"Janganlah kebencian sesuatu kaum mendorong kamu bertindak tidak adil. Berlakulah adil; itu lebih dekat kepada takwa.”

(Al-Maidah ayat 8).

Selasa, 06 Agustus 2013

Tidak seperti Paus sebelumnya, pesan kali ini ditulisnya sendiri.
Sabtu, 3 Agustus 2013, 09:04 Denny Armandhanu

VIVAnews - Paus Fransiskus menyerukan toleransi dan rasa saling menghargai antar umat Kristen dan Islam. Dia mengatakan, pendidikan toleransi beragama haruslah ditekankan dalam pendidikan para pemuda.

Hal ini disampaikannya dalam pesan pribadinya untuk pemeluk agama Islam di seluruh dunia jelang Idul Fitri pekan depan, seperti dilansir CNN, Jumat 2 Agustus 2013. Biasanya, pesan itu ditulis oleh Vatikan dan tinggal dibacakan oleh Paus. Namun kali ini, Paus Francis sendiri yang menulisnya.

"Tahun ini, tahun pertama Kepausan saya, saya memutuskan untuk menulis pesan tradisional ini sendiri dan membacakannya pada kalian, kawan-kawan saya, sebagai bentuk penghargaan dan persahabatan untuk seluruh Muslim, terutama para pemuka agama," tulis Paus.

"Tahun ini, tema yang ingin saya angkat kepada Anda dan semua orang yang membaca pesan ini adalah satu hal yang jadi perhatian umat Muslim dan Kristiani: Mempromosikan Toleransi melalui Pendidikan," lanjutnya lagi.

Francis mengatakan bahwa pesan ini harus diterapkan semua orang, dengan menghargai kehidupan, martabat dan hak-hak setiap manusia.

"Terkait pendidikan pemuda Muslim dan Kristen, kita harus bisa membuat mereka untuk berpikir dan berbicara dengan penuh hormat soal agama lain dan para pengikutnya, dan menghindari dari mengejek atau merendahkan keyakinan dan ibadah pemeluk agama lain," kata Paus.

Tema yang sama sebelumnya disampaikan Francis pada kunjungannya ke Brasil untuk Hari Pemuda Dunia. Dalam pesannya kala itu, Paus menekankan perlunya dialog dengan para pemuka agama Islam.

"Kita perlu menekankan lagi pentingnya dialog dan kerja sama antara umat beragama, terutama Kristen dan Islam, dan perlunya kerja sama itu ditingkatkan," kata Paus dalam pidato yang juga diterjemahkan dalam bahasa Arab itu.[]





Wonosobo: Sabtu, 24/11/12 di Masjid Baitul Islam Jemaat Ahmadiyah, telah diadakan Bedah Vidio (VCD) Dakwah Islam Global oleh Jemaat Ahmadiyah selama 4 jam. Acara yang bersejarah ini, terselenggara atas kerjasama Jemaat Ahmadiyah kabupaten Wonosobo dengan perhimpunan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) komesariat Wonosobo.

Hadir dalam kesempatan tersebut lebih 125 orang terdiri dari para mahasiswa universitas Sains Alquran (UNSIQ), PMII, GP Ansor, para ustadz NU, para guru Madin, kaum sepuh Ahmadiyah (Ansharullah), zaim Ansharullah (Agus Dwi Jatmiko), Mubwil Jemaat Ahmadiyah Jawa Tengah Bagian Barat (Mln. Yayan Mulyana) dan para mubaligh lainnya, warga Jemaat Ahmadiyah berasal dari beberapa daerah di Wonosobo, aparat desa dan warga masyarakat setempat.

Adapun susunan acara yang dibacakan moderator adalah  tilawatil quran, doa pembukaan; sambutan-sambutan: pertama DPD Jemaat Ahmadiyah (Mln. Nurhadi), kedua ketua PMII (Sulistiyo) dan ketiga perwakilan PMII cabang; Ishoma; kemudian pengantar Bedah Vidio Dakwah Islam Global (Mln. Yayan Mulyana), tayangan Vidio Dakwah Islam Global, sesi tanya-jawab, penyerahan cendera mata dan doa penutup (Muhammad Suripto HS, AMd (da’i).

Bapak Suyarno selaku ketua Jemaat dan ketua Panitia acara mengatakan, bahwa Jemaat yang dipimpinnya merasa senang diselenggarakannya acara semacam ini di tempatnya, karena selain sebagai sarana silaturahmi, sebagai sikap keterbukaan, membangun sikap toleran, juga sangat bermanfaat untuk menambah khazanah pengetahuan (informasi) akan perkembangan Islam diseluruh dunia. .Ny. Tumpi Jumiyanto sebagai ketua Lajnah Imaillah (wanita Ahmadi) dan ketua tim konsumsi juga merasakan banyak keberkatan dengan acara seperti ini.[]

Wonosobo, lagi-lagi telah diadakan acara merawat kerukunan umat beragama dan berkeyakinan di kota berudara dingin ini. Yaitu, "Berbuka Bersama Ibu Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid dan tokoh lintas Iman".

