelitian AWC mendapat temuan bahwa kabupaten Wonosobo mempunyai potensi keharmonisan sosial yang unik dan alami (cultural), selain ada beberapa tempat berpotensi sumbu pendek. Mereka menemukan karakter domain masyarakat Wonosobo adalah suka hidup damai, mereka itu fasih bicara soal kedamaian, serta sejak lama sudah menjadi suatu "budaya  hidup rukun", dan sampai sekarang masih sangat kental dilihat dan dirasakan, serta terawat dengan baik di perkotaan dan alam pedesaan. Ini merupakan proses harmonisasi yang tentu berangkat dari yang bersifat cultural (alami) sebagaimana alam Wonosobo yang sejuk dan dingin. Hal itu dapat ditemukan di beberapa tempat di Wonosobo, seperti di kampung Buntu sebagai kampung multi-kultural berkades seorang pengikut Budha, juga di Watumalang dan di lain tempat. Kemudian ketua FKUB Drs. Sukawi dan koordinator FUB Haqqi al-Ansori menyampaikan, bahwa "karena kerukunan itu bersifat dinamis, maka di Wonosobo akan terus diupayakan membangun atmosfir harmonisasi, baik dengan cara formal maupun non-formal (kultural)". Baik yang sudah berjalan, maupun akan diadakann misalnya: jagongan budaya lintas iman, forum-forum diskusi, pasar murah lintas agama, kemah kebangsaan oleh generasi muda FKUB, safari religi, penanaman pohon kedamaian, dll hingga akan selenggarakan sekolah (studi) keharmonisan beragama yang siswa-siswinya dari anak-anak muda SMA dll.
Ketua Lakpesdam NU, Nurul Mubin menambahkan bahwa selain faktor kultur Wonosobo yang suka damai, juga adanya perguruan tinggi (UNSIQ) yang menyumbangkan kesadaran hidup harmonis lewat akademisi, serta memang sudah lama tercipta dialog-dialog lintas agama, misalnya pernah terjadi dialog antara Islam dan Kristen di GKJ Aku Iki Pepadange Jagad, yang dihadiri banyak orang/peserta dari Muslim dan Kristen. Dari Islam yang hadir saat itu, NU, Muhammadiyah, Ahmadiyah, dan pembicara dari Islam diwakili mubaligh Ahmadiyah, yaitu Muhammad Tsabitun. Dalam forum penuh keakraban tsb, dinyatakan oleh masing-masing pemuka agama dan kepercayaan, bahwa seperti dalam mengurus KTP, pernikahan, administrasi lain tidak ada kendala yang menonjol, semua lancar dan diperlakukan sama sebagai warga NKRI serta kehidupan beragama dalam masyarakat adem ayem. Namun mereka memiliki kekhawatiran apakah setelah Drs. Abdul kholiq Arif Bupati sekarang nanti suasana harmonis ini akan ada yang merawat, apakah bupati selanjutnya bermissi sama? Selain itu ada juga yang mengusulkan agar FKUB, FUB (yang dirintis Haqqi Al-ansori) dan Pemda serta TOGA terus mensosialisasikan kerukunan ini di level akar rumput di seluruh kabupaten Wonosobo. Intinya, diungkapkan kehidupan umat beragama di Wonosobo nyaris tidak ada gangguan pasti, meskipun ada riak-riak kecil (gangguan) pernah terjadi, karena memang Wonosobo berpotensi sebagai daerah sumbu pendek. [SAS]



Wonosobo: dalam rangka pelepasan Dandim Letkol Arm Indro Respati yang akan dipindahkan di tempat tugas baru di Korem Pamungkas D.I Jogjakarta, dan penyambutan Dandim yang baru Letkol Inf Agus Mukhlis Latif, keluarga besar Komando Distrik Militer 0707 kabupaten Wonosobo pada Sabtu, 20/10/12 bertempat di Pendopo menyelenggarakan acara Pisah-Sambut Komandan Kodim.
Dalam kesempatan itu panitia Kodim mengundang banyak kalangan lebih kurang 150 orang tamu yang selama ini sebagai patner Kodim, diantaranya Pengasuh Ponpes, Dewan Gereja, Tomas-Toga, para pengusaha, Pemda, ormas dll termasuk Jemaat Ahmadiyah (diwakili Muhammad Suripto HS, Sajid A.Sutikno, Erik A. Fatih dan Basyarat Ahmad Sanusi).
Acara di mulai pukul 10:30 WIB itu dibuka oleh Drs. H. Abdul Kholiq Arif, M.Si bupati Wonosobo.
Setelah penampilan hiburan dan santap siang, acara dilanjutkan dengan sepatah kata acara pisah dan sambut oleh Dandim Letkol Arm Indro Respati dan Dandim yang baru Letkol Inf. Agus Mukhlis Latif, dilanjutkan dengan bersalaman.
Banyak prestasi yang diraih Dandim Letkol Arm Indro Respati selama bertugas. Banyak yang terkesan dengan jiwa pengabdian, kepemimpinan dan persaudaraan yang diperlihatkannya termasuk kepada Jemaat Ahmadiyah disaat banyak pemberitaan negatif yang beredar di media, pihaknya tidak menginginkan di Wonosobo muncul kekerasan seperti didaerah lainnya. Bahkan sudah menyempatkan diri berkunjung ke komunitas Ahmadiyah di Lengkong, Binangun, Watumalang beserta para stafnya. Warga Ahmadi dan pengurus merasakan komunikasi yang akrab.
Intinya, Kodim selama ini telah menjalankan tugasnya dengan baik dan sesuai perintah pimpinan, juga tidak pernah mengintervensi keyakinan Jemaat Ahmadiyah, bahkan berusaha membantu menstabilkan keamanan dan kondusifitas di wilayah Wonosobo, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.[]



