"Janganlah kebencian sesuatu kaum mendorong kamu bertindak tidak adil. Berlakulah adil; itu lebih dekat kepada takwa.”

(Al-Maidah ayat 8).

Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Januari 2015

“Saya tidak mau bubarkan Ahmadiyah!” di depan peserta Konferensi Nasional Hak Kebebasan Beragama/Berkeyakinan di Kuningan Royal Hotel (3/6/2014) Bupati Wonosobo Drs. H. Abdul Kholiq Arif, M. Si. mengisahkan kembali sikap dan pendiriannya ketika Menteri Agama Suryadharma Ali memanggilnya ke Jakarta beberapa hari setelah dirinya tampil dalam talkshow di sebuah televisi swasta. Di program acara televisi itu bupati yang mengaku sebagai santrinya Gus Dur ini mengemukakan pandangannya bahwa Ahmadiyah mempunyai hak yang sama dan harus diberikan ruang yang setara dengan pemeluk Islam dan agama atau keyakinan lainnya di Wonosobo.
Kisah ini ia sampaikan menjawab pertanyaan peserta konferensi Pdt. Erde Brutu yang mewakili 16 gereja di Aceh Singkil yang ditutup paksa oleh pemerintah. Erde Brutu yang gerejanya disegel dan kerap mendapat ancaman serangan menanyakan kepada sang bupati yang muslim ini, “Apakah pemimpin daerah yang beragama Islam memberi bantuan kepada gereja itu kafir? Di daerah kami Aceh Singkil yang penduduknya 15% Kristen, tidak pernah gereja mendapat bantuan. Pernah sekali saja pemimpin daerah menyumbang pembangunan sebuah gereja yang mau roboh 30 juta. Setelah itu tidak ada lagi karena dia dikecam dan dianggap kafir.”
Sebelum peraih penghargaan “Tokoh Tempo 2012 Bukan Bupati Biasa” ini menyampaikan kisah di atas, Kholiq Arif memberikan jawaban yang tegas dan bernas, “Justru seorang pemimpin yang tidak memfasilitasi minoritas, itu tidak adil dan kufur.”
Baginya semua warga yang sama-sama membayar pajak harus difasilitasi negara. Parktik seperti ini ia teladani dari Nabi Muhammad yang tidak berlaku diskriminatif terhadap penduduk non-muslim yang ada di Madinah. Keteguhan prinsip yang ia kembangkan mengacu pada tuntunan agama yang memerintahkan seorang pemimpin untuk berlaku adil. “Karena mereka semua membayar pajak, maka harus difasilitasi. Sampai kuburan Kristen harus kami fasilitasi,” ia menambahkan rencana pembangunan area kuburan Kristen atau Katolik di samping “bong Cina,” tempat pemakaman etnis Cina.
Hal itulah yang mendorong komitmen mantan wartawan Jawa Pos ini untuk membangun harmonisasi keberagaman agama dan memberikan ruang yang setara kepada semua kelompok minoritas di Wonosobo. “Di daerah kami sudah menjadi kebiasaan bagi Banser untuk mengawal ibadah Paskah dan Natal. Sebaliknya, pemuda-pemuda Kristen dan Katolik menciptakan kenyamanan umat Islam yang menunaikan salat Idul Fitri di antaranya dengan berjaga dan menyediakan palstik-plastik hitam untuk menyelamatkan sandal dan sepatu.”
Selain Kristen, Katolik, Budha, Hindu, dan Konghucu, di Wonosobo juga beragam aliran dalam Islam hidup harmonis. Selain NU yang mayoritas, Muhammadiyah juga banyak. Ahmadiyah ada 6000; Syiah 250 dengan ragamnya masing-masing. Ada juga Aboge, Alif Rebo Wage, yang kalender puasanya tidak pernah mengikuti pemerintah, dan kelompok-kelompok Salafi, dan sebagainya. Demikian Kholiq Arif deskripsikan keberagaman di wilayahnya.
Selama ini prinsip menghidupkan harmoni melalui upaya-upaya memfasilitasi lintas agama dan keyakinan di Wonosobo didukung langkah-langkah nyata bupati – yang pada bulan lalu (23/5/2014) diganjar “Penghargaan Pluralisme” sebagai pemimpin daerah penegak kebebasan beragama dan berkeyakinan oleh Jaringan Antariman Indonesia (JAII) – dengan mengembangkan bentuk komunikasi harian terhadap stakeholders, terutama polisi dan tentara, yakni memfasilitasi mereka untuk menciptakan ketertiban dan keamanan di tengah perbedaan. Masyarakat juga harus dilibatkan dengan mengagendakan pertemuan lintas agama yang rutin, baik formal maupun informal. Diskusi bersama-sama penganut Sunni, Syiah, dan Ahmadiyah untuk saling memahami dan bersilaturahmi juga kerap digelar. Bersama Percik Salatiga mengembangkan pendidikan pluralisme. Kegiatan menanam pohon lintas agama dan keyakinan diselenggarakan di Bukit Maria, Kapencer, Kertek. Kemah pemuda lintas agama rutin dilakukan.
Karena itu, pantang buat sang Bupati Wonosobo membubarkan Ahmadiyah. Selain menyebutkan bahwa memperlakukan minoritas secara tidak adil adalah kekufuran, kafir, alasan lain yang ia sampaikan untuk tidak mematuhi SKB tentang Ahmadiyah, ”Pertama, sebelum saya lahir Ahmadiyah sudah ada di Wonosobo, bahkan sebelum Indonesia merdeka. Kedua, saya akan dicemooh sejarah!!!” (Thowik SEJUK).

