"Janganlah kebencian sesuatu kaum mendorong kamu bertindak tidak adil. Berlakulah adil; itu lebih dekat kepada takwa.”

(Al-Maidah ayat 8).

Tampilkan postingan dengan label Berita Toleransi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita Toleransi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Maret 2014

DELEGASI lintas iman dari Indonesia, yang digagas oleh Christian Solidarity Worldwide (CSW) bekerja sama dengan Jamaah Muslim Ahmadiyah Inggris Raya, telah memulai advokasi selama seminggu di negara tersebut. Ini bertepatan dengan peluncuran laporan terkini di Indonesia dari CSW pada minggu ini.
Delegasi tersebut akan memberikan testimoni pada sebuah hearing atau audiensi guna meluncurkan laporan “Indonesia: Pluralisme di Peril (Indonesia: Pluralisme dalam keadaan bahaya)”. Sebuah laporan yang berisi betapa maraknya intoleransi agama yang terjadi di nusantara. Laporan ini berlangsung pada Selasa, 25 Februari, di House of Commons–sebuah majelis rendah parlemen di Inggris Raya.
Di dalam delegasi tersebut ada Reverend (Pendeta) Favor Bancin dari Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Direktur Eksekutif Abdurrahman Wahid Centre untuk Dialog Lintas Iman Universitas Indonesia Doktor Ahmad Suaedy, Pastor Benny Susetyo dari Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), seorang guru Kristen yang sebelumnya bekerja untuk Scripture Union Indonesia Nona Muliathy Briany, Sekretaris Isyaat Pengurus Besar (PB) Jamaah MuslimAhmadiyah Indonesia (JAI) Mahmud Mubarik Ahmad, dan Sekretaris Umum Dewan Pimpinan Pusat Ahlulbait Indonesia Ahmad Hidayat yang mewakili masyarakat Muslim Syiah.
Jumat, 21 Februari, delegasi bermulaqat dengan Imam Jamaah Ahmadiyah Hadhrat Khalifatul Masih V Mirza Masroor Ahmad (Hudhur) atba.. Hudhur atba. memberikan kata sambutannya di masjid Baitul Futuh Morden. Sebuah masjid terbesar di Eropa Barat.
Minggu ini, delegasi akan bertemu dengan Menteri Negara Senior di Kantor Departemen Luar Negeri dan Persemakmuran serta Baroness Warsi dari Kementerian untuk Agama dan Komunitas, juga bertemu dengan juru bicara urusan luar negeri Partai Buruh oposisi John Spellar yang juga anggota parlemen, dan anggota parlemen Gavin Shuker dari Shadow International Development Minister, juga para parlementarian Lord Alton serta Baroness Cox, dan Uskup Declan Lang yang merupakan Ketua Departemen Urusan Internasional dari Konferensi Waligereja Inggris-dan-Wales serta sekaligus penasihat senior untuk Uskup Agung Canterbury, Quilliam Foundation, dan Tony Blair Faith Foundation.
Delegasi tersebut akan memberikan presentasi di London School of Economics dan Oxford University, sebelum mereka melakukan perjalanan ke Brussels guna meluncurkan laporan di Parlemen Eropa pada tanggal 4 Maret mendatang.
Laporan terkini dari CSW berisi analisis yang mendalam dari kebijakan-kebijakan dan praktek-praktek pemerintahan Indonesia. Hal tersebut disimpulkan telah memicu intoleransi agama yang “tidak lagi terbatas pada daerah-daerah seperti Jawa Barat dan Aceh yang dikenal sangat konservatif, tetapi terjadi juga pada umat Kristiani dan umat muslim dari Ahmadiyah, Syiah, maupun Sufi. Pun, para pemeluk Konghucu, Buddha, Hindu, Baha’i, orang-orang Yahudi, orang-orang penghayat kepercayaan maupun agama-agama lokal, hingga para ateis; semuanya dalam keadaan terzalimi.”
Laporan telah disahkan oleh para akademik berpengalaman dan para pembuat kebijakan di Amerika Serikat (AS) dan Inggris Raya.
Baroness Berridge, Ketua Grup Parta-partai Parlemen untuk Kebebasan Beragama maupun Berkeyakinan International mengatakan, “Sebagaimana laporan terkini dari CSW menunjukkan, intoleransi keberagamaan di Indonesia meningkat pada tahap yang sangat serius. Ini merupakan ancaman bagi bagi kebhinnekaan beragama di Indonesia yang pernah ada sebelumnya.
“Laporannya rinci, komprehensif, dan menarik. Ia berfungsi sebagai penggugah yang penting bagi pemerintah Indonesia dan masyarakat internasional.
“Dengan adanya audiensi ini, kami harap kami akan bantu mencermati ancaman-ancaman terhadap kebebasan beragama maupun berkeyakinan di Indonesia. Dan kami akan mendesak pemerintah Inggris dan komunitas internasional untuk menekan pemerintah Indonesia guna mengambil tindakan yang diperlukan untuk mengkampanyekan dan melindungi kebebasan beragama.
“Akhir tahun ini, Indonesia akan mengadakan pemilihan parlemen dan presiden. Sehingga, kami sangat berharap bahwa calon presiden ataupun presiden yang bakalan terpilih, akan menetapkan apa yang akan mereka lakukan demi mengatasi ekstremisme dan intoleransi. Sebagai sahabat Indonesia, kami memiliki tanggung jawab untuk menyoroti keprihatinan yang serius ini.”
Anggota Kongres AS Frank Wolf–asal Virginia dari Partai Republik–yang merupakan wakil ketua Komisi HAM Tom Lantos, mengatakan, “Sudah lama saya mengagumi kinerja CSW di dalam membela gerakan kebebasan beragama di seluruh dunia. Laporan terkini yang mereka terbitkan menjunjung tinggi tradisi tersebut, membawa perhatian yang layak, dan merupakan analisa yang mendalam tentang topik yang sangat relevan yang mengancam kebhinnekaan beragama di Indonesia.”
Anggota kongres AS Chris Smith, dari Partai Republik negara bagian New Jersey, ia anggota senior dari Komite Urusan Luar Negeri DPR dan sekaligus ketua dari ‘Subcommittee on Africa, Global Health, Global Human Rights and International Organisation‘, mengatakan, “Kebebasan beragama adalah sarana berharga yang sekali saja kita kehilangan maka akan sulit bagi kita untuk mendapatkannya kembali.
“Laporan CSW tentang Indonesia sebagai negara yang didirikan pada landasan kebhinnekaan beragama, sedang berada dalam keadaan yang mengkhawatirkan.
“Seperti yang kita saksikan, Indonesia merosot ke arah intoleransi dan kekerasan. Saya kembali berharap bahwa laporan ini akan berfungsi sebagai penggugah bagi para pemimpin Indonesia, khususnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, untuk mengambil langkah-langkah afirmatif demi melindungi para minoritas keagamaan di Indonesia dan hak-hak asasi manusia mereka yang paling dasar.”
Sumber: ICN, sebagaimana dikutip Ahmadiyya Times (38) pembaca
Sumber: http://warta-ahmadiyah.org/dari-masjid-ahmadiyah-baitul-futuh-morden-pekan-advokasi-lintas-iman-indonesia-dimulai/#sthash.3dPb7vPc.dpuf
Diteruskan oleh:

