"Janganlah kebencian sesuatu kaum mendorong kamu bertindak tidak adil. Berlakulah adil; itu lebih dekat kepada takwa.”

(Al-Maidah ayat 8).

Jumat, 18 Januari 2013

 Thursday, January 3, 2013, Press Release: Pertemuan Tahunan Muslim ditutup dengan Pidato Pemimpin Islam Dunia Membela kehormatan Nabi Muhammad saw adalah tugas semua Muslim sejati sepanjang masa Konvensi Tahunan ke 121 (Jalsa Salana) Jamaah Muslim Ahmadiyah di India ditutup kemarin di Qadian dengan pidato yang berbobot yang menginspirasi iman oleh Khalifah Kelima, Pemimpin Dunia Jamaah Muslim Ahmadiyah, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad.

Pidato Khalifah tersebut disiarkan melalui satelit dari Masjid Baitul Futuh di London. Jalsah Salanah ini menarik lebih dari 18.000 orang dari seluruh dunia di Qadian, sementara sebanyak 4.000 orang lainnya berkumpul di London dalam sesi penutupan. Sekitar satu jam pidato, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad berbicara secara rinci tentang membela kehormatan Rasulullah saw secara sungguh-sungguh dan dengan cara yang tepat.
Mengomentari berita tentang ulama-ulama di Pakistan yang menyatakan tahun 2013 sebagai 'Tahun Membela Kehormatan Nabi Muhammad saw’ Beliau mengatakan bahwa hal itu aneh dengan menetapkan hanya satu tahun untuk tugas mulia ini. Sebenarnya ulama seperti itu tidak tulus dalam kecintaan mereka terhadap Rasulullah saw, melainkan termotivasi oleh keserakahan dan kekuasaan saja. Hadhrat Mirza Masroor Ahmad mengatakan: "Para ulama dan pengikut-pengikut mereka hanya menginginkan untuk memenuhi kepentingan pribadi dan memuaskan ego mereka. Atas nama agama mereka telah menumpahkan darah orang orang-orang yang tidak bersalah dan lemah. Betapa tidak adilnya jika mereka melakukan tindakan keji seperti itu mengatasnamakan Rasulullah saw yang diutus sebagai sumber rahmat dan kasih sayang bagi seluruh dunia."
Khalifah dengan tegas menyatakan bahwa semua serangan terhadap orang-orang yang tidak bersalah itu harus dikutuk dan tidak ada kaitannya dengan ajaran Islam yang sebenarnya. Beliau mengatakan bahwa mereka telah merampas hak-hak non-Muslim atau bertindak dengan cara penindasan yang melabrak ajaran fundamental Islam. Khalifah memperingatkan bahwa orang-orang seperti itu mengundang azab Allah atas diri mereka sendiri. Selain itu, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad menasehatkan bahwa keridhoaan Allah tidak dicapai melalui terorisme, ektremisme atau ketidakadilan, melainkan dengan cara mengikuti ajaran Islam yang damai dan benar.

Khalifah mengatakan, Pendiri Jamaah Muslim Ahmadiyah, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad dari Qadian, Almasih Yang Dijanjikan, adalah hamba terbesar dari Nabi Muhammad saw. Beliau mengatakan, Hadhrat Masih Mau'ud as dengan kedalaman dan kejelasan yang tak tertandingi telah menggambarkan status sebenarnya dari Nabi Muhammad saw sebagai Nabi universal dan Utusan Tuhan yang sempurna.

Hadhrat Mirza Masroor Ahmad mengatakan: "Di desa-desa, kota-kota di seluruh dunia hanya Muslim Ahmadi- lah yang menyangkal tuduhan-tuduhan yang dilontarkan terhadap Islam dan Nabi Muhammad saw dengan menekankan kepada non-Muslim bahwa mereka salah telah takut pada Islam. Dan memang dalam berbagai kunjungan, saya menemukan bahwa semua keraguan dan kecurigaan (terhadap Islam) telah dihapuskan." Hadhrat Mirza Masroor Ahmad menutup pidatonya dengan panggilan yang penuh emosional kepada Muslim Ahmadi di seluruh dunia.