Seperti tahun-tahun sebelumnya, Muslim Ahmadiyah  selalu ambil bagian untuk hadir dalam acara buka bersama itu. Dari Muslim Ahmadiyah terdiri dari para mubaligh, Khudamul Ahmadiyah (pemuda Ahmadi ), Ansharullah (kaum sepuh Ahmadi), Lajnah Imaillah (kaum ibu Ahmadiyah), Nasiratul Ahmadiyah dan Banatul Ahmadiyah (anak-anak perempuan Ahmadi), juga Athfalul Ahmadiyah (anak-anak pria Ahmadi). Mubaligh wilayah Jateng Tengah Mln. Nurhadi dan pengurus Daerah Lajnah Imaillah Qonita Nurhadi didampingi Ema Rahmatunnisa juga hadir dalam kesempatan itu.

 Acara penuh persaudaraan Sabtu sore 20/7/2013 itu bertempat di Nasmoco, Tawangsari kecamatan Selomerto.

Selain dari Ahmadiyah, para tokoh agama dan keyakinan hadir memenuhi aula Nasmoco, diantaranya NU (GP Ansor, Muslimat, Fatayat dll), Syiah (Ijabi), para suster Yayasan Dena Upakara Wonosobo, Kristen, Katolik . Para pejabat pemerintahan, kepolisian, mahasiswa, santriwan/santriwati bahkan murid-murid TK dan Play group, kaum buruh, tukang ojek, tukang jamu gendong dll dari bagian masyarakat yang terpinggirkan.

Acara yang dipandu apik oleh Haqqi Al-Anshory (koordinator FUB Wonosobo) ini, beberapa kali menyebutkan bahwa acara ini dihadiri oleh berbagai kalangan termasuk Ahmadiyah, Syiah dan non-Muslim.,hadirin pun bertepuk tangan menyambutnya.

Para Suster Katholik, Lajnah Imaillah, & Ahmadiyah Bersama Ibu Sinta
Kuis berhadiah untuk para peserta, penampilan bernyanyi anak-anak TK dan PAUD menjadi suguhan menarik lainnya di kesempatan itu.

Suasana semakin menarik ketika Ibu Sinta Nuriyah hadir di tengah-tengah hadirin, beliau pun kemudian mengajak bincang-bincang santai dari hati ke hati. Setelah itu, ibu Sinta menyampaikan berbagai nasihat seputar puasa dan pendidikan.

Tentang puasa, ibu Sinta menyampaikan bahwa "diantara tujuan puasa itu adalah melatih diri untuk bisa bersikap jujur". Ibu Sinta juga menjelaskan tentang perintah Al Quran mengenai Puasa.
Ibu Sinta lalu mengungkapkan perasaannya, bahwa dirinya sangat senang hadir setiap tahun di Wonosobo untuk berbuka bersama seluruh kalangan masyarakat di Wonosobo.

Pada kesempatan tersebut juga diserahkan bantuan kepada Pondok pesantren anak-anak dan PAUD “Akar Rumput” yang merupakan sekolah Gratis untuk anak-anak kurang mampu. 

Setelah bedug maghrib terdengar dan suara adzan dikumandangkan para peserta menuju tempat disediakan menu berbuka puasa. Secara spesial ibu Sinta mengajak berbuka satu ruangan dengan ibu-ibu Lajnah Imaillah, para suster, tokoh Syiah dll.

Perwakilan Muslim Ahmadiyah saat itu pun memperkenalkan diri dan ibu Sinta sangat senang dan menyambut dengan ramah. Sebelum pamit, perwakilan Lajnah Imaillah menyerahkan bingkisan oleh-oleh khas Wonosobo, kemudian  foto bersama dan pulang.

Acara pun selesai dengan baik dan penuh keakraban serta keharmonisan. Ibu Sinta dan rombongan pun kembali ke Pendopo.[ER]

Minggu, 04 Agustus 2013


Saya mengerti setiap denominasi dari setiap agama menegaskan bahwa merekalah yang menjalankan ajaran yang paling otentik dari pendirinya. Tetapi tidak seperti fundamentalis, kaum liberal cenderung tidak mengklaim bahwa orang lain adalah salah. Sekte Islam Ahmadiyah termasuk dalam jenis ini. Karena mereka terbuka untuk dunia, tanggung jawab manusiawi untuk saling memelihara satu sama lain tampaknya tidak kalah penting bagi anggota Ahmadiyah dari doa dan ibadah.

Dalam versi Yahudi liberal saya, ini sering digambarkan dengan istilah dalam bahasa Ibrani sebagai tikkun olam (memperbaiki dunia). Hal ini menekankan aksi sosial sebagai kewajiban agama tertinggi, dan biasanya memiliki lebih banyak persamaan dengan gerakan yang sama di agama-agama lain dan di dunia sekuler dibandingkan dengan eksponen konservatif dalam tradisi saya sendiri.

Meskipun Ahmadiyah dianiaya di Negara-negara Islam dan dijauhi oleh umat Islam lainnya dimana-mana, mereka berkembang di Kanada dan memberikan kontribusi kepada masyarakat dengan melakukan pekerjaan penting disini dan di tempat lain di dunia.

Salah satu program yang paling sukses adalah jangkauan Humanity First, yang memberikan penyelamatan dan bantuan kepada korban perang dan bencana alam di berbagai tempat. Baru-baru ini, ratusan relawannya aktif dalam membantu korban bencana di negara bagian Amerika Serikat. Selama kunjungannya ke New York setelah Badai Sandy, Presiden Barack Obama menyampaikan ucapan terimakasih secara khusus pada Kanada atas bantuan mereka.