Rabu, 21 Agustus 2013


Jemaat Muslim Ahmadiyah
Wonosobo: Berbagai elemen antar umat beragama secara kompak menanam ribuan pohon di lahan tandus yang mengalami banyak kerusakan  di galian C dusun Anggrunggondok, desa Kepencar, kecamatan Kertek pada Selasa pagi (26/3) lalu. Selain menyelamatkan bumi, penanaman juga sebagai simbol kerukunan dan keharmonisan antar umat beragama. Kegiatan yang dirasakan penuh kekeluargaan dan kegembiraan itu dihadiri Bupati Wonosobo, Drs. H. Abdul Kholiq Arif, M.Si dan Wabup Ibu Maya.  Kegiatan yang terbilang sukses itu diprakarsai oleh GP Ansor dan Pemda kabupaten Wonosobo. Ia merupakan catatan sejarah awal Wonosobo yang bernuansa kerukunan umat beragama secara terbuka dilakukan, bagaimana tidak, semua organisasi dari Islam dan non-Islam diminta panitia acara untuk memasang bendera dan simbol-simbolnya dilokasi penghijauan, termasuk Jemaah Muslim Ahmadiyah. Perwakilan Jemaat Ahmadiyah yang hadir berjumlah lebih dari 35 orang terdiri dari khudamul Ahmadiyah (pemuda), Ansharullah (para sesepuh) dan korp muballighin (para ustadz). Warga Jemaat Ahmadiyah yang hadir berjumlah lebih dari 35 orang terdiri dari khudamul Ahmadiyah (pemuda), Ansharullah (para sesepuh) dan korp muballighin (para ustadz).

Acara terdiri atas: penampilan berbagai kesenian Wonosobo, penyerahan simbolik tananam kepada beberapa perwakilan, sambutan Rm. Matius Yatno Wibowo, MSC (selaku tuan rumah), sambutan ketua GP Ansor Asma Khozin, pembukaan dan sambutan oleh Bupati Wonosobo, doa penghijauan oleh kementrian agama kabupaten Wonosobo, Muhammad Ghufron, M.Pd, dilanjutkan dengan penanaman pohon secara simbolik dan serempak diikuti semua yang hadir.

Dalam sambutannya, sebagai tuan rumah, Rm. Matius Yatno Wibowo, MSC menyampaikan, bahwa “kita semua disini berkumpul dari banyak elemen masyarakat Wonosobo yaitu berbagai ormas Islam dan lintas agama dalam rangka penanaman pohon untuk anak keturunan kita kedepan. Kita disini bisa menunjukan sikap saling menghargai perbedaan. Karena berbeda itu indah, dan kita yakin bahwa acara di pagi  ini ada campur tangan Tuhan sehingga kita bias berkumpul bersama dalam rangka penghijauan, bersatu, jalin persaudaraan untuk kemajuan bersama”.  Pihaknya berharap, penanaman pohon ditanah milik Romo Stefanus Sumpomo, pendamping umat muda Katholik St Philipus Kapencar ini, bisa menjadi momen awal kebangkitan kembali semangat toleransi dan saling menghargai satu sama lain dalam koridor NKRI, sehingga bisa mendapatkan rahmat dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

Ketua GP Ansor Asma Khozin, di awal sambutannya menyebutkan satu persatu peserta penanaman pohon lintas agama, yang sudah mau mengorbankan waktunya termasuk Ahmadiyah dan pemuda Ahmadiyah (Khudamul Ahmadiyah) dihadapan lebih seribu orang itu. Ia merasa senang dengan kegiatan pelestarian alam itu dengan melibatkan banyak kawan umat beragama dari berbagai kelompok. Ketua GP Ansor yang sudah lama akrab dengan Jemaat Ahmadiyah ini menyampaikan terimakasih kepada semua elemen yang hadir.
Selanjutnya ia menyampaikan, bahwa “perbedaan ada untuk menjadikan kehidupan manusia lebih harmonis. Penanaman pohon lintas agama di pagi ini tanpa membeda-bedakan keyakinan diantara kita. Kita harus bisa saling hargai satu sama lain dalam perbedaan tanpa harus mengurangi keimanan masing-masing. Mari kita kikis ego kita masing-masing, rasa ingin menang dan benar sendiri. Tumbuhkan kebersamaan demi semangat kebangsaan di Wonosobo dengan mengimplementasikan Pancasila. Mari lupakan perbedaan”. Ia juga mangatakan, bahwa Banser harus digaris depan mengimplemantasikannya dalam dirinya, juga selalu siap mendampingi dan mengawal keharmonisan dan kerukunan beragama di Wonosobo. Ia berharap, bahwa “penanaman pohon dengan tema “kebersamaan” umat beragama ini semoga menjadi tonggak awal kita untuk saling menghargai, dan akan lebih fokus mencintai kehidupan dan pelestarian alam di Wonosobo, daripada mengurusi perbedaan”.

Bupati Wonosobo Memberi Sambutan 
Bupati Wonosobo pun mendapatkan giliran menyampaikan sambutan sekaligus membuka kegiatan bersejarah itu. Diawal sambutannya, bupati menyebut satu persatu yang hadir, “yang saya hormati saudara-saudara dari berbagai kelompok Islam dan agama-agama lain yang berkumpul bersama dalam kegiatan positip yaitu penghijauan/penanaman pohon. Dari Islam, disini ada unsur NU, Muhammadiyah, Rifaiyah, LDII,  juga Muslim Ahmadiyah; dan dari non-Islam ada dari Katholik, Kristen, Hindu, Budha, Konghucu dll, dari TNI dan Polri, GP ansor, Banser, Budayawan dll” Dalam pidatonya, bupati dengan tegas mengatakan bahwa didaerahnya tidak boleh terjadi kekerasan atas nama apapun, lebih-lebih atas nama agama. Wonosobo harus aman, nyaman dan tentram. Kerukunan harus terus dibangun. Pihaknya tidak beda-bedakan keyakinan apapun, semua harus dilindungi dan tidak ada kelompok-kelompok manapun yang berhak mengotak-atik kenyamanan Wonosobo. Bupati berterimakasih kepada semua pihak termasuk Ahmadiyah.” Semua elemen/kelompok harus guyub rukun dan bias ciptakan kedamaian di Wonosobo”, tambah bupati.

Ia menyampaikan, bahwa “saya menjadi Bupati Wonosobo awal teken kontraknya adalah menjadikan Wonosobo damai, aman, rukun dari semua unsur/elemen masyarakat. Dengan rukun, kita bisa berbuat banyak hal, dengan rukun kita bisa kerjakan ribuan kebaikan untuk bangsa dan Wonosobo. Saya tidak mau lagi Wonosobo tidak aman, tidak mau lagi ada kisruh atas nama apapun termasuk atas nama agama. Saya tidak mau dan tidak bisa dipengaruhi oleh siapapun untuk membuat situasi tidak nyaman di Wonosobo, dengan dalih apapun itu. Kita semua di pagi ini di tempat ini sedang membuat kegiatan positip yaitu menanam ribuan pohon sebagai pohon perdamaian. Sesuai tema kita “kebersamaan”, maka tidak boleh ada kekerasan di Wonosobo, mari jaga Wonosobo agar tetap harmonis”.