Beliau mengatakan: "Wahai para pengikut Almasih Muhammadi, terangilah akhir malam tahun 2012 dengan cinta dan kesetiaan kepada Nabi Muhammad saw. Jangan membatasi semangat ini untuk satu tahun saja, tetapi terus menerus berkobar setiap hari, setiap tahun, sampai nafas terakhir kalian, atau sampai pada hari ketika seluruh dunia berada di bawah bendera Nabi Muhammad saw.

Beliau melanjutkan: "Setiap Muslim Ahmadi harus melihat kebelakang tahun ini dan menyambut Tahun baru dengan doa dan ibadah yang tulus sampai mengguncangkan Arasy. Berserahlah kepada Allah dengan hati yang pilu sehingga seluruh dunia datang untuk menyambut pesan kasih sayang dan damai dari Nabi Muhammad saw" Sumber: Alislam.org Press Release Terjemah: Jusman []
Friday, January 4, 2013 0 comments TERKAIT : Berita Ahmadiyah, Jalsah Salanah Membela Kehormatan Rasulullah saw adalah Tugas Setiap Muslim Pesan Untuk Dunia: 'Love for All, Hatred for None Jalsah Salanah Qadian ke-121 Dimulai Pertemuan Tahunan ke 121 Ahmadiyah akan Membahas Perdamaian Dunia Gerakan Penghijauan oleh Khuddamul Ahmadiyah di Dewsbury Country Park Pembangunan Masjid 'Hijau' Ahmadiyah Belanda Humanity First: Senyum Penduduk Lautoka Saat Bantuan Tiba Ijtima' Khuddamul Ahmadiyah ke-29 di Gambia Pujian Untuk Ahmadiyah atas Upaya Perdamaian Dunia Related Posts Widget[?] Jalsah Qadian 2011 Qadian (Punjab), 31 Des (ANI): Dalam pesan yang disampaikan atas nama Chief Minister Punjab Parkash Singh Badal, Sardar Sewa Singh Sekhawan, menteri pemerintahan, menyampaikan salam kepada komunitas Ahmadiyah untuk Konvensi Tahunan (Jalsah Salanah) mereka yang ke 121 di Qadian, dan juga memuji upaya Ahmadiyah untuk perdamaian dan persaudaraan dunia. Beliau juga menyatakan keinginan yang mendalam agar Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Pemimpin dunia Jamaah Muslim Ahmadiyah kembali mengunjungi Punjab pada acara Pertemuan dan memberkati semua orang disini. Beliau menambahkan bahwa partisipasi sejumlah besar warga Pakistan dalam acara konvensi ini telah membantu upaya memperkuat ikatan persaudaraan antar kedua negara tetangga. Hadir dalam pertemuan itu, Dr Rajkumar, Union Minister negara, mengatakan bahwa pesan perdamaian dari Ahmadiyah patut diapresiasi dan dihargai. Lebih lanjut beliau menambahkan bahwa pada saat ini, Ahmadiyah adalah satu-satunya komunitas yang bener-benar bercita-cita untuk menegakkan persatuan dan persaudaraan pada. Beliau juga menyampaikan salam dari Prime Minister Manmohan Singh dan Ketua UPA (United Progressive Alliance) Sonia Gandhi untuk pertemuan ini. Beliau lebih lanjut menyatakan keinginannya untuk dibangunnya perguruan tinggi kedokteran di Qadian dan menyampaikan hal ini kepada pejabat pemerintah yang lebih tinggi. Anggota SPGC Giani Joginder Singh mengatakan bahwa konflik agama muncul karena fanatisme. Lebih lanjut ia menambahkan bahwa politik harus didasarkan pada kebenaran dan keadilan, dimanapun jika keadilan hilang, hal itu akan menjadi kediktatoran. Baba Sukhdev Singh Bedi (keturunan ke 16 Guru Nanak Dev ji) dari Dera Baba Nanak mengapresiasi jasa Ahmadiyah dan mengundang