Selain masalah global, Humanity First berkomitmen untuk melayani kebutuhan lokal. Misalnya, mereka menjalankan bank makanan (foof bank) yang memberikan kebutuhan dasar kepada orang-orang di seluruh Kanada. Bertepatan dengan musim liburan ini, para relawan akan melayani makan pizza, hari ini dan besok, untuk para tunawisma di pusat kota Toronto.

Ketua Humanity First sekaligus Amir Jamaah Ahmadiyah Kanada, Dr. Aslam Daud, mengatakan kepada saya bahwa denominasi mereka tak pernah berusaha untuk memasukkan orang-orang atau para penerima bantuan pada Islam, karena teologi cenderung memecah belah. Sebagai hasilnya para relawan bisa bekerja sama dengan baik untuk kebaikan orang-orang yang kurang beruntung dimanapun berada.

Dalam pertemuan saya dengan Dr Daud ia mengutip beberapa ajaran dari tradisi Islamnya yang beresonansi dengan ucapan yang sama dalam hati saya. Tetapi sebaliknya kita selalu berusaha secara sistemis membandingkan teologi dari perbedaan-perbedaan mendasar yang bisa berakhir dalam perselihan bahkan lebih buruk.

Itulah mengapa aksi sosial adalah hal terbaik untuk kerjasama antar agama. Alih-alih membandingkan doktrin, orang lain dipanggil untuk terlibat dalam kegiatan bersama untuk kebaikan orang dari semua agama dan yang tidak beragama. Dengan bekerja sama untuk kemanusiaan dan bukan berdebat tentang keilahian, tempat agama dapat ditingkatkan dalam masyarakat kita.

Pihak lain tidak setuju, seringkali keras. Mereka bersikeras bahwa pendekatan semacam ini tidak lebih dari sekularisme yang menyamar. Kaum tradisionalis mengeluh bahwa kaum liberal melemahkan keimanan yang mereka anut menjadi tidak bermakna. Di sisi lain, sekularis mungkin menganggap hal ini hanya sebagai bentuk pekerjaan misionaris. Itulah sebabnya mengapa liberalisme agama sering dalam bahaya jatuh antara dua titik.

Dan itulah mengapa Muslim tradisional menghindar dari Ahmadiyah, Kristen fundamentalis tidak punya waktu untuk agama modernis dan Ortodoks Yahudi menjaga jarak dari kaum liberal. Ironisnya, orang-orang yang tidak beragama juga sering memusuhi: mereka cenderung ingin agama menjadi kaku untuk menentangnya dengan lebih mudah dan memastikan bahwa mereka tidak pernah teruji olehnya.

Sebagai seorang Yahudi liberal saya sangat terkesan dengan upaya Humanity First yang justru karena itu berakar pada agama. Kegiatan mengagumkan yang mengkonfirmasi keyakinan saya bahwa meskipun serangan dari sayap kanan masing-masing dan sesekali ejekan oleh lawan dogmatis agama, kita saling membutuhkan dan dunia membutuhkan kita untuk bersaksi ke hadirat Allah sebagai manifestasi dalam melayani ciptaan Tuhan.

Ditulis oleh Dow Marmur adalah seorang rabbi emeritus di  Holy Blossom Temple, Toronto. Kolom nya muncul setiap minggu []

Sumber: http://www.thestar.com;dikutip dari: Ahmadiyya Times

Diterjemahkan oleh: Jusman; See more at: http://1ahmadiyah.blogspot.com/2012/12/aksi-sosial-kerjasama-antar-agama.html#sthash.3SVPFf3O.dpuf

Sabtu, 03 Agustus 2013

Saudara-saudara, saya ingin membagi informasi tentang ajaran Ahmadiyah yang saya baca langsung dari kitab karangan pendirinya, Mirza Ghulam Ahmad (MGA). Kitab yang menjadi rujukan saya adalah “al-khazain al-ruhiyah”, “al-mawahib al-rahman” yang merupakan terjemahan dari bahasa Urdu Ahmadiyah. Saya akan membagi pembahasan jadi dua, yaitu ajaran-ajaran apa dari mereka yang sama dan ajaran-ajaran apa dari mereka yang berbeda.

Ajaran Ahmadiyah sama dgn mayoritas umat Islam dalam,

 1. Agama mereka adalah Islam, syahadat mereka adalah La ilaaha illahu wa muhammad rasulullah. Penegasan agama Islam dan syahadat ini ditulis oleh Mirza Ghulam Ahmad di Juz 19 al-Khazain al-Ruhiyah-Kitab Mawahib al-Rahman. “Tidak masuk dlm Jemaat kami,kecuali yg memeluk Islam,mengikuti Kitab Allah,sunnah manusia terbaik (Muhammad saw).. dst (MGA). Maka tidak benar kalau menganggap Ahmadiyah adalah agama baru seperti Bahai, Sikh, dst. Ahmadiyah adalah nama ormas keagamaan bukan agama. Ahmadiyah seperti Muhammadiyah, atau NU, atau Persis, dll (nama ormas keagamaan bukan agama, bukan madzhab fiqh atau firqah).

