"Janganlah kebencian sesuatu kaum mendorong kamu bertindak tidak adil. Berlakulah adil; itu lebih dekat kepada takwa.”

(Al-Maidah ayat 8).

Jumat, 16 Maret 2012

Untuk ketiga kalinya di awal tahun ini Ahmadiyah meresmikan masjid baru di London, setelah Masjid Tahir di Feltham , Masjid Baitul Wahid di Catford, dan terakhir adalah Masjid Baitul Aman di Middlesex, London.

Berikut Press Releasenya yang dimuat di alislam.org Satu lagi Masjid Ahmadiyah diresmikan oleh pemimpin Muslim Dunia Hadhrat Mirza Masroor Ahmad menyerukan kepada media untuk menggunakan pengaruhnya dengan penuh tanggung jawab dan keadilan Jamaah Muslim Ahmadiyah dengan bangga mengumumkan bahwa pada tanggal 4 Maret 2012, pemimpin dunianya, Khalifah Kelima, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad meresmikan Masjid Baitul Aman di Middlesex. Ini adalah yang ketiga kalinya dalam rangkaian Masjid yang dibuka oleh Mirza Masroor Ahmad di Inggris tahun ini.

Pembukaan Masjid ini juga dihadiri oleh sejumlah pejabat lokal dan tamu, termasuk John McDonell, anggota parlemen untuk Hayes dan Harlington dan Virendra Sharma, Anggota Parlemen untuk Ealing Southall.

Setelah tiba di lokasi, Huzur meresmikan Masjid dengan memasang plakat peringatan dan memimpin doa dalam hati. Huzur kemudian mengadakan audiensi dengan Muslim Ahmadi lokal dimana beliau mengatakan bahwa tidak cukup hanya membangun sebuah masjid, tetapi hal yang esensial adalah masjid diisi dengan orang-orang yang masuk ke dalamnya dengan hati yang murni dan yang mempunyai keinginan untuk menyenangkan Allah dan untuk melayani kemanusiaan.

Beliau mengatakan bahwa setiap Muslim Ahmad harus berusaha untuk menjadi duta Islam sejati. Setelah pertemuan pribadi antara Huzur dan sejumlah pejabat lokal, resepsi resmi menandai pembukaan Masjid dimulai jam tujuh malam. Dalam pidato pembukaannya, Ketua Ahmadiyah setempat, Bapak Abdul Latief Khan berbicara tentang bagaimana Jamaah Muslim Ahmadiyah telah ada di Inggris selama hampir satu abad. Dan sepanjang periode itu Ahmadiyah telah menunjukkan komitmen tinggi untuk menyebarkan pesan perdamaian dan lintas agama. Anggota Parlemen John McDonnell menyebut pembukaan masjid sebagai ‘kesempatan yang sangat bersejarah” dan mengatakan bahwa suatu keistimewaan baginya bisa hadir.

Beliau juga mengatakan bahwa semua pihak harus mendukung upaya dari Jamaah Muslim Ahmadiyah dan berusaha untuk membantu mereka di bagian dunia dimana mereka dianiaya. Ia juga berterimakasih atas donasi amal yang disumbangkan ke badan amalnya.

Anggota Parlemen Virendra Sharma mengucapkan selamat kepada Ahmadiyah atas pembukaan Masjid dan juga untuk upaya berkelanjutan mewujudkan persatuan masyarakat. Dia juga mengatakan bahwa ada “kewajiban moral” untuk membantu semua masyarakat damai yang menderita penganiayaan. Acara peresmian ini diakhiri dengan pidato dari Imam Jamaah Muslim Ahmadiyah, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, dimana ia menyerukan penegakan perdamaian dan keadilan di seluruh bagian dunia. Beliau juga menyerukan kepada media untuk menggunakan pengaruh yang luas secara bertanggung jawab dan adil. Huzur memulai pidatonya dengan menyatakan perlunya saling menghormati antar sesama.