Kepala Daerah Peduli Kaum Minoritas (1)

6 Januari 2015 4:16 WIB Category: Berita Utama, SmCetak A+ / A-
SM/Edy Purnomo LINTAS AGAMA: Bupati Wonosobo Kholiq Arief  berdialog dengan tokoh lintas agama usai menggelar pertemuan rutin di Alun-alun Wonosobo, belum lama ini. (30)
SM/Edy Purnomo
LINTAS AGAMA: Bupati Wonosobo Kholiq Arief berdialog dengan tokoh lintas agama usai menggelar pertemuan rutin di Alun-alun Wonosobo, belum lama ini. (30)
Penelitian Abdurrahman Wahid Center menyebutkan, dua kota di Jateng, yakni Wonosobo, dan Solo, menjadi kota yang ramah terhadap kaum minoritas.  Wonosobo dinyatakan sebagai kota yang toleran terhadap kaum Ahmadiyah dan sekte-sekte keagamaan. Sementara Solo sebagai kota toleran terhadap kaum disabilitas.
ADA yang berbeda, semenjak Kholiq Arief (46) menduduki menjadi jabatan penting di Pemerintahan Kabupaten Wonosobo, 14 tahun silam. Setiap Jumat, dia keliling masjid, setiap malam Senin mengunjungi warga yang sakit di rumah, dan setiap Sabtu siang ikut pengajian Kliwonan di Al Manshur.
Bersama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Wonosobo, Kholiq mengadakan Kemah Kebangsaan diikuti para generasi muda lintas agama di lereng Gunung Sindoro, tepatnya di Desa Buntu, Kecamatan Kejajar.
Kegiatan itu digelar tak lain sebagai upaya menjaga kerukunan umat beragama.
”Selama ini, harmonisasi kerukunan umat beragama di Wonosobo sudah terbina baik. Semua elemen masyarakat perlu bersatu untuk menjaga keharmonisan dan kerukunan, meski dalam pemilu nanti politiknya berbeda-beda,” katanya.
Menurut dia, harmonisasi sosial terbangun dari komunikasi yang baik antartokoh agama. Selain FKUB, forum komunikasi pimpinan daerah selama ini efektif menjadi ruang berkoordinasi terhadap masalah-masalah timbul di tengah masyarakat.
Secara rutin dalam forum coffe morning yang digelar sebulan sekali bersama para tokoh di pendapa juga menjadi salah satu ruang untuk merekatkan berbagai komunitas maupun agama untuk memikirkan Wonosobo.
Menurutnya, jika saran itu masuk dari masyarakat secara langsung maka kebijakan yang ditempuh bisa tepat. Dia beralasan kalau penganut dari berbagai agama bersatu maka pembangunan di Wonosobo akan lebih cepat tercapai.
Menurutnya, sesuai pesan Gus Dur kepadanya, menjadi pemimpin harus senantiasa menjaga kerukunan dan kedamaian. Hal itu, secara tidak langsung akan mampu menunjukkan kepada masyarakat luas akan terjaganya harmonisasi antarumat beragama di Wonosobo.
Gesekan
Untuk menggerakkan kalangan muda lintas agama, pertunjukan barongsai menjadi salah satu kegiatan seni kerukunan karena pemainnya berasal dari Budha, Tionghoa, Kristen, dan Islam.
Untuk penganut Ahmadiyah, Syiah, dan penganut Aboge, Kholiq menjadi penjaga gawang dalam setiap ada isu miring. Bentuk perlindungannya antara lain saat Ahmadiyah di sejumlah kota besar disudutkan, dia mengundang Ahmadiyah, FKUB, dan MUI untuk duduk bareng diskusi.
Setelah itu, mendeklarasikan upaya menjaga kedamaian. Sejumlah penganut Ahmadiyah juga menjadi bagian dari pengambil kebijakan untuk komunitasnya.