Penegasan ini berasal dr pendirinya Mirza Ghulam Ahmad bahwa tidak seorang pun yang boleh masuk Jemaat kami (#ahmadiyah) kecuali dia muslim. Penghakiman terhadap Ahmadiyah bersumber dari sas-sus, fitnah untuk tujuan di luar dakwah Islam. Saya telah mengunjungi dua masjid Ahmadiyah di London, yang pertama London Mosque (al-fadl) mesjid tertua di Inggris (thn 20-an) dan Baytul Futuh. Tidak benar kalau pengikut Ahmadiyah hajinya ke Qadian-India atau ke London, ini fitnah besar. Pengikut Ahmadiyah yang ke London atau ke Qadian untuk mengikuti “Jalsa Salanah” annual meeting ‘pertemuan tahunan’ di Indonesia pun ada.

2. Ahmadiyah percaya Muhammad SAW sebagai “Khatam al-Nabiyyin” (‘penutup nabi-nabi′)-sprti ditegaskan oleh MGA dalam “Mir’ah Kamalat Islam”.

3. Ahmadiyah percaya tidak ada kitab suci selain al-Quran yang di dalamnya Kalam Ilahi, syariat sempurna & terakhir. Oleh karena itu, yg menuduh Ahmadiyah punya kitab suci selain al-Qur’an yang disebut-sebut tadzkirah adalah fitnah & dusta besar. Tadzkirah yang berasal dari ucapan, catatan, dan ilhamat Mirza Ghulam Ahmad dibukukan 27 tahun setelah MGA wafat bukan kitab suci Ahmadiyah.

4. Rukun Islam Ahmadiyah ada 5: syahadat, shalat, puasa, zakat & haji ke baitullah di Mekkah. Dlm ibadat Ahmadiyah ikut madzhab Hanafi.

5. Apa yg diharamkan oleh Allah & Rasul-Nya, pengikut Ahmadiyah juga haramkan ini ditegaskan dalam kitab Nur al-Haqq.

Kesimpulan, rukun Iman (6) dan rukun Islam (5) pengikuti Ahmadiyah sama dengan mayoritas umat Islam sedunia.

Ahmadiyah shalat 5 waktu (bukan 3 waktu seperti Syiah) jumlah rakaat sama, bunyi adzan sama (kalau Syiah beda), dalam subuh tak ada qunut. Dalam shalat Ahmadiyah seperti Muhammadiyah tidak ada zikir setelah shalat, doanya tidak nyaring, tidak ada qunut, tidak ada shalawat di antara 2 khutbah. Koreksi untuk anda: (Ahmadiyah shalat 5 waktu (bukan 3 waktu seperti Syiah)…Syiah shalat 5 waktu juga, tapi dibagi menjadi Subuh, Zuhur dan Ashar, Magrib dan Isya. by Rachmat Setiawan)

Kemudian, perbedaan Ahmadiyah dengan umat Muslim pada umumnya,

1. Ahmadiyah percaya wahyu itu berlanjut, namun hanya “wahyu tabsyiri wal indzari” (wahyu dakwah) bukan “wahyu tasyrii” (wahyu syariat). Ahmadiyah percaya Mirza Ghulam Ahmad dapat wahyu, tapi isinya bukan syariat baru, tapi penegasan pada syariat Muhammad SAW. Apakah wahyu bisa diturunkan pada selain Nabi? Jawabnya bisa. Ibu Musa as dapat wahyu di surat al-qashash ayat 8. Selain Ibu Musa, Maryam menerima kalam dari malaikat (al Imran ayat 46), atau al-hawariyun –pengikut setia Isa (al-maidah ayat 112). Wa idz awhaytu ila al-hawariyyina an aminu bi wa bi rusuli – saat Kuwahyukan pada pengikut setia Isa,untuk beriman pada-Ku & RasulKu” (al-maidah 112).

Kesimpulan dari dalil-dalil tadi wahyu bisa diturunkan Allah pada selain Nabi, Ibu Musa, Maryam, pengikut Isa tapi bukan “wahyu syariat”. Benar Mirza Ghulam Ahmad mengaku menerima wahyu, tapi BUKAN WAHYU SYARIAT, wahyu itu tdk membatalkan syariat Muhammad SAW. Mohon anda baca kembali istilah wahyu ayat-ayat Qur’an yang diturunkan selain Nabi, atau bahkan pada tumbuhan dan binatang, tapi bukan wahyu syariat.

2. Ahmadiyah percaya semua nabi tubuhnya adalah manusia biasa, dan akan berakhir sprti manusia biasa (mati), dmikian jga Isa as. Yang membedakan Ahmadiyah dengan umat Islam yang lain yaitu, bagi ahmadiyah Isa telah wafat, tidak hidup jasmani-rohani nya di langit. Ahmadiyah dengan argumentasi nalar dan teks menolak bahwa saat ini Nabi Isa masih hidup, berada di langit, tubuh & ruhnya dan akan datang lagi. Ahmadiyah percaya Nabi Isa as, seperti nabi-nabi yang lain, tubuhnya manusia dan punya ajal, tubuh punya umur. Karena Ahmadiyah percaya nabi Isa telah wafat, maka mesias dan imam mahdi-ratu adil yg dijanjikan-adalah orang lain,bukan Nabi Isa yang wafat. Ahmadiyah percaya orang yang sudah wafat tidak akan kembali ke dunia ini, sprti halnya Nabi Isa as. Ia tidak akan kembali lagi ke dunia. Keyakinan Ahmadiyah ini lebih rasional dibanding kebanyakan umat Islam yang percaya Isa sebagai manusia masih hidup tubuhnya & berada di langit.