pada semua orang yang hadir dalam konvensi ini untuk mengunjungi dan melihat Chola Baba Nanak. Para pemimpin terkenal lainnya yang berbicara pada kesempatan tersebut diantaranya Giani Joginder Singh dari Taksal Damdami, Acharya Chand Ramji dari Ayodhya, Deepak Kumar, ketua Block Congress Comittee, Himachal Pradesh, OP Upadhya, Wakil Rektor Universitas Hoshiarpus Guru Ravias, Dr Singh Sukhpreet dari Sikh Chetna Manch, Sant Baba Harpal Singh, wakil dari Nanmdhari Sanstha Bhaini Sahib, Pastor Sumanta Roy, Uskup, India Utara, Dr Sadhvi Prachi, MLA Uttarakhand, Master Mohan Lal, menteri transportasi Punjab. Sebelumnya, tiga hari Konvensi Tahunan Ahmadiyah telah dimulai dari hari Sabtu, dihadiri oleh peserta dari 31 negara termasuk lebih dari 5000 orang dari Pakistan saja. Jamaah Muslim Ahmadiyah adalah sebuah komunitas yang dinamis dan tersebar di lebih dari 200 negara. Didirikan oleh Mirza Ghulam Ahmad pada tahun 1889 di Qadian. (ANI) Sumber: Yahoo News India Terjemah: Jusman
Monday, December 10, 2012 0 comments TERKAIT : Berita Ahmadiyah, Dakwah Ahmadiyah, Khalifah Ahmadiyah Pemimpin Jamaah Ahmadiyah Mengatakan Agama adalah Kunci Resolusi Konflik Menteri Kanada Bertemu Khalifah Khalifah Ahmadiyah Tur Khalifah Ahmadiyah ke Kanada, Disambut Meriah Gerakan Penghijauan oleh Khuddamul Ahmadiyah di Dewsbury Country Park Pembangunan Masjid 'Hijau' Ahmadiyah Belanda Humanity First: Senyum Penduduk Lautoka Saat Bantuan Tiba Ijtima' Khuddamul Ahmadiyah ke-29 di Gambia Pujian Untuk Ahmadiyah atas Upaya Perdamaian Dunia Video: Dokumentasi Khalifah Ahmadiyah di Parlemen Eropa, Brussel Donor Darah Muslim Inggris Mendapat Pujian Anggota Parlemen California: Mahasiswa Islam Ahmadiyah Menyelenggarakan Pameran Al-Qur'an Pidato Islam yang Bersejarah di Parlemen Eropa Related Posts Widget[?] Tanggal 4 Desember 2012 pemimpin Jemaat Ahmadiyah seluruh dunia dan Khalifah V Hz. Mirza Masroor Ahmad menyampaikan pidato utama yang bersejarah di Parlemen Eropa, Brussel kepada lebih dari 350 orang tamu yang mewakili 30 negara. Acara ini diselenggarakan oleh ‘European Parliament Friends of Ahmadiyya Muslims Group’ yang baru saja dibentuk dimana Kepala dan para wakil kepalanya menyampaikan sambutannya kepada Hz. Mirza Masroor Ahmad. Martin Schulz MEP dan Ketua Parlemen Uni Eropa juga datang untuk bertemu dengan Mirza Masroor Ahmad. Dalam pidato 35 menitnya, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad menyampaikan tentang seruannya kepada Uni Eropa untuk mempertahankan persatuannya, membahas permasalahan imigrasi yang meningkat ke negara-negara Barat, menganjurkan kesetaraan dalam hubungan internasional dan berbicara panjang lebar tentang ajaran utama Islam dalam kaitan dengan perkembangan perdamaian dunia. Hadhrat Mirza Masroor Ahmad mengatakan bahwa dalam dunia modern ini banyak orang yang memandang Islam sebagai agama yang mengajarkan kekerasan dan ekstrimisme dan mereka menyalahkan Islam sebagai penyebab terjadinya konflik di berbagai belahan dunia. Beliau menyatakan bahwa tuduhan seperti itu sangat tidak adil mengingat arti sesungguhnya dari kata Islam adalah