Kholiq menjadi salah satu perawat toleransi di Republik ini, setelah negara absen memenuhi kewajibannya dalam merawat keberagaman.
Bukan toleransi yang dibatasi sekadar untuk menghindari konflik, melainkan dengan cinta yang tak berbatas terhadap kemanusiaan terutama kaum minoritas, seperti penganut Ahmadiyah dan Syiah yang jumlahnya mencapai 20.000 di Wonosobo.
Kholiq masih mempunyai mimpi selain menjaga kerukunan, kondisi keamanan harus dipertahankan bersama oleh masyarakat. Dia mengkhawatirkan adanya gesekan keamanan setelah dia tidak menjabat sebagai pimpinan daerah.
Penghargaan yang diterima Wonosobo sebagai daerah ramah terhadap kaum minoritas tak bisa dipisahkan dari campur tangan Kholiq Arif. Bupati muda ini dinilai melindungi penganut Ahmadiyah dan Syiah yang menjadi kaum minoritas.
Mantan wartawan ini menjadi penjaga gawang keharmonisan penganut lintas agama dalam setiap kebijakan selama menjadi kepala daerah.
Pertengahan 2014, Kholiq juga menerima penghargaan harmonisasi umat beragama dari Jaringan Antar Iman Indonesia (JAII), sebagai tokoh pluralisme.
Koordinator Lingkar Studi Agama dan Sosial Wonosobo, Haqi El Ansyari memandang tingkat toleransi beragama di Wonosobo membaik. Aktivis Wahid Institut ini berpendapat sejauh ini peran aktif pemerintah daerah menjadi salah satu kunci menjaga harmonisasi agama.
Menurutnya, sekitar tujuh tahun ini dia bersama tokoh muda NU, seperti Banser dan Ansor bersama-sama saling menjaga tempat ibadah di Wonosobo saat digelar peringatan hari besar agama.
Dia mengatakan, di Desa Buntu, Kecamatan Kejajar, setiap pembangunan masjid pemuda Kristen ikut bergotong-royong membantu, begitu pula sebaliknya. Setiap ada hajatan desa juga iuran bersama dan pihaknya juga ikut yasinan dan pengajian yang digelar oleh umat Islam. Haqi menyebut Kholiq adalah bupati guyub rukun bagi kaum minoritas. (Edy Purnomo-71) sumber: http://berita.suaramerdeka.com/smcetak/kholiq-bupati-guyub-perawat-keberagaman/

Minggu, 06 April 2014


Jombang: Jumat malam (3/1/2014) di Pondok pesantren Tebuireng telah diadakan puncak acara peringatan wafatnya bapak Pluralisme Indonesia, haul Gus Dur ke-4. Acara penuh makna bagi banyak kalangan itu dihadiri Presiden RI SBY dan para tamu penting. Selain ceramah presiden dihadapan lebih dari lima ribu hadirin, juga digelar tahlil akbar, seusai sholat Isya. Sebelumnya, rangkaian peringatan empat tahun meninggalnya mantan Ketua umum PBNU diisi dengan beberapa kegiatan. Diantaranya, pagelaran seni barongsai dan liang-liong oleh komunitas Tionghoa Jombang, kemudian penampilan hadrah seribu rebana (melibatkan ribuan santri dan warga). 

Paket peringatan itu dimulai 22 Desember, dengan diawali pertemuan majelis pengasuh pondok pesantren se-Indonesia. Ada juga dihelat acara dialog budaya dengan narasumber budayawan Emha Ainun Najib.
Di acara puncak haul yang ketat dengan penjaga keamanan di malam itu, para tamu yang hadir didominasi warga nahdliyin Jombang dsk, Gusdurians Jatim, kemudian para tamu undangan yang terdiri dari tokoh lintas agama.