Intinya, masyarakat dan umat beragama di Wonosobo diminta untuk tidak mudah tersulut, ketika ada pihak-pihak yang mencoba memecah belah dengan dalih perbedaan agama atau apapun. Karena belum lama ini ada sejumlah pihak yang mencoba melakukan pecah belah di wilayah Kertek Wonosobo dengan cara mengadu domba mengenai perbedaan agama. “Semua warga Wonosobo jangan mudah tersulut, kita sudah kondusif lama. Belakangan ada pihak-pihak yang mencoba memprovokasi. Mengadu domba kita dengan dalih beda agama, kita jangan mau kembali kepada masa silam, yang penuh dengan kericuhan dimana-mana, jangan mau diprofokasi oleh siapapun”, ungkap Bupati Wonosobo.
Perwakilan Tokoh Lintas Agama, Pemda, TNI, Polri, Ormas dll

Bupati yang terkenal akrab dan ramah itu memiliki pengalaman langsung di masa lampau tentang kondisi-kondisi yg memungkinkan terjadinya situasi yang kurang kondusif, sehingga bisa mengetahui segera gejala-gejala munculnya pihak-pihak dan situasi yang ingin merusak keamanan dan kenyamanan di masyarakat. Dengan itu, ia bisa menentukan langkah antisipasinya dengan cepat dan tepat. “saya sangat berterimakasih kepada TNI dan Polri yang terus bekerja keras menjaga keamanan di Wonosobo”, ujarnya.
Bukti peningkatan keamanan itu berdasarkan survei dari Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD) bekerjasama dengan USAID dan The Asian Fondation yang dilaksanakan tahun 2007, kabupaten Wonosobo menempati peringkat pertama di Jawa Tengah, dalam tata kelola keamanan dan penyelesaian konflik. Pada tahun 2012 kemarin, tampil sebagai terbaik pertama hasil survei investasi Jawa Tengah. Juga menurut Majalah Tempo nasional,  bupati Wonosobo terpilih menjadi kepala daerah pilihan Tempo 2012 nomer dua di Indonesia karena berhasil merukunkan umat beragama dan menciptakan kondisi kondusif di Wonosobo.

Nampak Para Ahmadi Menanam di Lokasi 
Bupati selanjutnya menyampaikan perihal penanaman ribuan pohon, “kita akan berbuat kebaikan dengan menjaga alam. Kita jaga gunung dengan cara menanam pohon dengan tujuan menahan bencana alam yang mengancam. Sudah banyak sumber mata air di Wonosobo hilang akibat tidak adanya pepohonan dan penggalian pasir liar. Kita sebagai umat manusia diamanahi Allah untuk memelihara alam termasuk gunung. Pelestarian alam ini diajarkan dalam semua Kitab Suci umat beragama”.

Penanaman simbolik diwakili: Bupati Wonosobo, TNI, Polri, Katholik (Rm. Sumpama, MSC), ketua PCNU (Drs. Arifin Ma’arif), Jemaat Ahmadiyah (Sajid Ahmad Sutikno), Muhammadiyah, Rifaiyah, Mudika (Debiyo, S.Pd), komandan Banser (sdr. Antok), ketua GP Ansor (Asma Khozin), Budha (Lukito), Konghucu (Hasan) dan lain-lain.

Acara selesai pada pukul 14:00 WIB. Insyaallah Bupati akan mengadakan acara yang sama sesering mungkin di banyak lahan yang membutuhkan penghijauan.

Semoga Wonosobo selalu menjadi sampel bagi daerah lain di Indonesia dalam hal keharmonisan, sebagai gambaran ukhuwah yang benar, bergandengan tangan untuk kebaikan dan kemajuan bersama tanpa memandang perbedaan []
Jemaat Ahmadiyah Adakan Upacara Bendera HUT RI ke 68 di Pengungsian Asrama Transito Lombok NTB, Tempo/DW



Inilah Lima Tokoh yang Merekatkan Indonesia
TEMPO.CO, Jakarta - Tujuh tahun sudah keluarga Sahidin dan 31 keluarga penganut Ahmadiyah lainnya mengungsi di Wisma Transito karena rumah mereka diserbu saudara muslimnya pada Februari 2006.

Dua anak Sahidin: Maryam Nur Sidikah, 6 tahun, dan adiknya Muhammad Khotaman Nabiyyin, terus merengek minta pulang. Mereka dan 22 anak lainnya harus lahir di pengungsian.

"Ayah, kapan kita pulang ke rumah sendiri?" Maryam suatu kali bertanya kepada Sahidin. Sahidin, koordinator pengungsi Ahmadiyah di Wisma Transito Majeluk, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, hanya termangu mendengar pertanyaan anaknya.

Kekerasan terhadap jemaah Ahmadiyah di Mataram hanya satu serpihan dari pecahan kaca bernama toleransi di negeri ini. Hasil riset Lingkaran Survei Indonesia-Yayasan Denny J.A. menunjukkan, sejak 1998 hingga 2012, terjadi hampir 2.400 kasus kekerasan diskriminasi—kebanyakan berbasis agama. Jika dirata-rata, tiap tahun ada 160 konflik. Atau, tiap 2-3 hari muncul satu konflik berlatar belakang suku, agama, ras, dan antargolongan.

Nyaris tak ada solusi pada sebagian besar konflik itu. Jika ada, sekarang Sahidin tidak tinggal di pengungsian. Hukum juga tak bertaji terhadap mereka yang bersalah. Lihat saja, para penyerang jemaah Ahmadiyah di Cikeusik, Banten, yang menewaskan tiga anggota jemaah, hanya divonis 3-6 bulan bui. Akibatnya, kekerasan berbasis SARA mendapatkan kesempatan untuk tumbuh subur.

“Kemajemukan berbasis suku, agama, ras, dan antargolongan sekarang paling mudah menyulut emosi masyarakat,” Otto Nur Abdullah, anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, mengingatkan. Statistik mendukung Otto. Mengutip laporan Setara Institute dan Wahid Institute, kasus kekerasan berbasis agama meningkat sekitar 30 persen sejak 2009 hingga pertengahan 2013.

Namun kita beruntung karena di negeri ini masih ada warga negara yang tak kenal lelah bergiat merajut perdamaian, hak asasi, dan kebebasan beragama. Mereka ini pantas dibanggakan. Berbekal keyakinan tersebut, Koran Tempo mempersembahkan edisi khusus Hari Ulang Tahun Kemerdekaan 2013 bagi Para Perekat Republik.

Ada lima tokoh dan satu organisasi yang ditahbiskan sebagai para perekat Republik. Mereka adalah (1) Lian Gogali, penggerak pembauran di Poso, tempat di mana sayur-mayur dan buah-buahan pernah beragama. Lian menyatukan ibu-ibu Islam, Kristen, dan Hindu di Sekolah Perempuan Mosintuwu sejak tiga tahun lalu hingga sekarang. Tujuannya adalah mencegah konflik berkepanjangan di kabupaten di Sulawesi Tengah.

(2) Sofyan Tan di Medan. Pengalaman buruk ditolak masuk universitas negeri karena bermata sipit membuat dia mendirikan sekolah multi-etnis.

(3) Kami juga memilih Kholiq Arif, Bupati Wonosobo, yang juga menjadi tokoh “Bukan Bupati Biasa” versi majalah Tempo. Meskipun Kholiq bukan nama baru di media massa, kami menilai kiprahnya, yang sempat dianggap sesat karena melindungi penganut Ahmadiyah dan Syiah, menjadi antitesis dari para kepala daerah yang tak berbuat apa pun.