damai dan keamanan. Beliau juga berbicara tentang keprihatinan yang meningkat disebabkan meningkatnya imigrasi di negara-negara Barat. Dalam analisa yang lebih terperinci beliau mengatakan bahwa isu tersebut telah menyebarkan rasa ‘kegelisahan dan kecemasan'. Beliau menyalahkan keduanya baik para imigran maupun penduduk setempat yang terlibat konflik. Sementara banyak imigran yang memicu kemarahan penduduk pribumi dengan menolak untuk berbaur dengan penduduk setempat, beberapa segmen penduduk setempat pun tidak menunjukkan sikap toleransi terhadap orang luar. Beliau mengatakan konsekuensi dari perpecahan ini bisa meluas maka beliau mengajak semua pihak untuk berpartisipasi dan bekerja sama untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Hadhrat Mirza Masroor Ahmad mengatakan: "Pemerintah perlu membuat peraturan yang dapat mewujudkan dan melindungi sikap saling menghargai. Dimana jika ada sikap yang melukai perasaan yang lain ataupun menyebabkan kerugian bagi orang lain haruslah dihukum. Dengan perhatian kepada para pendatang (imigran) mereka harus masuk (ke negara lain) dengan kesediaan untuk berbaur dengan penduduk setempat. Sedangkan bagi penduduk setempat pun harus bersedia membuka hati mereka dan memperlihatkan sikap toleransi. Mengenai Uni Eropa Hadhrat Mirza Masroor Ahmad mengatakan: "Pembentukan Uni Eropa merupakan telah menjadi prestasi besar bagi negara-negara Eropa, yang mana hal itu telah menjadi sarana persatuan bagi Benua ini. Sehingga kalian harus melakukan berbagai macam upaya untuk memelihara persatuan ini. Ingatlah bahwa kekuatan Eropa terletak dalam hal persatuan dan kerjasama. Persatuan seperti ini tidak hanya menguntungkan kalian yang berada di benua Eropa ini saja tetapi pada tingkat global kalian akan menjadi sarana bagi Benua ini untuk menjaga kekuatan dan pengaruhnya. Beliau mengatakan kerja sama bukan hanya dibutuhkan di benua Eropa saja tetapi juga di seluruh dunia. Beliau mengatakan: "Berbicara dari sudut pandang Islam, kita harus bekerja keras agar seluruh dunia bersatu. Dalam hal nilai mata uang pun seluruh dunia harus bersatu. Dalam hal bisnis dan perdagangan pun seluruh dunia harus bersatu. Dan dalam hal kebebasan bergerak dan berpindah harus dibuat peraturan yang sama dan praktis sehingga dunia dapat bersatu." Hadhrat Mirza Masroor Ahmad mengatakan di dalam dunia yang modern, negara-negara tidak dapat lagi dikucilkan dan bahkan kekuatan dunia seperti Amerika Serikat tetap tergantung pada perdagangan internasional dan hubungan luar negeri. Beliau mengatakan negara-negara maju harusnya tidak mengeksploitasi negara yang lebih lemah tetapi harus berusaha menolong mereka berkembang dan berhasil. Hadhrat Mirza Masroor Ahmad juga berbicara mengenai konflik yang terjadi di dunia Arab dan Timur Tengah. Beliau mengatakan sementara di dunia barat telah secara terbuka mengekspresikan ‘kekejaman dan keprihatinan’ terhadap situasi di Syria dan Libia, tetapi mereka juga tidak mempedulikan keadaan yang buruk yang dialami oleh orang-orang Palestina. Hadhrat Mirza Masroor Ahmad mengatakan “Standar ganda ini telah