Jombang: Jumat malam (3/1/2014) di Pondok pesantren Tebuireng telah diadakan puncak acara peringatan wafatnya bapak Pluralisme Indonesia, haul Gus Dur ke-4. Acara penuh makna bagi banyak kalangan itu dihadiri Presiden RI SBY dan para tamu penting. Selain ceramah presiden dihadapan lebih dari lima ribu hadirin, juga digelar tahlil akbar, seusai sholat Isya. Sebelumnya, rangkaian peringatan empat tahun meninggalnya mantan Ketua umum PBNU diisi dengan beberapa kegiatan. Diantaranya, pagelaran seni barongsai dan liang-liong oleh komunitas Tionghoa Jombang, kemudian penampilan hadrah seribu rebana (melibatkan ribuan santri dan warga). 

Paket peringatan itu dimulai 22 Desember, dengan diawali pertemuan majelis pengasuh pondok pesantren se-Indonesia. Ada juga dihelat acara dialog budaya dengan narasumber budayawan Emha Ainun Najib.
Di acara puncak haul yang ketat dengan penjaga keamanan di malam itu, para tamu yang hadir didominasi warga nahdliyin Jombang dsk, Gusdurians Jatim, kemudian para tamu undangan yang terdiri dari tokoh lintas agama.

Tidak ketinggalan pula perwakilan Jemaat Ahmadiyah Jawa Timur ikut hadir, diantaranya, Mln. Muharim Awaludin (mubaligh muslim Ahmadiyah Gersik), Budiyono (Ketua muslim Ahmadiyah Surabaya) dan Sajid Ahmad Sutikno (warga muslim Ahmadiyah Jombang).  
Koordinator Gusdurians Jombang, Aan Ansori menginfokan sebelum menuju Ponpes Tebuireng, Gusdurians supaya merapat ke kediaman Ibu Shinta Nuriyah di Jln Juanda Jombang, dengan harapan bisa berangkat bersama rombongan Ibu Shinta, tidak terkecuali perwakilan Ahmadiyah.
Dengan pakaian yang serba basah karena diguyur hujan lebat sepanjang jalan dari Surabaya menuju lokasi haul, perwakilan Ahmadiyah Jatim tetap melaju demi tidak ketinggalan acara. Tibalah di rumah kediaman ibu Shinta, sudah banyak kawan-kawan Gusdurians berkumpul lebih awal bersama Aan Ansori. Kami pun ikut bergabung. Setelah menunggu lebih sejam, kami pun berangkat bersama rombongan ibu Shinta ke Ponpes Tebuireng.



war

Adapun perwakilan Ahmadiyah yang hadir diantaranya, Mln. Sulaiman Ahmad (mubaligh local Lengkong, Binangun, Watumalang), Mln. Erik Ahmad Fatih (mubaligh local Bendungan, Mutisari, Watumalang), Sajid Ahmad Sutikno (mubaligh Wonosobo) serta wakil ketua DPD Jemaat Ahmadiyah Wonosobo, Kyai Sis Ahmad Afandi [SAS].

Wonosobo: Sabtu (21/12/13) berlokasi di gedung serbaguna Mapolres Wonosobo telah diadakan rapat persiapan menghadapi hari Natal dan tahun baru 2014. Dalam kesempatan itu, Kapolres telah mengundang banyak pihak, termasuk para tokoh agama. Diantaranya, Kodim, wakil Bupati, dinas pekerja umum (PU), Banser, GP Ansor, tokoh agama Kristen dan Katholik, serta banyak lagi. 

Tidak seperti biasanya dilakukan para Kapolres sebelumnya, kali ini Kapolres AKBP Agus Pujiyanto, S.H., M.Si mengikut-sertakan Jemaat Ahmadiyah hadir di momen rapat penting tersebut. 

Intinya, pertemuan itu membahas persiapan jelang Natal dan tahun baru, baik lalu lintas, kondisi jalan yang akan dilalui pemudik, keamanan dll. Bertujuan tetap bisa terjaga keharmonisan dan kenyamanan umat beragama dalam menjalankan ritual agamanya, dalam hal ini terfokus untuk kaum Kristen dan Katholik, hingga tahun baru.