(4) Dari Bali, kami memilih Anak Agung Ngurah Agung. Pengagum Abdurrahman Wahid ini berusaha memulihkan keretakan hubungan umat Hindu-Islam pasca-bom Bali. Rumahnya di Puri Gerenceng-Pemecutan, Jalan Diponegoro, Denpasar, kerap dipenuhi umat Islam yang khusyuk mendaras doa dan puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW.

(5) Ada juga Tuan Guru Subki Sasaki yang mendobrak arus utama kaum konservatif di Lombok. Ia merupakan penyokong utama keragaman di wilayah itu.

(6) Terakhir, ada Forum Silaturahmi Anak Bangsa. Organisasi unik ini mendekatkan anak-anak dari mereka yang semula berseteru satu generasi yang lalu. Ada putri Pahlawan Revolusi Jenderal Ahmad Yani, bergandengan tangan dengan putra S.M. Kartosuwirjo dan D.N. Aidit.

Merekalah para perawat toleransi di republik ini, setelah negara absen memenuhi kewajibannya dalam merawat keberagaman. Bukan toleransi yang dibatasi sekadar untuk menghindari konflik, melainkan dengan cinta yang tak berbatas terhadap kemanusiaan. Pembaca, inilah mereka, para perekat “kaca-kaca” yang terserpih di republik ini.

Tim Tempo
http://www.tempo.co/read/news/2013/08/20/078505787/Inilah-Lima-Tokoh-yang-Merekatkan-Indonesia

Begini Cara Lima Tokoh Perekat Republik Dipilih
TEMPO.CO, Jakarta - Edisi Khusus Hari Kemerdekaan Koran Tempo disiapkan sejak pertengahan Juni 2013 lalu. Redaksi memulai dengan penyusunan kriteria para calon, sehingga kandidat bisa disaring sejak dini.

Ada lima kriteria utama yang ditetapkan redaksi. Tempat pertama diberikan kepada para pegiat perdamaian yang tak sekadar bermain pada tataran wacana, tapi sudah memiliki kontribusi nyata untuk merekatkan pluralitas. Mereka yang mengabdi di daerah konflik diprioritaskan.

Untuk itu, Ismail Hasani, Manajer Program Setara Institute, dan Ahmad Suaedy, salah satu inisiator The Wahid Institute, diundang redaksi Tempo sebagai mitra diskusi.

Seleksi tahap pertama mendapatkan hampir 20 nama. Banyak di antara nama itu belum cukup dikenal, tapi berandil besar membangun toleransi di daerahnya. Karena itu,  nama-nama tersebut kembali disaring dengan mempertimbangkan faktor ekspose media massa dan konsistensi.

Sejumlah nama tereliminasi. Sebutlah Ajun Komisaris Besar Yoyoh Indayah, Wakil Direktur Bimbingan Masyarakat Kepolisian Daerah Jawa Barat. Ketika menjabat Kepala Kepolisian Resor Kuningan, Jawa Barat, Yoyoh berhasil menangkal amuk massa terhadap penganut Ahmadiyah. Caranya pun unik. Ia menggalang para ibu untuk membuat pagar betis pelindung jemaah Ahmadiyah.

Yoyoh menjadi antitesis Kepolisian yang sejauh ini cenderung mendukung —-atau setidaknya membiarkan—- aksi kekerasan berbasis SARA. Sayangnya, setelah ia menjadi Wakil Direktur Bimbingan Masyarakat Polda Jawa Barat,  aksi-aksi cerdiknya dalam melindungi minoritas di Provinsi Jawa Barat berkurang. Padahal provinsi ini berada di urutan pertama dalam jumlah kasus kekerasan berbasis agama.

Ada juga Heidy Maeka, 35 tahun. Perempuan Kristen ini telah menjadi aktivis perdamaian di Poso sejak masih kuliah. Ia naik sepeda motor bolak-balik Pamona-Poso Kota untuk menjalin komunikasi dengan para pemuda muslim, melalui jalan yang naik-turun bukit. Kalau malam, penerangan seadanya.

Tapi Heidy kini sudah tak banyak bergiat dalam merajut perdamaian. Ia terakhir kali mendampingi keluarga terduga teroris korban penembakan pada 2012.

Selesai seleksi tahap kedua, jumlah kandidat sudah bisa dihitung dengan jari. Tapi ini baru separuh kerja. Saatnya untuk memverifikasi para calon di kandangnya. Selain melihat langsung karya mereka, Tempo mewawancarai para tokoh masyarakat, lembaga swadaya masyarakat lokal, dan mereka yang merasakan manfaat dari kerja para tokoh itu. Hasil verifikasi ini dibawa kembali ke ruang redaksi dan diperdebatkan lagi.


Akhirnya terpilihlah lima tokoh dan satu organisasi yang ditahbiskan sebagai para perekat Republik. Mereka adalah :
(1) Lian Gogali, penggerak pembauran di Poso.

(2) Sofyan Tan di Medan, pendiri sekolah multi-etnis.

(3) Kholiq Arif, Bupati Wonosobo, pelindung penganut Ahmadiyah dan Syiah di wilayahnya.  

(4) Anak Agung Ngurah Agung, tokoh yang andil memulihkan keretakan hubungan umat Hindu-Islam pasca-bom Bali.

(5) Tuan Guru Subki Sasaki yang mendobrak arus utama kaum konservatif di Lombok.

(6) Forum Silaturahmi Anak Bangsa, kumpulan anak-anak dari mereka yang dulu berseteru: mulai anak PKI, DI/TII sampai anak TNI berkumpul di sini.

Tim Tempo
http://www.tempo.co/read/news/2013/08/20/058505821/Begini-Cara-Lima-Tokoh-Perekat-Republik-DipilihAkhirnya terpilihlah lima tokoh dan satu organisasi yang ditahbiskan sebagai para perekat Republik.


TEMPO.CO, Jakarta - Belasan anggota jemaah Ahmadiyah berkumpul di Masjid Baitul Islam, 29 Juli lalu, ketika azan asar berkumandang. Masjid berkusen jendela warna hijau dan berukuran 6 x 10 meter itu berada di gigir Gunung Pakuwojo, Wonosobo, Jawa Tengah.

Para anggota jemaah adalah penduduk Dusun Wonosari, Desa Wonokampir, Kecamatan Watumalang, Wonosobo. Rumah mereka bergerombol di lereng gunung pada ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut. Sebanyak 30 keluarga penganut Ahmadiyah berdampingan dengan 47 keluarga lain.

Hanya 100 meter dari Masjid Baitul Islam, berdiri Masjid Baitul Huda milik warga Nahdlatul Ulama. Takmir Masjid Baitul Huda, Martoyo, mengatakan mereka hidup damai berdampingan dengan warga Ahmadiyah. Sebuah pemandangan yang semakin langka dijumpai di Tanah Air. (Baca: Bupati Kholiq, Perekat Syiah, Ahmadiyah, Minoritas)

Banyak kegiatan yang mereka kerjakan bersama, misalnya kerja bakti, dan tahlilan saat ada warga yang meninggal. Sebagai tokoh NU, Martoyo kerap berbagi peran dengan tokoh Ahmadiyah kampung Wonosari, Suyarno. Dalam acara perkawinan, Martoyo biasanya menjadi tukang seserahan, dan yang menerima seserahan adalah Suyarno, atau sebaliknya.