menyebabkan meningkatnya keberatan dan kemarahan orang-orang di negara muslim terhadap kekuatan besar di dunia. Kemarahan dan kebencian ini sangat berbahaya serta dapat memuncak dan meledak kapan saja. Supaya diketahui bahwa saya tidak berbicara dalam mendukung atau atau condong pada salah satu negara. Apa yang saya harapkan adalah bahwa semua bentuk kekejaman, dimanapun mereka berada harus dihilangkan dan dihentikan. Terlepas apakah perbuatan itu dilakukan orang-orang Palestina, Israel orang dari negara lain.” Hadhrat Mirza Masroor Ahmad juga mengeritik hak veto di dalam lembaga-lembaga Internasional. Beliau mengatakan bahwa sejarah pengambilan suara oleh anggota tetap Dewan Keamanan PBB menunjukan bahwa beberapa kesempatan hak veto telah disalagunakan untuk membantu kelaliman daripada mencegahnya. Hadhrat Mirza Masroor Ahmad menyimpulkan dengan menyerukan penegakan keadilan dan persamaan. Beliau mengatakan: “Harus selalu diingat bahwa kedamaian hanya bisa diwujudkan dengan menolong kedua belah pihak yang tertekan dan pihak yang menekan dalam cara dengan cara yang tidak dibeda-bedakan, bebas dari kepentingan-kepentingan pribadi tanpa adanya segala macam permusuhan. Perdamaian dibuat dengan memberikan semua pihak ruang lingkup dan kesempatan yang sama.” Sebelum pidato utama, sejumlah anggota Parlemen Eropa menyampaikan kekaguman mereka mengenai Islam yang cinta damai seperti yang ditunjukkan oleh Jemaat Muslim Ahmadiyah. Drs. Charles Tannock, Ketua dari European Parliament Friends of Ahmadiyya Muslims Group mengatakan, “Muslim Ahmadi merupakan contoh nyata toleransi dunia”. Beliau mengutuk penganiayaan Muslim Ahmadi di Pakistan, dan mengatakan 'moto Jamaah Ahmadiyah Love for All Hatred for None merupakan penawar terbaik bagi para jihadis ekstrem.” Tunne Kelam MEP, Wakil Ketua European Parliament Friends of Ahmadiyya Muslims Group mengatakan, beliau menghadiri acara ini karena merupakan suatu kesempatan untuk ‘bergabung dalam cita-aspirari perdamaian'. Beliau memuji Jemaat Muslim Ahmadiyah yang ‘menolak segala bentuk kekerasan dan terorisme’ dan berjanji akan mendukung Jemaat secara global. Baroness Sarah Ludford MEP, Wakil Ketua European Parliament Friends of Ahmadiyya Muslims Group berbicara tentang hubungannya yang sudah lama terbentuk dengan Jemaat Muslim Ahmadiyah di United Kingdom. Beliau mengatakan bahwa semboyan Jemaat Ahmadiyah merupakan ‘Inspirasi benar-benar kita butuhkan di dunia modern.’ Claude Moraes, European Parliament Friends of Ahmadiyya Muslims Group, mengatakan bahwa acara ini telah ‘menarik tingkat partisipasi yang lebih banyak daripada yang kita dapatkan pada setiap pertemuan di Parlemen Eropa’. Jean Lambert, Ketua Delegasi Asia Tenggara pada Parlemen Eropa, mengatakan bahwa beliau akan menanyakan kepada Pemerintah Pakistan mengenai hak suarau dari anggota Muslim Ahmadi. Beliau mengatakan bahwa penting bagi semua pihak memiliki hak untuk memilih dengan bebas dan diskriminasi. Amir Jemaat Muslim Ahmadiyah UK, Rafiq hayat, juga menyampaikan rasa bahagia karena ‘European Parliament Friends of Ahmadiyya Muslims Group' telah dibentuk. Acara bersejarah ini ditutup pada pukul 16.35 dengan doa yang dipimpin oleh Hz. Mirza Masroor Ahmad. Lihat Videonya disini: Sumber: Press Desk Ahmadiyya Muslim Jamaat International Terjemah: Mln. Syihab Ahmad