Dibanding Iman Syiah 12 Imam (yang ada di Iran) mereka percaya imam ke-12 yang ada di abad pertengahan masih hidup dan akan kembali ke dunia. Arti “rafa’a” dlm quran untuk Isa as, bukan Allah “mengangkat” jasad dan ruhnya ke langit, tapi “mengangkat derajatnya” (mulia).

3. Kalau bagi mayoritas umat Islam, mesias (al-masih) dan Imam Mahdi belum turun, bagi Ahmadiyah sudah turun yaitu Mirza Ghulam Ahmad. Dengan catatan keras: Mesias dan Imam Mahdi ini memperkuat syariat Muhammad SAW, tidak boleh menambah atau mengurangi sedikit pun. Karena nubuat2 ini harus diletakkan dalam doktrin bahwa Mesias itu adalah seorang nabi (tanpa syariat) yg memperkokoh syariat Muhammad saw.

Jadi meski Ahmadiyah percaya Mirza Ghulam Ahmad seorang nabi (Mesias) dan dapat wahyu, tapi TIDAK ADA SYARIAT BARU. Ibadat mereka sama dengan yang lain.

Banyak yang salah paham, dikiranya keyakinan Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi dan mendapat wahyu otomatis mengubah syariat Muhammad? Salah besar itu. Jangan menutup mata, bahwa keyakinan Ahmadiyah terhadap Mirza Ghulam Ahmad ada landasan teks dan rasional, mereka berhak untuk percaya.

Keyakinan Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi tidak mengubah syahadat, hanya diucapkan dlm bay’at unt masuk jemaat Ahmadiyah. Nama Mirza Ghulam Ahmad dan wahyunya tidak disebut dalam bacaan shalat, tidak pula di masjid-masjid Ahmadiyah. Foto Mirza Ghulam Ahmad dan penggantinya (khulafa’) memang dipasang di kantor-kantor Ahmadiyah tapi tidak di masjid. Di masjid-masjid Ahmadiyah hanya ada syahadat dan ayat-ayat al Quran, tidak ada foto Mirza Ghulam atau ucapan-ucapannya.

Anda yg mau mengetahui ajaran Ahmadiyah bacalah dari buku-buku aslinya bukan kutipan-kutipan dari musuh-musuh mereka :)

Kesimpulan saya : rukun iman dan Islam Ahmadiyah sama dengan mayoritas Islam, bedanya Mesias & Imam Mahdi bagi mereka sudah datang, sedangkan bagi yang lain belum.

Ibadat Ahmadiyah sama dgn umat Islam yang lain, secara madzhab fiqh mereka ikut Imam Hanafi (Imam fiqh pertama dlm 4 Madzhab). Ada kaidah fiqh yang sering dikutip GusDur qawl al-mujtahidi ‘an khashmihi laa yu’khadz (pendapat mujtahid tentang lawannya tak bisa diambil). Oleh karena itu, pendapat MUI, FPI, FUI,HTI atau siapapun yg memusuhi Ahmadiyah tidak bisa diandalkan, karena mereka punya bias-permusuhan. Ada kaidah fiqh yang lain juga untuk tidak mudah menghakimi, “idra’uu al-syubhaat” (hindari perkara-perkara yang belum jelas).

Semoga saya dijauhkan dari keangkuhan menganggap diri bisa menghakimi orang lain dalam soal iman.
Saya telah melihat tata-cara ibadah Ahmadiyah sampai pemimpin tertinggi mereka yg dipanggil “hudhur”, masjid-masjid mereka, tidak ada perbedaan. Isi dari ‘Jalsah Salanah’ adalah ceramah-ceramah dan shalat tahajud, tidak ada ritual dan ibadat baru yang tidak dikenal Islam. Saya menyimpan foto-foto masjid-masjid Ahmadiyah di inggris dari luar hingga bagian dalam. Di luarnya ada kalimat syahadat dan di dalamnya ada ayat-ayat Qur’an. Tidak ada foto Mirza Ghulam dan kutipan kata-katanya di masjid-masjid Ahmadiyah, tidak ada kultus luar biasa padanya di jemaat ahmadiyah.

Setiap masjid Ahmadiyah ada kalimat syahadat “Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad Rasulullah”, tidak benar ada tambahan Mirza Ghulam nabi Allah. Kalau ada yang bilang: syahadat Ahmadiyah itu beda, shalatnya beda, puasanya beda, zakatnya beda, hajinya beda: ini fitnah besar!

Orang Ahmadiyah dari Pakistan memang tidak bisa naik haji ke Mekkah, karena di paspor mereka dipaksa ditulis agama mereka Ahmadi bukan Islam. Orang-orang Ahmadiyah Pakistan kalau mau naik haji pakai paspor Inggris atau India yang tak cantumkan agama di paspor mereka.

Apakah mayoritas umat Islam di Indonesia memusuhi Ahmadiyah? Tidak benar, kalau benar mereka takkan hidup di sini sejak tahun 20-an. Benar kalau mayoritas umat Islam di Indonesia berbeda dalam beberapa poin ajaran dengan Ahmadiyah tapi berbeda bukan berarti memusuhi.