Beliau mengatakan: “Hal ini tentu tugas kita untuk menjaga dan menghormati satu sama lain. Dan cara terbaik untuk menunjukkan penghargaan ini adalah dengan memperhatikan perasaan dan ‘sentimen’ satu sama lain, karena ini adalah cara utama untuk membangun nilai-nilai kemanusiaan yang baik. Dan itu adalah satu-satunya cara untuk mengembangkan lingkungan yang penuh dengan perdamaian, keadilan, kerukukan dan persaudaraan. Ini harus menjadi tujuan kita untuk membangun nilai-nilai tinggi di setiap desa, setiap kota dan setiap negara, setiap masyarakat dan seluruh penjuru dunia.”

Huzur mengatakan bahwa dunia modern telah menyerupai sebuah kampung global dimana setiap berita dapat disampaikan secara global dalam hitungan detik, tetapi kemajuan seperti ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Memberikan contoh media, Huzur mengatakan bahwa dimana media melaporkan peristiwa bencana alam, kelaparan atau kerugian sosial, informasi tersebut seharusnya membawa pada upaya membantu dan mendukung mereka yang membutuhkan. Selain bantuan yang segera, perencanaan jangkan panjang juga penting. Huzur mengatakan: “Melalui perwakilan resmi kami dan melalui pemerintah kita, kita harus mencari cara menemukan solusi jangka panjang yang akan memungkinkan negara-negara yang terampas untuk akhirnya bisa berdiri sendiri. Kita harus menyusun rencana dimana negara-negara tersebut dapat memanfaatkan sumber daya dan aset mereka sendiri untuk kemajuan rakyat mereka, sehingga mereka dapat mandiridan benar-benar independen.”

Beliau melajutkan bahwa semua layanan kemanusiaan harus diberikan tanpa pamrih bukan untuk kepentingan pribadi atau keserakahan. Beliau menjelaskan Jamaah Muslim Ahmadiyah terus terlibat dalam upaya membantu masyarakat atau negara miskin dan tersisihkan, dan telah meluncurkan proyek penyediaan layanan kesehatan dan pendidikan untuk mereka yang membutuhkan tanpa memandang latar belakang sosial atau agama. Huzur melanjutkan dengan mengatakan bahwa satu masalah penting yang dihadapi dunia saat ini adalah cara dimana banyak media barat telah berlaku tidak adil dalam penggambaran mereka tentang Islam.

Perilaku kejam dan tirani yang diterapkan oleh penguasa di beberapa negara Muslim digambarkan sebagai bagian yang didukung oleh Islam. Inilah yang menyebabkan rasa takut dan bahkan kebencian terhadap Islam di Barat. Huzur mengatakan: “Untuk waktu yang lama media telah menyoroti secara khusus masalah yang dihadapi di banyak negara-negara muslim. Namun, ketika memberi liputan media juga harus menampilkan arah perspektif atau konteks yang sayangnya pada banyak kesempatan ini sangat kurang. Yang sebenarnya adalah bahwa Islam dilarang keras dalam tindakan terorisme atau ektrimisme dalam bentuk apapun. Ajaran Islam dalam hal ini adalah mutlak dan tanpa kecuali.” Huzur menyimpulkan pidatonya dengan memprediksi bahwa peresmian Masjid Baitul Aman akan dengan sendirinya menyebabkan perubahan persepsi di benak masyarakat tentang Islam.

Beliau mengatakan: “Saya yakin bahwa citra Islam yang terdistorsi yang saat ini ada di benak sebagian orang akan segera diganti dengan gambar-gambar yang benar-benar indah yang menggambarkan ajaran Indah Islam. Seperti gambar yang bersinar cerah, masjid kita akan benar-benar menjadi suar cahaya yang menerangi sekitarnya. Dan tentu insyallah, saya percaya bahwa pesan yang tulus dan cinta akan datang untuk memenangkan hati mereka yang menentang kita. Dan semoga Anda semua datang untuk bergabung dan membantu misi kami untuk membangun perdamaian di dunia dan untuk melayani kemansiaan.” [], Penerjemah Jusman

Berita Aslinya bisa dilihat di: http://www.alislam.org/egazette/press-release/another-ahmadiyya-mosque-inaugurated-by-world-muslim-leader

Versi terjemahannya bisa dilihat di: http://agama-islam.org/peresmian-masjid-baitul-aman-london; www.alislam.org/e/1629

Kamis, 05 Januari 2012

Kabupaten Wonosobo (18/12/11) kembali Berduka, bencana tanah longsor menerpa Desa Tieng, Kec. Kejajar, Wonosobo.