Tuesday, December 11, 2012 0 comments TERKAIT : Berita Ahmadiyah, Masjid Ahmadiyah Pujian Untuk Ahmadiyah atas Upaya Perdamaian Dunia Ahmadiyah Meresmikan Masjid baru di Jerman Masjid Pertama didirikan di Kepulauan Marshall Gerakan Penghijauan oleh Khuddamul Ahmadiyah di Dewsbury Country Park Pembangunan Masjid 'Hijau' Ahmadiyah Belanda Humanity First: Senyum Penduduk Lautoka Saat Bantuan Tiba Ijtima' Khuddamul Ahmadiyah ke-29 di Gambia Related Posts Widget[?] Hamburg - Jamaah Muslim Ahmadiyah telah meresmikan sebuah masjid di Hamburg Schnelsen dengan dua menara masjid. Masjid Bait-ul-Rasheed, diresmikan oleh khalifah Ahmadiyah, Mirza Masroor Ahmad yang datang dari London. Diantara ratusan para tamu terdiri dari berbagai perwakilan dari Parlemen Hamburg dan Bundestag Jerman, perwakilan dari komunitas Yahudi dan Kristen serta penduduk setempat. gambar: www.welt.de Jamaah Ahmadiyah yang menggambarkan dirinya sebagai gerakan reformasi damai, mengklaim memiliki sekitar 30.000 anggota di Jerman. Sekitar 2.300 diantaranya tinggal di Hamburg. Kesetiaan pada negara Pada acara tersebut para politisi berbicara tentang kewarganegaraan dan kepala polisi Wolfgang Kopitzsch memberikan sambutan hangat. Selanjutnya Mirza Masroor Ahmad memberikan pidato dimana beliau menyerukan umat Islam untuk setia pada negara."Islam tidak mengizinkan segala bentuk ketidaksetiaan pada negara dimana ia tinggal." Selama peresmian tersebut banyak anggota Ahmadiyah berkumpul di luar masjid, yang sebelumnya tempat ini merupakan sebuah bangunan pabrik logam. Dengan memiliki dua menara baru setinggi 14 meter kini masjid bisa terlihat dari luar sebagai masjid. Tidak seperti masjid di kota-kota Jerman lainnya, tidak ada protes di Hamburg Schnelsen. Pemerintah kota telah mengundang warga masyarakat dalam acara peresmian tersebut untuk menunjukkan keterbukaan dan mengurangi ketakutan yang mungin ada, kata Asif Malik, juru bicara Ahmadiyah. Ahmadiyah mengklaim mempunyai puluhan juta pengikut. Ahmadiyah menggambarkan dirinya sebagai 'gerakan reformasi Islam" dan berkomitmen terhadap kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dan pemisahan antara negara dan agama. Didirikan pada tahun 1889 oleh Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad di India. (jusman) Sumber: welt.de ahmadiyyatimes


Bekerjasama dengan kota Almere, Jamaah Muslim Ahmadiyah Belanda berniat untuk membangun sebuah masjid baru untuk Jamaah Muslim Ahmadiyah setempat.
Berlokasi di Magica Laterna Park di Filmwijk, Almere, diatas sebidang tanah yang sebelumnya merupakan tempat bangunan sekolah darurat. Pihak kotamadya berkeinginan untuk mengembangkan kembali tanah dengan bangunan yang berfungsi keagamaan, dan untuk tujuan ini, Jamaah Muslim Ahmadiyah Belanda telah berencana untuk  membangun sebuah masjid baru di lokasi itu. Tetapi pada saat ini Islam telah menjadi isu yang sensitif.