Namun hal yang berkaitan dgn ibadah-ibadah mahdlah, hal yang “al-ma’lum min al-din bi al-dlarurah”, Ahmadiyah sama dengan mayoritas umat Islam Indonesia. Perdebatan kelompok Islam yang lain dengan Ahmadiyah sudah terjadi sejak lama, tapi tindakan kekerasan ini fenomena baru. Saya sering ditanya kenapa Ahmadiyah sangat dibenci? Lalu saya balik Tanya, kenapa baru sekarang mereka dibenci? Mereka di Indonesia sejak tahun 20-an lhoo!

Saat ini, seolah-olah sudah jadi parameter-tapi tolol-yang mau dianggap Islamnya bener maka harus membenci dan membubarkan Ahmadiyah. Kalau itu dipakai, maka KH Hasyim Asy’ari pendiri NU bisa dituding Islamnya nggak bener , karena tidak pernah ada fatwa membubarkan Ahmadiyah.
Yang belum pernah shalat, masuk masjid Ahmadiyah atau baca kitab-kitabnya tolong jangan sok tahu dank oar-koar tentang Ahmadiyah, anda cuma nelan fitnah. Siapa yg bilang ini: kebohongan kalau diulang-ulang suatu saat akan jadi kebenaran. Inilah yg terjadi pada #ahmadiyah. Banyak bukti : saksi, rekaman video, foto FPI lakukan aksi-aksi kekerasan, divonis pun sudah. Tapi Ahmadiyah tidak pernah lakukan kekerasan.
Kata siapa orang Ahmadiyah tidak bisa shalat dengan muslim yang lain?Atau muslim yang lain dilarang shalat di masjid Ahmadiyah? Buktikan dulu. ‘ala kulli hal Ahmadiyah sudah ada zaman Hadlratu Syekh Hasyim Asy’ari, tidak ada fatwa bubarkan ahmadiyah, saya manut beliau. Kalau memang Ahmadiyah boleh dibubarkan, sudah bisa sejak zaman KH Hasyim Asy’ari atau KH Wahid Hasyim yang jadi Menteri Agama yang pertama.

Kalau ada orang NU yang mau bubarkan Ahmadiyah, berarti ia anggap dirinya lebih dari Hadlratu Syaikh Hasyim Asyari. Seharusnya Surya Darma Ali Menteri Agama sekarang mengikuti KH Wahid Hasyim Menteri Agama pertama yang melindungi Ahmadiyah. Kiai-kiai NU yg ikut2an mau bubarin Ahmadiyah itu kiai-kiai baru yang amalannya “kursi fulitik” bukan “ayat kursi” :)

Pertanyaan yg harus dijawab, mengapa baru sekarang Ahmadiyah dimusuhi padahal mereka sudah ada di negeri ini sejak tahun 20-an? Kenapa baru Menteri Agama sekarang Surya Darma Ali yang mau bubarkan Ahmadiyah sementara Menteri Agama pertama KH Wahid Hasyim lindungi mereka? GusDur tegas membela Ahmadiyah sebagai hak konstitusional, sebagai warga-negara bukan sebagi ajaran. Jadi, sikapi Ahmadiyah sebagai warga-negara. Bagi anda yang tak setuju ajaran Ahmadiyah, tanamkan tasamuh (toleransi) sikapi mereka seperti GusDur menyikapinya sebagai warga-negara.

Anda kalau mau belajar NU, mau tahu NU ya ke GusDur, sanad beliau nyambung,msh bertemu KH Hasyim Asyari,KH Wahid Hasyim,KH Wahab, KH Bisyri. Ajaran, tafsir dan tradisi NU yg otoritatif menurut saya melalui #GusDur,yg punya darah,ideologi&karamah tokoh2 NU,tolong jgn sebut yg lain

Selama KH Hasyim Asy’ari, KH Wahid Hasyim, KH Wahab, KH Bisyri, dan KH Abdurrahman Wahid tidak berfatwa bubarkan Ahmadiyah saya pun tidak! GusDur pernah ditanya, Gus Ahmadiyah sesat karena ngaku terima wahyu Respon Gus Dur “gitu aja kok sesat, gimana Wahyu Sihombing”

Kesimpulan saya dr bacaan, amatan & pengalaman langsung, rukun Islam Ahmadiyah sama persis! Nama Mirza Ghulam Ahmad tidak disebut dalam syahadat atau shalat hanya dalam bay’at (ikrar masuk jemaat) Ahmadiyah. Orang mau yg masuk tarekat saja ada bay’at untuk taat pada Allah, Rasululullah, Syaikh Pendiri Tarekat dan Syaikh yang bai’at dia, begitu pula Ahmadiyah. Ahmadiyah tidak bisa dikafirkan karena mereka syahadat, shalat, puasa, berhaji, zakat, ikuti Qur’an & Sunnah Nabi. Mereka muslim. Sekali lagi anda yang tidak bisa terima ajaran Ahmadiyah (meskipun mayoritas sama) tasamuhlah (toleran) sikapi mrka sbgai warga-negara. Tak sedikit yang benci Ahmadiyah karena tidak tahu, seperti pepatah: al-nasu a’da’u ma jahilu (manusia cenderung memusuhi yang tak diketahuinya).

Informasi tentang Ahmadiyah yang dianggap kebenaran sebenarnya tak lebih kebohongan yang diulang-ulang. Sekian sekedar berbagi informasi tentang Ahmadiyah yang berasal dari bacaan, amatan dan pengalaman pribadi saya langsung berinteraksi dgn mereka.