Tidak ketinggalan pula perwakilan Jemaat Ahmadiyah Jawa Timur ikut hadir, diantaranya, Mln. Muharim Awaludin (mubaligh muslim Ahmadiyah Gersik), Budiyono (Ketua muslim Ahmadiyah Surabaya) dan Sajid Ahmad Sutikno (warga muslim Ahmadiyah Jombang).  
Koordinator Gusdurians Jombang, Aan Ansori menginfokan sebelum menuju Ponpes Tebuireng, Gusdurians supaya merapat ke kediaman Ibu Shinta Nuriyah di Jln Juanda Jombang, dengan harapan bisa berangkat bersama rombongan Ibu Shinta, tidak terkecuali perwakilan Ahmadiyah.
Dengan pakaian yang serba basah karena diguyur hujan lebat sepanjang jalan dari Surabaya menuju lokasi haul, perwakilan Ahmadiyah Jatim tetap melaju demi tidak ketinggalan acara. Tibalah di rumah kediaman ibu Shinta, sudah banyak kawan-kawan Gusdurians berkumpul lebih awal bersama Aan Ansori. Kami pun ikut bergabung. Setelah menunggu lebih sejam, kami pun berangkat bersama rombongan ibu Shinta ke Ponpes Tebuireng.



war

Adapun perwakilan Ahmadiyah yang hadir diantaranya, Mln. Sulaiman Ahmad (mubaligh local Lengkong, Binangun, Watumalang), Mln. Erik Ahmad Fatih (mubaligh local Bendungan, Mutisari, Watumalang), Sajid Ahmad Sutikno (mubaligh Wonosobo) serta wakil ketua DPD Jemaat Ahmadiyah Wonosobo, Kyai Sis Ahmad Afandi [SAS].

Wonosobo: Sabtu (21/12/13) berlokasi di gedung serbaguna Mapolres Wonosobo telah diadakan rapat persiapan menghadapi hari Natal dan tahun baru 2014. Dalam kesempatan itu, Kapolres telah mengundang banyak pihak, termasuk para tokoh agama. Diantaranya, Kodim, wakil Bupati, dinas pekerja umum (PU), Banser, GP Ansor, tokoh agama Kristen dan Katholik, serta banyak lagi. 

Tidak seperti biasanya dilakukan para Kapolres sebelumnya, kali ini Kapolres AKBP Agus Pujiyanto, S.H., M.Si mengikut-sertakan Jemaat Ahmadiyah hadir di momen rapat penting tersebut. 

Intinya, pertemuan itu membahas persiapan jelang Natal dan tahun baru, baik lalu lintas, kondisi jalan yang akan dilalui pemudik, keamanan dll. Bertujuan tetap bisa terjaga keharmonisan dan kenyamanan umat beragama dalam menjalankan ritual agamanya, dalam hal ini terfokus untuk kaum Kristen dan Katholik, hingga tahun baru. 


Jumat, 07 Maret 2014

Apabila anda berjalan-jalan di kota London maka pada badan bus-bus kota yang berseliweran disana anda akan membaca tulisan besar berbunyi : “Muslims for Loyalty, Freedom and Peace ”.
Promosi pesan damai tersebut merupakan bagian dari kampanye nasional yang diluncurkan oleh komunitas Muslim tertua di Ingris; Komunitas Muslim Ahmadiyah dalam rangka untuk menegaskan kembali tentang prinsip-prinsip Islam yang damai. Kampanye ini juga mempunyai tujuan untuk menandingi upaya kaum ektrimis yang menggunakan Islam untuk tujuan dan alasan politik.