Sejumlah mubalig Ahmadiyah bahkan ikut menyusun kurikulum untuk pengajaran di Kabupaten Wonosobo. Dalam pertemuan tahunan, Ahmadiyah juga mengundang Ketua NU dan Ketua Ansor Wonosobo.

Ahmadiyah di Wonosobo sudah ada jejaknya pada 1924. Tokoh yang pertama kali menyebarkan ajaran ini adalah Sabitun. Dia merupakan mubalig pertama di Tanjungsari.

Syiah juga berkembang di Wonosobo. Jumlah penganutnya memang tidak sebanyak Ahmadiyah. Di sana ada sekitar 250 orang penganut Syiah, tersebar di Kecamatan Wonosobo, Garung, dan Kretek. Penasihat Pengurus Syiah Jawa Tengah, Mohammad Arman Djauhari, 62 tahun, adalah penganut Syiah pertama di Wonosobo.

Di lereng Gunung Sindoro, pada ketinggian 800 meter di atas permukaan laut, bersembunyi Dusun Binangun, Desa Mudal, Kecamatan Mojo Tengah. Di kampung sejuk ini tinggal penganut penanggalan Aboge (Alif Rebo Wage) Wonosobo.

Di sana ada 70 orang dari 628 penduduk yang menjadi penganut aliran kepercayaan itu. Hampir semua penganut penanggalan Aboge berhimpun pada penghayat kepercayaan Tunggul Sabdo Jati. Ini semacam perkumpulan penganut Kejawen.

Aboge Wonosobo punya tetua bernama Sarno Kusnandar. Pria 60 tahun ini mewarisi kepercayaan Aboge secara turun-temurun dari nenek moyangnya. “Saya tidak tahu kapan Aboge mulai ada di sini. Yang jelas, saya sejak lahir sudah menganut Aboge,” kata dia.

Penganut penanggalan Aboge hidup rukun dengan warga NU di kampung itu. Rumah Sarno persis di samping Masjid Al-Huda. Tadarus dan suara azan dari pengeras suara tidak mengganggu Sarno, yang merupakan Kepala Dusun Binangun. (Baca: Inilah Lima Tokoh yang Merekatkan Indonesia dan Begini Cara Lima Tokoh Perekat Republik Dipilih)
http://www.tempo.co/read/news/2013/08/21/078506150/Syiah-Ahmadiyah-dan-NU-Hidup-Damai-di-Wonosobo
SHINTA MAHARANI | SUNUDYANTORO

Senin, 12 Agustus 2013

Wonosobo, Ahad, 11-8-2013 pukul 11:00 WIB telah diadakan acara Pisah Sambut Romo Matheus Yatno Yuwono, MSC dan Romo Philipus Seno Dewantoro, MSC di Gereja Santo Paulus Wonosobo Kota.


Acara yang berjalan selama 2 jam itu, dihadiri puluhan pemeluk Katholik dan tamu undangan. Adapun tamu undangan itu diantaranya para suster Upakara, Kepala Kesbangpol Linmas (mewakili Bupati Wonosobo) Drs. Susilo, Ketua Forum Umat Beriman (Budayawan) Haqqi Al-Anshory, Walubi (Budha) Lukito, DPD Jemaat Muslim Ahmadiyah Sajid Ahmad Sutikno, dan sebagainya.

Momen itu terdiri dari susunan acara, doa lintas agama, sambutan-sambutan dan acara inti pisah-sambut romo lama dan romo baru. []

Selasa, 06 Agustus 2013

Wonosobo, Sabtu  06-02-2010 pukul 19.30 WIB lebih dari seribu orang yang berasal dari berbagai agama dan keimanan seperti NU, Muhammadiyah, Rifa’iyah, Katolik, Kristen, Hindu,  Budha, Konghucu, berbagai aliran kepercayaan serta berbagai elemen  lainnya seperti Tionghoa, kaum waria, eks-tapol, seniman, masyarakat lain yang termajinal, padati pendopo kabupaten Wonosobo dalam rangka “Tahlil dan Doa Bersama Lintas Agama  40 hari Wafatnya  KH. Abdurahman Wahid (Gus Dur)”.

Acara yang dihadiri Bupati Wonosobo beserta Ny. Aina Kholiq Arif itu berjalan dengan tertib dan sukses.

Tidak ketinggalan pula pihak Jemaat Ahmadiyah  berjumlah lebih 25 orang hadir pada undangan acara tersebut. Yaitu dari Wonosobo, Watumalang, Wadaslintang, serta Jemaat Klampok dan  Jemaat Madukara Banjarnegara.

Pada Banner/spanduk acara terpampang tulisan oleh panitia yang menarik banyak perhatian semua orang yang hadir termasuk Pers, “DOA LINTAS AGAMA MEMPERINGATI 40 HARI KEWAFATAN GUS DUR” (dengan foto Gus Dur) dan tertulis pula disponsori oleh GP Ansor Wonosobo, Forum Umat Beragama (FUB), Humas Wonosobo, Jemaat Ahmadiyah Wonosobo, Ikatan Hindu Wonosobo, Walubi/Budha dan Universitas Sains Alquran (Unsiq) Wonosobo. 

Acara yang dipandu koordinator FUB, Haqi Al-Anshary, S.Ag dan diselenggarakan Gerakan Pemuda (GP) Ansor Wonosobo ini, terdiri atas: pembacaan puisi; testimoni;  renungan; kesan-kesan para tokoh agama, aliran kepercayaan dan perwakilan elemen/komunitas masyarakat lainnya; cuplikan film aktifitas dan dagelan Gus dur dalam berbagai acara di televisi; doa bersama lintas agama serta penutupan.

Setelah beberapa acara ditampilkan, kemudian tiba waktunya sesi penyampaian kesan-kesan dari beberapa tokoh agama, aliran kepercayaan dan perwakilan elemen masyarakat Wonosobo lainnya.

Pada sesi kesan-kesan tersebut, perwakilan Jemaat Ahmadiyah kabupaten Wonosobo, mubaligh Basyarat Ahmad Sanusi  menyampaikan, bahwa “kesan kami: dahulu kita semua selalu ada dalam pikiran  Gus Dur, sekarang kita peringati 40 hari kewafatan beliau- keadaan menjadi terbalik, Gus Dur lah yang berada dalam pikiran kita. Mewakili Jemaat Ahmadiyah kabupaten Wonosobo, kami menyampaikan belasengkawa yang mendalam atas kepergian guru bangsa. Gagasan pluralisme yang beliau usung diantaranya: setiap orang mesti memiliki isi kepala yang berbeda tetapi bukan berarti orang yang memiliki pemikiran berbeda, kepalanya harus dihancurkan. Kami sampaikan ucapan terimakasih atas upaya beliau membela kaum minoritas termasuk Ahmadiyah. Awalnya kami menyangka karena pembelaan beliau terhadap Ahmadiyah, beliau akan menjadi orang terhina, namun justru beliau menjadi mulia karena membela orang yang teraniaya. Sekian terimakasih”.