Melihat kegelisahan politik global dan lokal serta sosial Islam di seluruh dunia. Jamaah Muslim Ahmadiyah telah melakukan pendekatan yang berbeda dalam hal desain untuk masjid baru mereka.
Masjid baru akan lebih transparan dan terbuka bagi masyarakat umum, strukturnya sendiri lebih kontemporer dan disesuaikan dengan lingkungan sekitarnya.


Langkah yang sedikit terisolir tidak dapat diterima oleh sebagian besar orang.
Jamaah Ahmadiyah ingin menunjukkan bahwa dengan masjid dan keimanan mereka, mereka akan menghormati, damai dan terbuka pada orang lain. Cinta untuk semua dan tiada kebencian untuk siapapun. (jusman); sumber: www.ahmadiyyamosques.com

Selasa, 11 Desember 2012

Wonosobo: Sabtu, 08/12/12 pukul 09:00 WIB Jemaat Ahmadiyah wilayah Jawa Tengah Bagian Barat dan wartawan MTA (Muslim Televion Ahmadiyah) telah mengadakan rabtah/silaturahmi kepada Drs. H. Abdul Kholiq Arif, M.Si, Bupati kabupaten Wonosobo. Rombongan itu terdiri dari para pengurus, muballighin, Bilal Ahmad Bonyan (wartawan MTA) dan Lili (Khudam/pemuda Ahmadi). 
Jemaat Ahmadiyah pun diterima dengan baik oleh Bupati di pendopo.
Sajid Ahmad Sutikno segera mengawali pembicaraan dan menyampaikan maksud kehadirannya, yaitu silaturahmi (audiensi) dan akan wawancara seputar kerukunan umat beragama di Wonosobo oleh jurnalis TV Muslim. Kemudian, masing-masing memperkenalkan diri. Bupati pun mengucapkan selamat dating dan terimakasih atas silaturahminya. Selain itu,  Jemaat Ahmadiyah juga berkesempatan menyampaikan ta’aruf seputar Ahmadiyah yang akhir-akhir itu diberitakan secara negatip di banyak media. Bupati selama ini sedikit banyak sudah mengenal Ahmadiyah, dan dirinya mengakui eksistensi Jemaat Ahmadiyah di Wonosobo serta bisa hidup rukun dengan kelompok lainnya. Ahmadiyah menurutnya adalah organisasi keagamaan yang terbuka dan tidak eklusif.
Dalam kesempatan itu, bupati yang ramah pada setiap orang itu berharap agar Jemaat Ahmadiyah mampu menjaga dan merawat kondusifitas didaerahnya.
Bupati yang mantan wartawan dan lulusan pesantren yang dikenal sebagai seorang Pluralis ini mampu merawat kerukunan masyarakatnya, serta memberikan pengayoman bagi kaum minoritas. Ia menambahkan, bahwa di Wonosobo sering diadakan pertemuan lintas agama dan berkeyakinan sebagai ajang silaturahmi dan komunikasi.
Bupati berpandangan, selama suatu kelompok itu masih bersyahadat “asyhadu an laa ilaaha illallaah wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullah", ya dia berhak klaim diri bagian dari Islam. Begitu juga dengan Ahmadiyah berhak klaim demikian,  jika syahadat dan rukun Islamnya sama dengan umat Islam lainnya. Kan itu hanya persoalan penafsiran saja? Selanjutnya beliau menyampaikan, jika masing-masing kelompok bisa berkomunikasi dengan baik, maka terbangunlah kerukunan dan toleransi.
Setelah beberapa saat kemudian, Bilal Ahmad, jurnalis TV Muslim mulai mengadakan wawancara kepada Bupati Wonosobo.