Kalau ada yang sibuk ngurusin keyakinan Ahmadiyah, emang siapa Yang punya surga dan neraka? Kuu anfusakum wa ahlikum nara (jaga dirimu dan keluargamu dari neraka).

-Guntur Romli-
Penulis, Aktivis, dan Kurator di Komunitas Salihara, Jakarta
Lihat http://dildaar80.wordpress.com/2011/02/07/apa-itu-ahmadiyah-kesaksian-seorang-nu

Love for All Hatred for None adalah moto perdamaian universal, keadilan, kesetaraan, cinta, saling pengertian dan kerukunan. Moto ini diciptakan oleh Khalifah Ketiga Ahmadiyah, Hadhrat Mirza Nasir Ahmad.

Hadhrat Mirza Nasir Ahmad menciptakan moto ini pada kesempatan peresmian Masjid pertama di Spanyol pada 9 Oktober 1980 setelah 700 tahun terakhir (setelah runtuhnya kekuasaan Islam di Andalusia)

Dalam menerangkan moto ini beliau mengatakan: "Islam mengajarkan hidup saling mencintai dan kasih sayang serta penuh kerendahan hati."

Islam berarti damai dan berupaya menegakkan prinsip-prinsip perdamaian, saling mencintai dan kasih sayang. Bagaimana seseorang dapat memastikan rasa saling mencintai itu bisa terus menyebar? jelas dengan kerendahan hati. Saya percaya aspek kerendahan hati adalah alasan utama mengapa "hatred for none" ada dalam moto itu. Jika seseorang bersikap rendah hati, ia akan mengakui bahwa mereka memiliki banyak kekurangan dan pada saat yang sama ia belajar untuk mengabaikan kekurangan orang lain, sehingga hal itu membantu menumbuhkan sikap meniadakan kebencian kepada siapapun.

Banyak para pejabat mengomentari kekaguman mereka terhadap moto ini, tetapi saya ingin mengambil pendekatan yang berbeda dalam mendapatkan arti sebenarnya dari moto Love for All Hatred for None. Kita harus memahami bahwa moto ini diciptakan oleh seorang pribadi yang harus melalui salah satu keadaan yang paling sulit dalam sejarah Jemaat Ahmadiyah.  Beliau harus memimpin seluruh anggota Ahmadiyah yang dinyatakan non-muslim oleh Mahkamah Agung Pakistan yang telah membuka kotak pandora penganiayaan tak berujung. Kepedihan beliau tak dapat digambarkan hanya dengan kata-kata.

Di masa-masa penganiayaan tersebut Hadhrat Mirza Nasir Ahmad mengatakan:

"Saat hari-hari tersebut, terdapat malam-malam tertentu dimana saya tidak tidur selama satu menit tanpa berdoa bagi seluruh anggota Jamaah."

Hal itu benar-benar mengundang pertanyaan orang-orang bagaimana beliau mampu menganjurkan pesan perdamaian seperti itu saat beliau sendiri dalam keadaan hati yang menderita. Hal ini juga menegaskan kembali bahwa memang Allah taala lah Penolong sejati dari Pemimpin Spiritual yang terpilih.

Meskipun penganiayaan terhadap Jemaat Ahmadiyah terus berkembang beberapa waktu terakhir, Ahmadiyah tetap mempertahankan moto yang sama. Para jurnalis banyak menanyakan bagaimana bisa seseorang bisa benar-benar mencintai semua orang dan tidak membenci siapapun?

Khalifah Ahmadiyah saat ini, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad telah menetapkan definisi moto ini yang berguna seumur hidup.

Beliau mengatakan, "Love for All Hatred for None" mengandung arti kita tidak memiliki permusuhan, tidak ada kedengkian, dan tidak ada dendam bagi siapapun di dalam hati kita."

Definisi beliau sejalan dengan sunnah Nabi Muhammad saw. Seorang wanita tua biasa melemparkan kotoran kepada Rasulullah saw setiap kali beliau melewati rumahnya. Suatu hari saat beliau lewat, beliau tidak melihat ada yang melemparkan kotoran. Beliau pergi ke rumah wanita tua itu untuk menanyakan mengapa dia tidak melemparkan kotoran dan dia menjawab bahwa dia sedang sakit hari ini. Atas kunjungan Rasulullah wanita itu terpesona oleh sikap beliau.

Sungguh ini sejalan dengan definisi yang diberikan oleh Hadhrat Mirza Masroor Ahmad.

Tidak ada permusuhan dalam hati kita. Beliau pernah mengomentari bahwa Pakistan semakin meningkat dalam hal penganiayaan terhadap warga Ahmadiyah, doa-doa kita juga harus tingkatkan untuk Pakistan supaya diselamatkan dari kondisi mereka saat ini. Moto ini tidak hanya di atas kertas saja atau diucapkan ketika saat wawancara tetapi Jemaat Ahmadiyah berusaha menjadi contoh hidup dari moto ini.

Jemaat Ahmadiyah memiliki organisasi amal yang dikenal dengan Humanity First yang berusaha untuk memberikan bantuan bencana di seluruh dunia. Pada tahun 2005, sekitar 10 warga Ahmadiyah disyahidkan di wilayah Mong, Pakistan. Dalam waktu 24 jam salah satu gempa bumi terburuk melanda wilayah terpencil di Pakistan.