GP Ansor Watumalang,  Ngakib al-Ghozali mengatakan, bahwa “acara seperti ini nampaknya belum pernah ada sejarahnya di suatu daerah selain Wonosobo, yaitu tahlilan dihadiri lintas agama dan iman. Hari ini kita duduk bersama meskipun ada perbedaan agama dan keyakinan, kita bersama-sama dengan komunitas GKJ/Kristen, Ahmadiyah, para kyai dan sebagainya dan inilah yang disebut pluralisme.

Lebih lanjut Ngakib menanggapi sosok Gus Dur, ia menyampaikan, bahwa  “karena hobi humornya itulah Gus Dur menjadi salah satu tokoh dunia yang unik. Bahkan dalam merespon berbagai konflik dan polimik yang ada sering dengan entengnya beliau menanggapi dengan humor.  Namun jangan salah, tanggapan Gus dur dengan humor dan ceplas-ceplos itu memiliki makna yang sangat dalam. Bahkan, terkadang kita tidak bisa mengikuti alur berpikir beliau”.

Sementara itu Bupati Wonosobo H.A Kholiq Arif mengatakan, sosok Gus Dur di masa hidupnya telah  banyak membawa perubahan yang sangat bermanfaat bagi bangsa Indonesia. Gus dur telah memperjuangkan pluralisme di Indonesia bahkan  ketika menjadi Presiden RI, Gus Dur telah menaikan gaji PNS, TNI dan Polri beberapa kali.  Gus dur diakui sebagai tokoh bagi semua kalangan.

Bupati juga memiliki kesan luar biasa terhadap Gus Dur. “Saat Gus Dur hadir dan menginap di Wonosobo, beliau memberikan perhatian tersendiri buat Wonosobo yakni meminta  untuk memperhatikan keberadaan Dieng. Beliau sempat menyuruh saya untuk memulai membuat buku sejarah tentang berdirinya Wonosobo.  Menurut beliau, kota ini sangat tua, bahkan dulu Dieng itu merupakan salah satu pusat peradaban di tanah Jawa. Sehingga beliau meminta kepada saya untuk memperhatikan keberadaan Dieng”,  kata bupati.

Selain itu, tokoh agama Konghucu sekaligus sebagai ketua Tionghoa Wonosobo, Hasan Akli mengatakan, bahwa “berbagai tokoh agama yang hadir merasa sangat kehilangan sosok Gus Dur. Karena di mata para tokoh tersebut. Gus Dur  mampu mengayomi  seluruh umat beragama yang ada di Indonesia dan bahkan di dunia.

Rais Syuria NU Wonosobo, Kyai Abdul Halim Ainul Yaqin Al-Hafidh mengatakan, bahwa “Gus Dur berani mengorbankan diri demi orang lain atau kelompok lain. Beliau menginginkan orang lain bisa beribadah dengan tenang dan aman”

Ketua GP Ansor Wonosobo, Amiruddin mengemukakan, bahwa Gus Dur layak menyandang gelar sebagai guru dan pahlawan bangsa. Gelar itu sebagai apresiasi atas kiprah Gus Dur dalam memperjuangkan pluralisme, demokrasi dan kemanusiaan.

Lebih lanjut Amiruddin menjelaskan, untuk mendukung pengangkatan Gus Dur sebagai pahlawan nasional sekaligus guru bangsa, pihaknya akan melayangkan surat kepada presiden RI, dengan bukti bubuhan tanda tangan ribuan warga Wonosobo, sebagai bahan pertimbangan, bahwa Gus Dur layak menyandang gelar tersebut.

Sebelum doa bersama lintas agama, dilakukan pemutaran film rekaman humor Gus Dur  yang diambil dari berbagai sumber di televisi.  “Setelah terjadinya gempa di Yogyakarta, ada seseorang yang tanya kepada saya, penyebabnya gempa disana itu apa. Orang ini aneh  kata saya, lha wong saya ini bukan ahli geologi kok ditanya begitu sama saya. Akhirnya ya saya jawab aja bahwa penyebabnya karena Nyi Roro Kidul (ratu pantai selatan) dipaksa pakai jilbab”, tutur Gus Dur diikuti gelak tawa hadirin yang ada dalam satu acara di televisi swasta saat masih hidup dan para tamu undangan di pendopo pun serempak ikut tertawa.

Acara kemudian diteruskan dengan pembacaan doa bersama berbagai tokoh agama dan keyakinan yang hadir. Dan diakhiri dengan berjabatan tangan para tokoh lintas agama dan bupati Wonosobo serta berfoto bersama.

Disela-sela berjabatan tangan, pihak Jemaat Ahmadiyah secara khusus menyampaikan kepada Bupati dan Kahumas Wonosobo tentang liputan obyek wisata di Wonosobo sudah ditayangkan 10 kali putaran oleh MTA/TV Muslim. Bupati dan Kahumas pun berkali-kali menyampaikan banyak  terima kasih[]



Tidak seperti Paus sebelumnya, pesan kali ini ditulisnya sendiri.
Sabtu, 3 Agustus 2013, 09:04 Denny Armandhanu

VIVAnews - Paus Fransiskus menyerukan toleransi dan rasa saling menghargai antar umat Kristen dan Islam. Dia mengatakan, pendidikan toleransi beragama haruslah ditekankan dalam pendidikan para pemuda.

Hal ini disampaikannya dalam pesan pribadinya untuk pemeluk agama Islam di seluruh dunia jelang Idul Fitri pekan depan, seperti dilansir CNN, Jumat 2 Agustus 2013. Biasanya, pesan itu ditulis oleh Vatikan dan tinggal dibacakan oleh Paus. Namun kali ini, Paus Francis sendiri yang menulisnya.

"Tahun ini, tahun pertama Kepausan saya, saya memutuskan untuk menulis pesan tradisional ini sendiri dan membacakannya pada kalian, kawan-kawan saya, sebagai bentuk penghargaan dan persahabatan untuk seluruh Muslim, terutama para pemuka agama," tulis Paus.

"Tahun ini, tema yang ingin saya angkat kepada Anda dan semua orang yang membaca pesan ini adalah satu hal yang jadi perhatian umat Muslim dan Kristiani: Mempromosikan Toleransi melalui Pendidikan," lanjutnya lagi.

Francis mengatakan bahwa pesan ini harus diterapkan semua orang, dengan menghargai kehidupan, martabat dan hak-hak setiap manusia.

"Terkait pendidikan pemuda Muslim dan Kristen, kita harus bisa membuat mereka untuk berpikir dan berbicara dengan penuh hormat soal agama lain dan para pengikutnya, dan menghindari dari mengejek atau merendahkan keyakinan dan ibadah pemeluk agama lain," kata Paus.

Tema yang sama sebelumnya disampaikan Francis pada kunjungannya ke Brasil untuk Hari Pemuda Dunia. Dalam pesannya kala itu, Paus menekankan perlunya dialog dengan para pemuka agama Islam.

"Kita perlu menekankan lagi pentingnya dialog dan kerja sama antara umat beragama, terutama Kristen dan Islam, dan perlunya kerja sama itu ditingkatkan," kata Paus dalam pidato yang juga diterjemahkan dalam bahasa Arab itu.[]





Wonosobo: Sabtu, 24/11/12 di Masjid Baitul Islam Jemaat Ahmadiyah, telah diadakan Bedah Vidio (VCD) Dakwah Islam Global oleh Jemaat Ahmadiyah selama 4 jam. Acara yang bersejarah ini, terselenggara atas kerjasama Jemaat Ahmadiyah kabupaten Wonosobo dengan perhimpunan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) komesariat Wonosobo.