Senin (19/12/11) sehari pasca Bencana, segera kami mengadakan rapat koordinasi JAI Jateng bagian Barat bertempat di sekretariat JAI cabang kec. Bawang kab. Banjarnegara.

Rapat dadakan tsb dihadiri para pengurus wilayah dan para muballighin. Guna mengetahui kondisi terbaru di lokasi bencana, selain kami mendakan survei, juga mengadakan kontak dengan ketua GP Anshor kab. Wonosobo, sdr. Amir. Sehngga rapat pun mendapatkan gambaran pasti untuk menentukan langkah-langkah Tanggap Bencana dan pengkidmatan kemanusian (serving mankind).

Untuk itu sedikit disini disampaikan laporannya.

Jemaat Ahmadiyah Indonesia wilayah Jawa Tengah Bagian Barat dan Humanity First Indonesia selama 7 hari telah ikut mengkgidmati korban Bencana Banjir Bandang dan tanah Longsor di dusun Sidorejo desa Tieng kec. Kejajar kabupaten Wonosobo (Pegunungan Pakuwojo, Dieng). Diantara pengkhidmatan yang dapat dilakukan oleh JAI dan HFI a.l: membantu kebutuhan logistik, akomodasi dan membantu membuka Dapur Umum. Tidak banyak yang dapat dilakukan, semoga Allah Ta'ala menganugrahkan para korban bencana tsb ketabahan dan kekuatan serta cepat pulih dari derita mereka. Amin.

Kami sampaikan ucapan terimakasih yang mendalam untuk semua pihak yang telah membantu: Jemaat Ahmadiyah kab. Wonosobo, Lajnah Imaillah Indonesia Jateng (kaum wanita JAI), Majlis Ansharullah (kaum bapak JAI), Khudamul Ahmadiyah (pemuda JAI), para muballighin JAI, semua warga JAI Jateng dan DIY, Tim Humanity First Indonesia pusat, serta para pihak lainnya yang ikut mensukseskan pengkhidmatan kemanusiaan di Tieng tsb. (Sajid AS)
Wonosobo, Sabtu (31/12/11) ditengah hujan yang menyelimuti malam pergantian tahun 2011 ke 2012, Komunitas Lintas Iman Wonosobo menggelar refleksi dua tahun meninggalnya Gus Dur dan doa bersama di kantor sekretariat FKMD. Acara yang dimulai pukul 20.30 WIB tersebut diikuti oleh para tokoh agama se-kabupaten Wonosobo, PMII, seniman, komunitas Orang Indonesia (OI), Jemaat Ahmadiyah yang diwakili penulis dan mubaligh Sajid Ahmad Sutikno.

Mengawali pertemuan tersebut, coordinator acara, ketua FUB Haqqi El-Anshary menyampaikan catatan rentang waktu tahun 2011. Banyak kejadian pelanggaran hukum dan HAM mewarnai negeri ini seperti insiden GKI Yasmin, kemudian baru-baru ini di bulan Desember telah terjadi tragedi kemanusiaan kekerasan terhadap teman-teman Syiah di Madura. Kemudian yang paling terdepan dan paling sering mendapat tindak intimidasi dan kekerasan adalah saudara kita dari Jemaat Ahmadiyah.

Haqqi El-Anshary juga mengatakan, acara itu diadakan untuk mengenang perjuangan almarhum Gus Dur dalam menyebarkan nilai pluralisme di Indonesia semasa hidupnya. Gus Dur merupakan Bapak Bangsa dan Bapak Pluralisme di Indonesia yang harus dikenang agar semangat juangnya dapat diikuti oleh generasi penerus.