Wawancara seputar sikap pluralis dan keharmonisan masyarakat Wonosobo, potensi alam, budaya, hingga kearifan local lainnya, dll. Selanjutnya mubaligh wilayah pun menyerahkan cindera mata berupa Alquran (The Holy Quran) dengan terjemah dan tafsir singkat Jemaat Ahmadiyah berbahasa Indonesia. Bupati dengan senang hati menerimanya. Sebelum berpamitan, kita sempat menyampaikan kepada Bupati, bahwa hanya dengan MTA inilah kami mampu berbuat untuk Wonosobo, semoga bisa membantu meningkatkan perekonomian dengan hadirkan wisatawan asing setelah melihat tayangan Wonosobo yang indah melalui MTA internasional.
Pertemuan lebih dari 2 jam itu membawa kesan yang mendalam bagi Jemaat Ahmadiyah dan MTA, karena sikap ramah, terbuka, rendah hati, serta sederhana yang ditunjukan Bupati [].

Selasa, 11 Desember 2012 | 14:20 WIB 6.000 Warga Ahmadiyah Hidup Tenang di Wonosobo Besar Kecil Normal TEMPO.CO, Jakarta - Gesekan antar-umat beragama rawan terjadi di sejumlah wilayah di Tanah Air. Di Nusa Tenggara Barat dan Bogor, misalnya, sejumlah penganut Ahmadiyah diusir dari wilayah mereka. Begitu pula yang terjadi di Sampang, Madura, ketika penganut Sunni mengusir warga Syiah. Namun di Wonosobo, Jawa Tengah, masyarakat yang memeluk berbagai macam keyakinan bisa hidup berdampingan. Bupati Wonosobo, Abdul Kholiq Arif, menyilakan semua umat beragama untuk melakukan ibadah menurut keyakinannya. “Nabi saja menghormati kaum Yahudi. Saya pun harus berperilaku sewajarnya terhadap umat yang tak seiman,” kata Bupati Kholiq yang terpilih menjadi kepala daerah pilihan Tempo tahun 2012. Menurut dia, sebagai warga negara, kelompok minoritas sama-sama membayar pajak. Karena itu, ia menegaskan pemerintah bertanggung jawab dalam memberikan rasa aman bagi semua warga pada saat mereka beribadah, tak terkecuali penganut Ahmadiyah. Di Wonosobo, kota yang membentang di lereng Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro, terdapat setidaknya 6.000 penganut Ahmadiyah. Mubaligh jemaah Ahmadiyah, Sajid Ahmad Sutikno, mengatakan ketegasan Bupati membuat mereka aman. “Kami tidak punya masalah di sini,” kata dia. Begitu pula dengan penganut Konghucu, Tao, dan Buddha. Mereka merayakan hari besar agama tanpa rasa takut. Selain memberikan rasa aman pada saat menjalankan ibadah, pemerintah kabupaten memudahkan umat beragama yang hendak mendirikan tempat ibadah. Tentunya dengan melibatkan Forum Kerukunan Umat Beragama, wadah dialog antar-iman kota itu. Warga suku Tionghoa, Imam Darmadi, mengatakan, toleransi beragama di kotanya tinggi. “Sejumlah kiai dan habib kerap menghadiri undangan kami di kelenteng ini,” kata Imam. Membangun kerukunan antar-umat beragama tentu bukan pekerjaan mudah. Bupati Kholiq menceritakan selama awal kepemimpinannya di 2004, berbagai masalah sosial muncul ke permukaan. Mulai dari tawuran antar-kampung, kerusuhan, hingga angka kriminalitas cukup tinggi pada hingga 2010. Pada periode ini, kebakaran hebat juga menghanguskan pasar induk Wonosobo. Pencuri dibakar, perkelahian terjadi, lalu toko-toko tutup lebih awal. Untuk mengatasi persoalan kemanan ini, Sang Bupati merangkul para preman. “Mereka tidak boleh dibuang, kecuali melanggar hak orang lain,” ujarnya. Kholiq punya cara unik. Ia melibatkan para preman dalam kegiatan keagaman juga tradisi macapatan-tembang tradisional Jawa. Ia juga menggandeng Komando Distrik Militer untuk memberikan terapi kepada para jawara itu.