Hadir dalam kesempatan tersebut lebih 125 orang terdiri dari para mahasiswa universitas Sains Alquran (UNSIQ), PMII, GP Ansor, para ustadz NU, para guru Madin, kaum sepuh Ahmadiyah (Ansharullah), zaim Ansharullah (Agus Dwi Jatmiko), Mubwil Jemaat Ahmadiyah Jawa Tengah Bagian Barat (Mln. Yayan Mulyana) dan para mubaligh lainnya, warga Jemaat Ahmadiyah berasal dari beberapa daerah di Wonosobo, aparat desa dan warga masyarakat setempat.

Adapun susunan acara yang dibacakan moderator adalah  tilawatil quran, doa pembukaan; sambutan-sambutan: pertama DPD Jemaat Ahmadiyah (Mln. Nurhadi), kedua ketua PMII (Sulistiyo) dan ketiga perwakilan PMII cabang; Ishoma; kemudian pengantar Bedah Vidio Dakwah Islam Global (Mln. Yayan Mulyana), tayangan Vidio Dakwah Islam Global, sesi tanya-jawab, penyerahan cendera mata dan doa penutup (Muhammad Suripto HS, AMd (da’i).

Bapak Suyarno selaku ketua Jemaat dan ketua Panitia acara mengatakan, bahwa Jemaat yang dipimpinnya merasa senang diselenggarakannya acara semacam ini di tempatnya, karena selain sebagai sarana silaturahmi, sebagai sikap keterbukaan, membangun sikap toleran, juga sangat bermanfaat untuk menambah khazanah pengetahuan (informasi) akan perkembangan Islam diseluruh dunia. .Ny. Tumpi Jumiyanto sebagai ketua Lajnah Imaillah (wanita Ahmadi) dan ketua tim konsumsi juga merasakan banyak keberkatan dengan acara seperti ini.[]

Wonosobo, lagi-lagi telah diadakan acara merawat kerukunan umat beragama dan berkeyakinan di kota berudara dingin ini. Yaitu, "Berbuka Bersama Ibu Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid dan tokoh lintas Iman".

Seperti tahun-tahun sebelumnya, Muslim Ahmadiyah  selalu ambil bagian untuk hadir dalam acara buka bersama itu. Dari Muslim Ahmadiyah terdiri dari para mubaligh, Khudamul Ahmadiyah (pemuda Ahmadi ), Ansharullah (kaum sepuh Ahmadi), Lajnah Imaillah (kaum ibu Ahmadiyah), Nasiratul Ahmadiyah dan Banatul Ahmadiyah (anak-anak perempuan Ahmadi), juga Athfalul Ahmadiyah (anak-anak pria Ahmadi). Mubaligh wilayah Jateng Tengah Mln. Nurhadi dan pengurus Daerah Lajnah Imaillah Qonita Nurhadi didampingi Ema Rahmatunnisa juga hadir dalam kesempatan itu.

 Acara penuh persaudaraan Sabtu sore 20/7/2013 itu bertempat di Nasmoco, Tawangsari kecamatan Selomerto.

Selain dari Ahmadiyah, para tokoh agama dan keyakinan hadir memenuhi aula Nasmoco, diantaranya NU (GP Ansor, Muslimat, Fatayat dll), Syiah (Ijabi), para suster Yayasan Dena Upakara Wonosobo, Kristen, Katolik . Para pejabat pemerintahan, kepolisian, mahasiswa, santriwan/santriwati bahkan murid-murid TK dan Play group, kaum buruh, tukang ojek, tukang jamu gendong dll dari bagian masyarakat yang terpinggirkan.

Acara yang dipandu apik oleh Haqqi Al-Anshory (koordinator FUB Wonosobo) ini, beberapa kali menyebutkan bahwa acara ini dihadiri oleh berbagai kalangan termasuk Ahmadiyah, Syiah dan non-Muslim.,hadirin pun bertepuk tangan menyambutnya.

Para Suster Katholik, Lajnah Imaillah, & Ahmadiyah Bersama Ibu Sinta
Kuis berhadiah untuk para peserta, penampilan bernyanyi anak-anak TK dan PAUD menjadi suguhan menarik lainnya di kesempatan itu.

Suasana semakin menarik ketika Ibu Sinta Nuriyah hadir di tengah-tengah hadirin, beliau pun kemudian mengajak bincang-bincang santai dari hati ke hati. Setelah itu, ibu Sinta menyampaikan berbagai nasihat seputar puasa dan pendidikan.

Tentang puasa, ibu Sinta menyampaikan bahwa "diantara tujuan puasa itu adalah melatih diri untuk bisa bersikap jujur". Ibu Sinta juga menjelaskan tentang perintah Al Quran mengenai Puasa.
Ibu Sinta lalu mengungkapkan perasaannya, bahwa dirinya sangat senang hadir setiap tahun di Wonosobo untuk berbuka bersama seluruh kalangan masyarakat di Wonosobo.

Pada kesempatan tersebut juga diserahkan bantuan kepada Pondok pesantren anak-anak dan PAUD “Akar Rumput” yang merupakan sekolah Gratis untuk anak-anak kurang mampu. 

Setelah bedug maghrib terdengar dan suara adzan dikumandangkan para peserta menuju tempat disediakan menu berbuka puasa. Secara spesial ibu Sinta mengajak berbuka satu ruangan dengan ibu-ibu Lajnah Imaillah, para suster, tokoh Syiah dll.

Perwakilan Muslim Ahmadiyah saat itu pun memperkenalkan diri dan ibu Sinta sangat senang dan menyambut dengan ramah. Sebelum pamit, perwakilan Lajnah Imaillah menyerahkan bingkisan oleh-oleh khas Wonosobo, kemudian  foto bersama dan pulang.

Acara pun selesai dengan baik dan penuh keakraban serta keharmonisan. Ibu Sinta dan rombongan pun kembali ke Pendopo.[ER]

Minggu, 04 Agustus 2013


Saya mengerti setiap denominasi dari setiap agama menegaskan bahwa merekalah yang menjalankan ajaran yang paling otentik dari pendirinya. Tetapi tidak seperti fundamentalis, kaum liberal cenderung tidak mengklaim bahwa orang lain adalah salah. Sekte Islam Ahmadiyah termasuk dalam jenis ini. Karena mereka terbuka untuk dunia, tanggung jawab manusiawi untuk saling memelihara satu sama lain tampaknya tidak kalah penting bagi anggota Ahmadiyah dari doa dan ibadah.

Dalam versi Yahudi liberal saya, ini sering digambarkan dengan istilah dalam bahasa Ibrani sebagai tikkun olam (memperbaiki dunia). Hal ini menekankan aksi sosial sebagai kewajiban agama tertinggi, dan biasanya memiliki lebih banyak persamaan dengan gerakan yang sama di agama-agama lain dan di dunia sekuler dibandingkan dengan eksponen konservatif dalam tradisi saya sendiri.

Meskipun Ahmadiyah dianiaya di Negara-negara Islam dan dijauhi oleh umat Islam lainnya dimana-mana, mereka berkembang di Kanada dan memberikan kontribusi kepada masyarakat dengan melakukan pekerjaan penting disini dan di tempat lain di dunia.