Menurut Kyai Ahmad Fadlun, Ketua FKMD, realitas keberagamaan di Indonesia masih jauh dari ajaran pluralisme yang dikembangkan Gus Dur. Kekerasan berbau agama masih mewarnai kehidupan bangsa. Karena itu, beliau mengatakan, gerakan pluralisme harus digalakkan, yakni mengajak semua elemen masyarakat untuk duduk bersama membangun kesepahaman tentang kehidupan bangsa yang lebih baik. "Refleksi dua tahun wafatnya Gus Dur dan malam pergantian tahun ini semoga menjadi awal yang baik untuk membangun kehidupan bangsa,"

Kyai Fadlun juga mengatakan bahwa FKMD adalah wadah semua kalangan Islam maupun non-Islam, karena ia merupakan lembaga agama dan keagamaan. Dalam menggodok kurikulum madrasah diniyah, TPA dll kami akan melibatkan semua elemen termasuk Jemaah Ahmadiyah, dan hal ini sudah disetujui bapak Bupati. Soal Ahmadiyah, pernah ada SMS gelap kepada saya agar dalam pertemuan-pertemuan formal jangan sebut-sebut nama Ahmadiyah, karena Ahmadiyah kan sesat. Saya dengan gregetan langsung telpon, dan bertanya siapa anda, rumah anda dimana, saya akan dating ke rumah anda sekarang juga. Tujuan saya menjelaskan agar tidak ribut-ribut jika tidak paham Ahmadiyah, kan sudah jelas bahwa Ahmadiyah itu Islam. “Kita akan terus sosialisasikan hingga ke grass root pentingnya hidup rukun, saling menghormati, dan tidak usah urusi perbedaan paham” tambahnya.

Sedangkan Penasihat Walubi Wonosobo, Lukito mengatakan, pihaknya mengutuk segala bentuk kekerasan dalam berkehidupan bangsa dan bernegara yang selama ini ada. Kekerasan hanya akan melahirkan masalah baru yang mengancam integritas bangsa. Karena itu, pluralisme sebagaimana yang diajarkan Gus Dur harus dikembangkan terutama dikalangan generasi muda.

Suster Tutut menambahkan, segala bentuk perbedaan harus dimaknai sebagai nikmat dan karunia Tuhan sehingga tidak menimbulkan gejolak sosial. "Beda itu indah, tetapi membedakan itu jahat," tandasnya.
Perwakilan Jemaat Ahmadiyah pun dapat giliran menyampaikan catatan di tahun 2011. “Bagi JAI tahun 2011 merupakan tahun paling berat hadapi permasalahan hukum, tercatat 342 lebih kasus kekerasan dialami Ahmadiyah. Belum lagi bermunculan Perda-perda pelarangan yang semakin mendiskriminasikan JAI. Dan itu lebih diperparah dengan adanya tragedi Cikeusik berdarah dan memakan 3 korban warga Ahmadiyah. Jauh dari rasa keadilan, pelaku pembunuhan hanya dihukum 3-6 bulan sedangkan korban JAI justru lebih berat. Belum lagi warga Ahmadiyah sampai malam ini jelang pergantian tahun baru masih juga hidup di pengungsian Transito, tidak ada solusi terbaik dari pemerintah, bahkan terkesan adanya pembiaran. Tapi biarlah warga Ahmadiyah menjadi bukti sejarah dan saksi, bahwa begitu lemahnya hokum dan perlindungan Negara terhadap warganya di tahun 2011, sehingga ada ratusan anak bangsa sampai hari ini menjadi pengungsi di negerinya sendiri hanya karena keyakinan yang dianutnya.

Untuk itu mari kita tauladani seorang Gus Dur sebagai bapak Pluralisme Indonesia. Semasa hidupnya, Gus Dur mengajarkan, dengan hadirnya beragam agama dan keyakinan menunjukan bahwa inilah Indonesia. Wajah asli Indonesia adalah keberagaman, kebhinekaan, wajah yang membentuk pluralisme yang mengedepankan nilai kebersamaan dan kedamaian.