Sekitar 100 bus di London membawa pesan damai tersebut.
Selain itu Jamaah Muslim Inggris juga akan mengambil bagian dalam kampanye nasional dengan cara membagi-bagikan selebaran yang menjelaskan tentang prinsip-prinsip Islam sejati.
Selebaran tersebut menegaskan kepada masyarakat sebuah moto “Love for All Hatred for None.” dan menjelaskan mengenai kunci keyakinan di balik agama. Ini termasuk hak-hak yang sama untuk semua dan melindungi kekeramatan hidup.
Selebaran itu berbunyi: “Islam menekankan kesucian hidup dan tegas menolak kekerasan dan terorisme dalam bentuk apapun (termasuk pemboman bunuh diri) demi untuk alasan apapun.
Kampanye ini direncakan akan berlangsung hingga enam bulan, dengan menjadikan wilayah perkotaan sebagai sasaran pertama. Ditahap awal kampanye ini, Komunitas Ahmadi mentargetkan pesannya sampai kepada 10% dari populasi penduduk kota, dan dapat mengunjungi setidaknya tiga juta rumah tangga.
Shahid Malik, anggota parlemen untuk wilayah Dewsbury dan Mirfield mengatakan, kampanye ini telah “mempromosikan pemahaman dan eksplorasi yang lebih luas tentang Islam pada masyarakat Inggris.
Kampanye ini datang pada saat Islamofobia nampak semakin meningkat.
Hasil survey dari The British Social Attitudes yang dirilis awal bulan ini menunjukkan bahwa hanya seperempat dari jumlah penduduk yang menilai positif terhadap Islam, sementara 55% dari penduduk menentang rencana pembangunan masjid besar yang dibangun di daerah mereka.
Tuan Rafiq Hayat, presiden Asisoasi Nasional Musim Ahmadiyah Inggris mengatakan: “Islam sejati yang damai terpisah jauh dari kebencian seperti yang dikhotbahkan oleh kaum minoritas ekstremis yang sama sekali tidak mewakili Islam, setiap hari melalui media, kata-kata dan perbuatan mereka justru memiliki dampak yang merusak bagi ummat Muslim dan non-Muslim.
“Dengan menekankan nilai-nilai yang di highlight dalam kampanye ini kami berharap dapat memfasilitasi pemahaman Islam yang lebih baik sehingga orang dapat menilai sendiri tindakan-tindakan mereka yang mengaku berbicara dan bertindak atas nama Islam. Islam menekankan untuk penyebarluasan kedamaian, baik dalam kata-kata maupun perbuatan”
Untuk informasi lebih lanjut tentang kampanye tersebut anda bisa mengunjungi www.loveforallhatredfornone.org sebuah situs yang telah diluncurkan untuk mendukung tujuan ini.
(((Posting lain yang berhubungan dengan topik ini, bisa dibaca di IslamNet.))) http://denagis.wordpress.com/2010/01/26/pertama-dalam-sejarah-pesan-damai-islam-di-bis-bis-kota-london/
Majelis Khuddamul Ahmadiyya (Pemuda Muslim Ahmadiyah) menghabiskan waktu Sabtu Sore di Paris mempromosikan pesan bahwa Islam adalah agama damai.

“Kami ingin menghilangkan mitos apapun tentang apa yang Alquran gambarkan”, kata Umar Riaz. “Beberapa orang berfikir Islam adalah agama terorisme, tetapi jika anda telah melakukan penelitian sendiri, Anda akan menyadari bahwa tidak ada satupun di dalam Alquran terdapat ayat-ayat tentang terorisme. Semuanya tentang perdamaian dan kasih sayang sesama manusia.”

Relawan dari Pemuda Muslim Ahmadiyah mendirikan pameran di Perpustakaan Paris pada akhir pekan untuk mendidik, menginformasikan dan mendiskusikan Islam.

Ahmadiyah adalah sebuah sekte Islam yang didirikan pada 1889 di India yang telah mempunyai cabang di seluruh dunia, saat ini di seluruh Kanada telah memiliki 65 cabang.

Adam Alexander, koordinator acara mengatakan Jamaah Ahmadiyah mulai bertabligh secara damai segera setelah peristiwa pembakaran Alquran oleh Pastur Terry Jones di Florida pada April tahun lalu.

“Beberapa negara-negara muslim kehilangan pikiran mereka dalam masalah ini,” kata Alexander. “Tetapi pemimpin Ahmadiyah mengatakan bahwa satu sisi ini adalah kesalahan umat Islam sendiri karena kita tidak benar menggambarkan Aluran dengan cara yang seharusnya.”

Pemuda Ahmadiyah telah mengadakan sesi informasi di 125 komunitas kecil di Kanada setelah hampir satu tahun dari pintu ke pintu bertabligh dimana 2500 relawan telah membawa pesan mereka pada lebih dari 1.2 juta Masyarakat Kanada di 254 kota.

Alexander mengatakan jangkauan ini dimaksudkan untuk memberikan informasi. Relawan tidak ingin memaksakan agama mereka kepada orang-orang.