Salah satu program yang paling sukses adalah jangkauan Humanity First, yang memberikan penyelamatan dan bantuan kepada korban perang dan bencana alam di berbagai tempat. Baru-baru ini, ratusan relawannya aktif dalam membantu korban bencana di negara bagian Amerika Serikat. Selama kunjungannya ke New York setelah Badai Sandy, Presiden Barack Obama menyampaikan ucapan terimakasih secara khusus pada Kanada atas bantuan mereka.

Selain masalah global, Humanity First berkomitmen untuk melayani kebutuhan lokal. Misalnya, mereka menjalankan bank makanan (foof bank) yang memberikan kebutuhan dasar kepada orang-orang di seluruh Kanada. Bertepatan dengan musim liburan ini, para relawan akan melayani makan pizza, hari ini dan besok, untuk para tunawisma di pusat kota Toronto.

Ketua Humanity First sekaligus Amir Jamaah Ahmadiyah Kanada, Dr. Aslam Daud, mengatakan kepada saya bahwa denominasi mereka tak pernah berusaha untuk memasukkan orang-orang atau para penerima bantuan pada Islam, karena teologi cenderung memecah belah. Sebagai hasilnya para relawan bisa bekerja sama dengan baik untuk kebaikan orang-orang yang kurang beruntung dimanapun berada.

Dalam pertemuan saya dengan Dr Daud ia mengutip beberapa ajaran dari tradisi Islamnya yang beresonansi dengan ucapan yang sama dalam hati saya. Tetapi sebaliknya kita selalu berusaha secara sistemis membandingkan teologi dari perbedaan-perbedaan mendasar yang bisa berakhir dalam perselihan bahkan lebih buruk.

Itulah mengapa aksi sosial adalah hal terbaik untuk kerjasama antar agama. Alih-alih membandingkan doktrin, orang lain dipanggil untuk terlibat dalam kegiatan bersama untuk kebaikan orang dari semua agama dan yang tidak beragama. Dengan bekerja sama untuk kemanusiaan dan bukan berdebat tentang keilahian, tempat agama dapat ditingkatkan dalam masyarakat kita.

Pihak lain tidak setuju, seringkali keras. Mereka bersikeras bahwa pendekatan semacam ini tidak lebih dari sekularisme yang menyamar. Kaum tradisionalis mengeluh bahwa kaum liberal melemahkan keimanan yang mereka anut menjadi tidak bermakna. Di sisi lain, sekularis mungkin menganggap hal ini hanya sebagai bentuk pekerjaan misionaris. Itulah sebabnya mengapa liberalisme agama sering dalam bahaya jatuh antara dua titik.

Dan itulah mengapa Muslim tradisional menghindar dari Ahmadiyah, Kristen fundamentalis tidak punya waktu untuk agama modernis dan Ortodoks Yahudi menjaga jarak dari kaum liberal. Ironisnya, orang-orang yang tidak beragama juga sering memusuhi: mereka cenderung ingin agama menjadi kaku untuk menentangnya dengan lebih mudah dan memastikan bahwa mereka tidak pernah teruji olehnya.

Sebagai seorang Yahudi liberal saya sangat terkesan dengan upaya Humanity First yang justru karena itu berakar pada agama. Kegiatan mengagumkan yang mengkonfirmasi keyakinan saya bahwa meskipun serangan dari sayap kanan masing-masing dan sesekali ejekan oleh lawan dogmatis agama, kita saling membutuhkan dan dunia membutuhkan kita untuk bersaksi ke hadirat Allah sebagai manifestasi dalam melayani ciptaan Tuhan.

Ditulis oleh Dow Marmur adalah seorang rabbi emeritus di  Holy Blossom Temple, Toronto. Kolom nya muncul setiap minggu []

Sumber: http://www.thestar.com;dikutip dari: Ahmadiyya Times

Diterjemahkan oleh: Jusman; See more at: http://1ahmadiyah.blogspot.com/2012/12/aksi-sosial-kerjasama-antar-agama.html#sthash.3SVPFf3O.dpuf

Selasa, 11 Desember 2012

Selasa, 11 Desember 2012 | 14:20 WIB 6.000 Warga Ahmadiyah Hidup Tenang di Wonosobo Besar Kecil Normal TEMPO.CO, Jakarta - Gesekan antar-umat beragama rawan terjadi di sejumlah wilayah di Tanah Air. Di Nusa Tenggara Barat dan Bogor, misalnya, sejumlah penganut Ahmadiyah diusir dari wilayah mereka. Begitu pula yang terjadi di Sampang, Madura, ketika penganut Sunni mengusir warga Syiah. Namun di Wonosobo, Jawa Tengah, masyarakat yang memeluk berbagai macam keyakinan bisa hidup berdampingan. Bupati Wonosobo, Abdul Kholiq Arif, menyilakan semua umat beragama untuk melakukan ibadah menurut keyakinannya. “Nabi saja menghormati kaum Yahudi. Saya pun harus berperilaku sewajarnya terhadap umat yang tak seiman,” kata Bupati Kholiq yang terpilih menjadi kepala daerah pilihan Tempo tahun 2012. Menurut dia, sebagai warga negara, kelompok minoritas sama-sama membayar pajak. Karena itu, ia menegaskan pemerintah bertanggung jawab dalam memberikan rasa aman bagi semua warga pada saat mereka beribadah, tak terkecuali penganut Ahmadiyah. Di Wonosobo, kota yang membentang di lereng Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro, terdapat setidaknya 6.000 penganut Ahmadiyah. Mubaligh jemaah Ahmadiyah, Sajid Ahmad Sutikno, mengatakan ketegasan Bupati membuat mereka aman. “Kami tidak punya masalah di sini,” kata dia. Begitu pula dengan penganut Konghucu, Tao, dan Buddha. Mereka merayakan hari besar agama tanpa rasa takut. Selain memberikan rasa aman pada saat menjalankan ibadah, pemerintah kabupaten memudahkan umat beragama yang hendak mendirikan tempat ibadah. Tentunya dengan melibatkan Forum Kerukunan Umat Beragama, wadah dialog antar-iman kota itu. Warga suku Tionghoa, Imam Darmadi, mengatakan, toleransi beragama di kotanya tinggi. “Sejumlah kiai dan habib kerap menghadiri undangan kami di kelenteng ini,” kata Imam. Membangun kerukunan antar-umat beragama tentu bukan pekerjaan mudah. Bupati Kholiq menceritakan selama awal kepemimpinannya di 2004, berbagai masalah sosial muncul ke permukaan. Mulai dari tawuran antar-kampung, kerusuhan, hingga angka kriminalitas cukup tinggi pada hingga 2010. Pada periode ini, kebakaran hebat juga menghanguskan pasar induk Wonosobo. Pencuri dibakar, perkelahian terjadi, lalu toko-toko tutup lebih awal. Untuk mengatasi persoalan kemanan ini, Sang Bupati merangkul para preman. “Mereka tidak boleh dibuang, kecuali melanggar hak orang lain,” ujarnya. Kholiq punya cara unik. Ia melibatkan para preman dalam kegiatan keagaman juga tradisi macapatan-tembang tradisional Jawa. Ia juga menggandeng Komando Distrik Militer untuk memberikan terapi kepada para jawara itu.