Kami ingin mengulang pesan bapak Bupati Wonosobo, bahwa “kita jangan menghabiskan energi berkutik dalam ranah perbedaan paham saja, dan melupakan tujuan lainnya yang lebih besar dan bermanfaat. Untuk itu kata beliau, mari semua kalangan, para tokoh agama, tokoh ormas termasuk para tokoh Jemaah Ahmadiyah, kita lupakan perbedaan, dan mari kita lebih majukan Wonosobo bersama-sama. (hadirin pun tepuk tangan). Selain itu, mari kita selalu amalkan pesan “Love for all hatred for none”, inilah slogan Ahmadiyah di seluruh dunia dalam menyampaikan Islam dan kedamaian dunia. Mari terus kita rawat kedamaian dan kerukunan di Indonesia kecil seperti Wonosobo ini. Semoga kerukunan dan keharmonisan di Wonosobo mampu menjadi sample bagi daerah lainnya di Indonesia, yang selalu menjunjung tinggi toleransi, keberagaman dan kebebasan beragama dan berkeyakinan.

Pada sesi akhir acara, disampaikan agar acara FUB yang sudah berjalan itu pun diadakan di banyak tempat hingga menyentuh masyarakat desa se-kabupaten Wonosobo sebagai sarana menyampaikan pesan kedamaian, agar tetap terpelihara hidup damai dan harmonis tidak sampai ada gejolak. Hadirin semua sepakat akan diadakan bergilir tiap bulannya pada minggu kedua di banyak komunitas se-Wonosobo termasuk komunitas Ahmadiyah.

Acara pun diakhiri dengan doa bersama dengan tata cara masing-masing perwakilan tokoh lintas agama, dimulai dari Suster Sisca (Perwakilan Katholik), Bapak Lukito (Perwakilan dari Walubi), kemudian dari agama Islam dipimpin dua tokoh agama secara bergantian: pertama dari Jemaat Ahmadiyah oleh mubaligh Sajid Ahmad Sutikno dan kedua adalah perwakilan dari Nahdlatul Ulama Kyai Imdad, S.Ag. []

Senin, 19 Desember 2011

Berita on Monday, 19 December 2011 by Kemanusiaan Indonesia Minggu (18/12/2011) pukul 11.00. Hujan deras yang terjadi di wilayah Gunung Dieng membuat pegunungan Pakuwojo di Dusun Sidorejo, Desa Setieng, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo longsor. Menurut Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah, Sarwa Pramana, curah hujan tinggi yang terjadi di Desa Tieng, menyebabkan kawasan perbukitan ikut longsong. Tanah yang terseret air kemudian menghantam dan menghanyutkan rumah warga. “Naik naik ke daratan tapi tidak tinggi. Rumah yang dekat dengan bantara sungai yang terbawa,” katanya. Evakuasi terhadap warga yang rumahnya rusak akibat terkena banjir masih terus dilakukan. BPBD konsentrasi terhadap warga yang mengungsi. Komandan SAR Wonosobo, Darmaji mengatakan hingga kini akibat musibah tersebut telah ditemukan satu orang meninggal dunia, 10 orang hilang, dan lima orang dilarikan ke Puskesmas Kejajar dan RSU Wonosobo. Sumber: http://www.tribunnews.com | http://nasional.vivanews.com Digg Google Bookmarks reddit Mixx StumbleUpon Technorati Yahoo! Buzz DesignFloat Delicious BlinkList Furl

Minggu, 17 Juli 2011

Kamis, 03 Maret 2011 - 11:49:13 WIB

Polres Wonosobo membuat rumah pelayanan masyarakat di Kecamatan Watumalang dan Kecamatan Wadaslintang. Rumah pelayanan tersebut dimaksudkan untuk menerima pelayanan ketertiban dan keamanan masyarakat.

Kapolres Wonosobo AKBP Yaved Duma Parembang MSi mengemukakan, dibentuknya rumah pelayanan supaya ada komunikasi yang baik antara masyarakat dengan Polri.

Menurutnya rumah pelayanan yang dibentuk pada pekan ini mendapatkan respons positif warga di dua kecamatan tersebut. "Kami membentuk dua rumah pelayanan kepolisian di Kecamatan Watumalang dan Wadaslintang," katanya.