“Kami pergi pintu ke pintu tidak memberitahu bahwa mereka harus menjadi muslim,” katanya. “Kami mengatakan kepada mereka bahwa kami adalah Islam dan mereka mungkin akan berpikir hal-hal tentang kita. Tapi tolong beri kami kesempatan untuk memberitahu Anda apa yang kami yakini.”

Riaz mengatakan penerimaan pada kegiataan pertablighan dari pintu ke pintu dan acara pameran mendapatkan respon yang sangat positif.

“Orang-orang sangat terkesan,” katanya. “Mereka menikmati melihat sisi damai Islam yang jarang digambarkan dalam berita.”

Sumber: http://www.themuslimtimes.org/2012/01/countries/canada/ahmadiyya-youth-spreading-the-message-of-peace ; http://barackmessi.blogspot.com/2012/02/pemuda-ahmadiyah-menyebarkan-pesan.html  Sumber: Agama Islam

Senin, 30 Desember 2013

Bupati kabupaten Wonosobo Drs.H. Abdul Khaliq Arif, M.Si telah hadir di Peace Symposium 2013 (Simposium Damai) di Hotel Mandarin Oriental Marina Bay Singapura pada Sabtu, 28 September 2013 yang diadakan Jemaat Ahmadiyah yang juga telah dihadiri para tokoh Lintas Agama se-Asia Tenggara. Bupati Berjabatan tangan dengan Imam Tertinggi Jemaat Islam Ahmadiyah Internasional Khalifatul Masih V atba Hadhrat Mirza Masroor Ahmad 

Minggu, 17 Juli 2011

10 Februari 2011

DESAK MUI: Para aktivis PMII Wonosobo melakukan aksi penolakan kekerasan dengan dalih agama di Taman Plasa Wonosobo, Kamis (10/2). Mereka mendesak MUI mencabut fatwa sesat jamaah Ahmadiyah. (SM CyberNews/ Edy Purnomo)

Wonosobo, CyberNews. Pengurus cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Wonosobo menggelar aksi menolak kekerasan dengan dalih agama. Belasan mahasiswa tersebut mendesak Majelis Ulama Islam (MUI) mencabut fatwa sesat jamaah Ahmadiyah.

Para mahasiswa juga mengecam kekerasan yang dilakukan oleh oknum tidak bertanggungjawab di Kabupaten Temanggung. PMII akan melakukan advokasi terhadap permasalahan agama yang sedang terjadi.

Ketua PMII Cabang Wonosobo Ibnu Ngakil mengemukakan pihaknya secara bulat mengecam aksi kekerasan dengan dalih agama. Menurutnya tidak ada ajaran agama apapun yang menghendaki kekerasan sehingga harus dilawan. "Kami mengecam aksi kekerasan dan pengrusakan yang terjadi di Temanggung," katanya.

Dia menambahkan, PMII mendesak MUI untuk mencabut kembali fatwa sesat terhadap jamaah Ahmadiyah karena fatwa tersebut telah mengarah kepada Disintregasi bangsa. Ibnu menjelaskan bahwa kaum minoritas harus dihormati dan dilindungi sebagai bagian dari umat yang ada di bumi.

"Mereka tidak hanya meneror jamaah Ahmadiyah namun berani merusak fasilitas ibadat agama lain yang diakui undang-undang," ungkapnya.

Mereka melakukan aksi long march dari kampus Universitas Sains Alquran (Unsiq) hingga taman Plasa Wonosobo pada, siang tadi sekitar pukul 11.45 WIB. Sembari meneriakkan yel-yel, para mahasiswa tersebut melanjutkan unjuk rasa di depan kantor MUI Wonosobo.

Sementara itu Ketua MUI Wonosobo, KH Muchotob Hamzah mengemukakan, kekerasan yang terjadi akhir-akhir ini adalah akumulasi kekecewaan yang harus segera direspon elit untuk lebih memahami. Dia mengatakan persoalan Ahmadiyah supaya diselesaikan dengan cara duduk bersama dalam mencari formulasi kesetaraan dengan damai.

"Kalau menyangkut keyakinan tidak ada yang bisa intervensi.Penyelesaian Ahmadiyah harus diselesaikan dengan cara duduk bersama," katanya.

( Edy Purnomo / CN27 / JBSM )http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2011/02/10/77599/PMII-Desak-MUI-Cabut-Fatwa-Sesat-Ahmadiyah