Pada Khutbah Jumat berikutnya, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad memberikan khutbah tentang pengabdian terhadap kemanusian. Dan kemudian bagaimana Humanity First setelah itu langsung memobilisasi upaya pemberian bantuan ke daerah yang tertimpa bencana. Ini adalah bentuk ketinggian dari Love for All Hatred for None. Walaupun berduka karena kewafatan para syuhada Jemaatnya, semangat kemanusiaan mereka tetap menonjol.

Ahmadiyah memang tidak mendukung konflik tertentu yang terjadi antar negara tetapi walau demikian, di United Kingdom, mereka melakukan poppy appeal (penghormatan kepada pahlawan) untuk menggalang dana untuk para veteran Inggris. Di Amerika Serikat, untuk mengenang korban-korban peristiwa 9/11, Ahmadiyah setiap tahun mengumpulkan lebih dari 10.000 kantong darah. Ini adalah contoh-contoh praktis Love for All Hatred For None dan banyak lagi contoh-contoh lainnya di seluruh dunia.

Ketika perdebatan tentang pembangunan Masjid Ground Zero mencapai puncaknya, salah satu pernyataan yang paling islamis datang dari Hadhrat Mirza Masroor Ahmad:

"Jika izin diberikan, maka Jemaat Ahmaidyah menginginkan sebuah Gereja, Sinagog, Kuil dan tempat ibadah semua agama agar dibangun di sepanjangnya. Karena hal ini akan menunjukkan kesatuan sejati dalam masyarakat." Satu contoh lain bagaimana Love for All Hatred For None telah diterapkan oleh Ahmadiyah.

Love for All Hatred For None benar-benar pesan universal. Kapanpun, dimanapun Hadhrat Mirza Masroor Ahmad menyampaikan pesan-pesan beliau, banyak pejabat non-muslim yang menghadiri pidato beliau. Yang pertama dan paling utama, beliau selalu menghargai mereka atas kedatangannya ke acara yang mana mereka sangat tahu acara tersebut diselenggarakan oleh Ahmadiyah.

Ini adalah tujuan Hadhrat Mirza Masroor Ahmad yaitu memenangkan hati orang dengan Love for All Hatred For None, dan betapa besarnya pekerjaan besar yang beliau lakukan dalam mencapai tujuan ini setelah setiap pidato yang beliau berikan. Banyak para pejabat berkomentar bahwa dengan pesan damai ini, perdamaian dunia sejati tiba-tiba menjadi mungkin.

Islam secara tegas tidak membenarkan penyebaran dengan pedang sebaliknya Al-Qur'an mengajarkan pesan Love for All Hatred For None dalam bentuk teladan. Bahkan ketika Al-Qur'an memberikan izin untuk melawan, hal itu dilakukan dalam rangka membela diri, karena perdamaian bener-benar dipertaruhkan. Jika Allah taala tidak mengizinkan umat Islam untuk berperang pada waktu itu, tempat ibadah dari semua agama lain akan dipertaruhkan. Sebagaimana dalam Surat 22 ayat 40. Ini menunjukkan bahwa Love for All Hatred For None bukanlah pesan ekslusif Ahmadiyah melainkan pesan Islam itu sendiri.

Love for All Hatred For None adalah pesan yang membantu menjaga kehidupan pribadi seseorang. Ketika seseorang dihadapkan pada kekurangan orang lain, seseorang didorong untuk berpikir tentang moto mereka dan menyadari bahwa mereka diberitahu untuk tidak menyimpan kebencian atau permusuhan apapun bagi siapapun.

Jika seluruh dunia mengikuti moto Love for All Hatred For None ini dalam arti sebenarnya, tentu kita akan lebih dekat dengan perdamaian dunia dengan cepat. Hadhrat Mirza Masroor Ahmad menganjurkan berbuat baik bahkan terhadap mereka yang telah berlaku kejam, dengan harapan hati mereka akan melunak. Semoga dunia benar-benar memahami moto perdamaian universal ini - Love for All Hatred For None.
- See more at: http://1ahmadiyah.blogspot.com/2013/06/love-for-all-hatred-for-none-moto-damai-ahmadiyah.html#sthash.pDEy0BH7.dpuf









Jumat, 02 Agustus 2013

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Dewan Pengurus Daerah Jemaaat Ahmadiyah Indonesia Kabupaten Wonosobo Mengucapkan:
"Id Mubarak, Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1434 H Kepada Seluruh Saudara se-Muslim di Wonosobo dan Sekitarnya"

Semoga Amal Kebaikan dan Ibadah-ibadah Kita Selama di Bulan Suci Ramadhan Diterima Allah Ta'ala, serta Semoga Kita Mendapatkan Id Hakiki.

Taqabbalallahu Minna Wa Minkum Minal Aidzin Wal Fa'idzin, Mohon Maaf Lahir dan Batin, Jazakumullahu Ahsanal Jaza'

 
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh


Ketua DPD JAI Wonosobo                            Mubaligh Muslim Ahmadiyah                 Sukendar                                                             Sajid Ahmad Sutikno




PB JEMAAT MUSLIM AHMADIYAH INDONESIA MENGUCAPKAN:  "EID MUBARAK 1 SYAWAL  1434 H"