Dia mengatakan, rumah pelayanan tersebut menjadi perekat masyarakat ditingkat bawah dalam menjaga kerukunan beragama. Yaved mengatakan kepolisian siap memberikan perlindungan hingga tingkat bawah mengenai beberapa persoalan seperti konflik beragama yang sekarang ini sedang marak terjadi di berbagai daerah.

Ahmadiyah Punya KTA

Mubaligh senior Ahmadiyah Wonosobo, Sajid Ahmad Sutikno mengemukakan peran polisi dalam pembuatan rumah pelayanan cukup positif dan sangat penting untuk ikut menjaga keamanan hidup beragama. "Jemaat Ahmadiyah di Wonosobo kami minta untuk ikut menjaga properti dan aset," katanya.

Dia mengatakan basis Ahmadiyah yang terbesar yakni ada di Kecamatan Watumalang dan Kecamatan Wadaslintang. Di kedua wilayah inilah saat ini jemaat Ahmadiyah sedang didata keberadaannya. "Kami melakukan pendataan anggota," ungkapnya.

Saat ini jemaat Ahmadiyah yang sudah mengantongi kartu tanda anggota (KTA) ada sebanyak 1.050 orang. Pada pekan ini pendataan akan dilakukan secara menyeluruh di 15 kecamatan.

Selain jumlah anggota, Sajid Sutikno mengatakan pihaknya juga akan mendata aset dan rumah ibadah milik jemaat Ahmadiyah. "Jumlah jemaah ada sekitar 5.000 orang," imbuhnya.

Sumber: Suara Merdeka-http://polres-wonosobo.com/berita-113-polres-wonosobo-bentuk-rumah-layanan.html
10 Februari 2011

DESAK MUI: Para aktivis PMII Wonosobo melakukan aksi penolakan kekerasan dengan dalih agama di Taman Plasa Wonosobo, Kamis (10/2). Mereka mendesak MUI mencabut fatwa sesat jamaah Ahmadiyah. (SM CyberNews/ Edy Purnomo)

Wonosobo, CyberNews. Pengurus cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Wonosobo menggelar aksi menolak kekerasan dengan dalih agama. Belasan mahasiswa tersebut mendesak Majelis Ulama Islam (MUI) mencabut fatwa sesat jamaah Ahmadiyah.

Para mahasiswa juga mengecam kekerasan yang dilakukan oleh oknum tidak bertanggungjawab di Kabupaten Temanggung. PMII akan melakukan advokasi terhadap permasalahan agama yang sedang terjadi.

Ketua PMII Cabang Wonosobo Ibnu Ngakil mengemukakan pihaknya secara bulat mengecam aksi kekerasan dengan dalih agama. Menurutnya tidak ada ajaran agama apapun yang menghendaki kekerasan sehingga harus dilawan. "Kami mengecam aksi kekerasan dan pengrusakan yang terjadi di Temanggung," katanya.

Dia menambahkan, PMII mendesak MUI untuk mencabut kembali fatwa sesat terhadap jamaah Ahmadiyah karena fatwa tersebut telah mengarah kepada Disintregasi bangsa. Ibnu menjelaskan bahwa kaum minoritas harus dihormati dan dilindungi sebagai bagian dari umat yang ada di bumi.

"Mereka tidak hanya meneror jamaah Ahmadiyah namun berani merusak fasilitas ibadat agama lain yang diakui undang-undang," ungkapnya.

Mereka melakukan aksi long march dari kampus Universitas Sains Alquran (Unsiq) hingga taman Plasa Wonosobo pada, siang tadi sekitar pukul 11.45 WIB. Sembari meneriakkan yel-yel, para mahasiswa tersebut melanjutkan unjuk rasa di depan kantor MUI Wonosobo.

Sementara itu Ketua MUI Wonosobo, KH Muchotob Hamzah mengemukakan, kekerasan yang terjadi akhir-akhir ini adalah akumulasi kekecewaan yang harus segera direspon elit untuk lebih memahami. Dia mengatakan persoalan Ahmadiyah supaya diselesaikan dengan cara duduk bersama dalam mencari formulasi kesetaraan dengan damai.

"Kalau menyangkut keyakinan tidak ada yang bisa intervensi.Penyelesaian Ahmadiyah harus diselesaikan dengan cara duduk bersama," katanya.

( Edy Purnomo / CN27 / JBSM )http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2011/02/10/77599/PMII-Desak-MUI-Cabut-Fatwa-Sesat-Ahmadiyah
Pergerakan Jemaat Ahmadiyah dalam Islam adalah suatu organisasi keagamaan dengan ruang lingkup internasional yang memiliki cabang di 198 negara tersebar di Afrika, Amerika Utara, Amerika Selatan, Asia, Australasia dan Eropa. Saat ini jumlah keanggotaannya di seluruh dunia lebih dari 150 juta orang, dan angkanya terus bertambah dari hari ke hari. Jemaah ini adalah golongan Islam yang paling dinamis dalam sejarah era modern. Jemaat Ahmadiyah didirikan tahun 1889 oleh Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad (1835-1908) di Qadian, suatu desa kecil di daerah Punjab, India.
Beliau mendakwakan diri sebagai pembaharu (mujadid) yang diharapkan datang di akhir zaman dan beliau adalah Seseorang Yang Ditunggu kedatangannya oleh semua masyarakat beragama (Mahdi dan Al-Masih). Beliau memulai pergerakan ini sebagai perwujudan dari ajaran dan pesan Islam yang sarat dengan kebajikan -- perdamaian, persaudaraan universal dan tunduk patuh pada kehendak-Nya – dalam kemurnian yang sejati. Hz. Ahmad menyatakan bahwa Islam sebagai agama bagi umat manusia : "Agama orang-orang yang berada di jalan yang lurus" (98:6).

Dengan meyakinkan, dalam satu abad Jemaat Ahmadiyah telah menyebar ke sudut-sudut penjuru bumi. Dimanapun Jemaat ini berdiri, berusaha untuk mengerahkan suatu pengaruh yang membangun bagi Islam melalui proyek-proyek sosial, lembaga-lembaga pendidikan, pelayanan kesehatan, penerbitan literatur-literatur Islam dan pembangunan mesjid-mesjid, meskipun sedang mengalami penganiayaan di beberapa negara. Orang-orang Ahmadi Muslim telah mendapat kehormatan dengan menjadi masyarakat yang patuh pada hukum, perdamaian, tekun dan menjunjung tinggi kebajikan.

Gerakan Jemaat Ahmadiyah dalam Islam dilahirkan berdasarkan tuntunan Ilahi dengan tujuan untuk meremajakan moral Islam dan nilai-nilai spiritual. Pergerakan ini mendorong dialog antar agama dan senantiasa membela Islam serta berusaha untuk memperbaiki kesalah-pahaman mengenai Islam di dunia Barat. Gerakan ini menganjurkan perdamaian, toleransi, kasih dan saling pengertian diantara para pengikut agama yang berbeda. Gerakan ini sebenar-benarnya percaya dan bertindak berdasarkan ajaran Al-Quran : "Tidak ada paksaan dalam agama" (2:257) serta menolak kekerasan dan teror dalam bentuk apapun untuk alasan apapun.

Pergerakan ini menawarkan suatu tampilan yang cerah dari nilai-nilai Islami, falsafah, moral dan spiritual yang diperoleh dari Al-Quran Majid dan sunnah Nabi Suci Islam, Muhammad saw. Beberapa orang Ahmadi seperti almarhum Sir Muhammad Zafrullah Khan (Menteri Luar Negeri pertama dari Pakistan; Presiden Majelis Umum U.N.O yang ke 17; Presiden dan Hakim di Mahkamah Internasional di Hague) dan Dr. Abdus Salam (peraih hadiah Nobel Fisika tahun 1979) telah dikenal karena prestasi dan jasa-jasanya oleh masyarakat dunia.

alislam.org-http://www.ahmadiyya.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=86:jemaat-ahmadiyah-dalam-islam&catid=34:ahmadiyah&Itemid=56